SERABINEWS.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Kremlin mengungkapkan bahwa Amerika Serikat menolak proposal Rusia untuk mengambil alih seluruh stok uranium yang diperkaya milik Iran.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, Rabu mengatakan Rusia sebenarnya siap menampung uranium Iran di wilayahnya sebagai langkah konkret untuk membantu meredakan konflik dan membuka jalan diplomasi.
“Rusia siap menerima uranium yang telah diperkaya milik Iran. Ini solusi yang baik. Namun, sayangnya pihak Amerika menolak usulan tersebut,” ujar Peskov.
Gagasan ini bukan hal baru. Rusia pertama kali mengajukan proposal serupa pada Juni tahun lalu, namun tak pernah terealisasi.
Upaya itu kembali diangkat Moskow pekan ini di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan kekhawatiran global atas program nuklir Iran.
Baca juga: Berperilaku Mengkhawatirkan, Mantan Dokter Gedung Putih Nilai Trump Perlu Evaluasi Medis
Media AS sebelumnya melaporkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump telah mencoret opsi tersebut dari meja perundingan.
Sementara itu, Teheran menegaskan sikapnya masih bergantung pada kemungkinan tercapainya kesepakatan menyeluruh dengan Washington, termasuk terkait program nuklirnya.
Amerika Serikat sendiri kerap menjadikan stok uranium Iran serta potensi pengembangannya menjadi senjata nuklir, sebagai alasan utama tekanan dan serangan terhadap Iran.
Di sisi lain, seorang wakil menteri luar negeri Rusia tahun lalu menyatakan Moskow bersedia memindahkan uranium tersebut dan mengonversinya menjadi bahan bakar reaktor sipil demi memfasilitasi negosiasi.
Penolakan Washington atas tawaran Moskow ini menambah panjang daftar kebuntuan diplomatik, sekaligus mempertegas rapuhnya upaya meredakan konflik yang terus membayangi stabilitas Timur Tengah.
Uranium yang diperkaya adalah uranium yang kadar isotop uranium-235 (U-235) di dalamnya telah ditingkatkan dari kondisi alaminya agar dapat digunakan untuk keperluan tertentu.
Uranium alami yang ditambang dari bumi sebagian besar terdiri dari uranium-238, sekitar 99,3 persen, sementara uranium-235 yang mampu memicu reaksi nuklir hanya sekitar 0,7 persen. Karena jumlah ini terlalu kecil untuk banyak kebutuhan, terutama di bidang energi dan teknologi nuklir, maka dilakukan proses pengayaan untuk meningkatkan kandungan U-235.
Tingkat pengayaan uranium berbeda-beda tergantung tujuan penggunaannya. Untuk keperluan sipil seperti pembangkit listrik tenaga nuklir, uranium biasanya diperkaya hingga sekitar 3 sampai 5 persen U-235.
Pada tingkat yang lebih tinggi, sekitar 20 hingga 60 persen, uranium dapat digunakan untuk reaktor riset dan sudah dianggap sensitif dalam pengawasan internasional. Jika kadar U-235 mencapai 90 persen atau lebih, uranium tersebut dikategorikan sebagai uranium pengayaan tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan senjata nuklir.
Isu uranium yang diperkaya sering menjadi perhatian politik dan keamanan global karena teknologi yang digunakan untuk pengayaan uranium sipil pada dasarnya dapat dialihkan untuk tujuan militer.
Inilah sebabnya program nuklir sejumlah negara, termasuk Iran, diawasi secara ketat oleh badan internasional seperti Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Secara singkat, uranium yang diperkaya adalah uranium yang telah dimodifikasi komposisinya agar mampu menghasilkan energi nuklir atau, pada tingkat tertentu, berpotensi digunakan sebagai senjata.(*)