TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah upaya besar pemerintah menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) muncul sebagai salah satu kebijakan paling ambisius.
Nilainya tidak main-main anggaran yang digelontorkan bahkan mencapai skala yang jarang terlihat dalam program sosial sehari-hari.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, mengungkap fakta mencengangkan tersebut dalam sebuah forum resmi di Kantor Kemenko PM.
"Pemberdayaan masyarakat mau optimal, harus ada biaya dan ini adalah biayanya, konkret, wujud setiap hari hampir Rp 1 triliun pemerintah menggelontorkan uang kepada masyarakat dari Aceh sampai Papua," ujar Sony.
Angka ini bukan sekadar statistik ia mencerminkan skala intervensi negara yang menyentuh hampir seluruh wilayah Indonesia, dari desa terpencil hingga pusat kota.
Baca juga: DPRD Jateng Desak MBG Dimasak Langsung di Sekolah, Sebut Sistem saat Ini Berisiko Bikin Makanan Basi
Menurut Sony, kekuatan utama dari program MBG terletak pada distribusi manfaatnya yang langsung menyasar lapisan masyarakat paling bawah.
Tidak berhenti di tingkat birokrasi, aliran dana disebut benar-benar sampai ke akar rumput.
"Uang diturunkan oleh pemerintah langsung mengalir ke grassroot. Dari Aceh sampai Papua, dari desa sampai metropolitan semua menyerap uang ini," ucapnya.
Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa program MBG dirancang bukan hanya sebagai bantuan konsumsi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi mikro yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat secara langsung.
Di balik distribusi jutaan porsi makanan setiap hari, terdapat kekuatan besar yang bekerja di lapangan. Selama satu tahun pelaksanaan, program ini diklaim telah melibatkan sekitar 1,8 juta relawan.
Mereka bukan sekadar pelaksana teknis, tetapi juga penerima manfaat ekonomi dari program tersebut.
"Maka uang mengalir kepada saudara-saudara kita yang berada pada kelompok kemiskinan tersebut, Rp 117 miliar per hari (insentif relawan), diserap oleh 1,8 juta jiwa," ucapnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa MBG tidak hanya memberi makan, tetapi juga memberikan penghasilan bagi jutaan orang yang terlibat langsung dalam operasionalnya.
Baca juga: BGN Bongkar Fakta Sebenarnya di Balik Isu Alat Makan & Laptop MBG, Dadan Hindayana Merasa Difitnah
Dampak program ini tidak berhenti pada relawan. Sony menjelaskan bahwa sektor perdagangan bahan pangan juga turut merasakan efek ekonomi yang signifikan.
"Rp 600 miliar lebih diserap oleh siapa? Oleh pedagang beras, pedagang ayam, pedagang telur, pedagang daging, pedagang sayur, pedagang buah," ucapnya.
Artinya, setiap rupiah yang digelontorkan tidak hanya berhenti pada konsumsi akhir, tetapi berputar dalam rantai pasok yang lebih luas menghidupkan pasar tradisional, petani, hingga distributor bahan pangan.
Di tengah besarnya anggaran yang terlibat, muncul pula kritik dan kecurigaan dari sebagian pihak yang menilai dana MBG justru mengalir ke kelompok elite.
Menanggapi hal tersebut, Sony dengan tegas membantah.
"Nah saya ingin menjawab ingin mematahkan adanya pendapat-pendapat bahwa MBG ngalir ke elite, iya betul, ke ekonomi sulit," ucapnya.
Pernyataan ini menjadi garis tegas bahwa program MBG, menurut pemerintah, dirancang untuk memperkuat ekonomi kelompok rentan bukan memperkaya segelintir pihak.
Baca juga: Dadan Hindayana Kecewa Progres Besar MBG Dihancurkan Konten Menu Jelek: Yang Bagus Malah Tidak Viral
Jika dilihat secara utuh, MBG bukan sekadar program distribusi makanan gratis. Ia adalah instrumen kebijakan yang menggabungkan aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi dalam satu paket besar.
Dengan anggaran hampir Rp1 triliun per hari, program ini menjadi salah satu eksperimen kebijakan sosial terbesar di Indonesia saat ini.
Dampaknya pun tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga dari seberapa jauh ia mampu menggerakkan ekonomi rakyat dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat.
Di balik angka fantastis itu, tersimpan harapan besar bahwa intervensi masif ini benar-benar mampu menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
***
(TribunTrends/Kompas)