TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Mahasiswa jurusan Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Muhamad Yarvish Nur Sofyan, menilai lirik lagu "Erika" yang kini menjadi polemik dinilai kurang pantas, khususnya bagi perempuan.
Yarvish mengaku baru mengetahui keberadaan lagu tersebut setelah kasusnya mencuat.
Mahasiswa semester dua tersebut menyebut, lagu “Erika” sebenarnya sudah lama beredar dan video yang viral belakangan ini merupakan rekaman lama.
“Saya juga baru tahu lagu Erika ini dari kasus ini. Katanya sih videonya dari tahun 2020. Sebelumnya enggak tahu kalau ada lagu ini,” katanya, kepada Tribunjabar.id, Kamis (16/4/2026).
Saat pertama kali mendengar liriknya, ia mengaku terkejut.
“Jujur kaget sih, karena ya liriknya seperti itu,” ucapnya.
Baca juga: Gaduh Lagu Erika Mahasiswa Tambang ITB Diduga Lecehkan Perempuan, JPPI: Ini Bukan Sekadar Candaan!
Ia juga menilai polemik ini berpotensi mencoreng nama baik kampus, mengingat lagu tersebut dikaitkan dengan institusi.
“Kalau dibilang mencoreng nama kampus, mungkin, iya. Karena labelnya dari ITB dan liriknya terkesan vulgar. Sementara kampus kan institusi akademik,” katanya.
Yarvish menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk pelecehan seksual.
Ia berharap kejadian ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi mahasiswa dalam berkarya.
“Saya pribadi menolak keras kekerasan seksual. Harapannya ke depan, kalau ingin berkarya ya berkarya dengan baik, sesuai norma sosial dan tidak merugikan pihak mana pun,” ujarnya.
Warga asal Riung Bandung, Kota Bandung ini juga mendorong pihak kampus, khususnya satuan tugas (satgas) pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, agar lebih aktif dan peka terhadap isu-isu serupa.
“Mungkin satgas bisa lebih aware lagi, karena ini hal yang krusial dan jangan sampai dianggap sepele,” ujarnya.
Menanggapi fenomena yang dianggap sebagai “candaan” di kalangan laki-laki, Yarvish menilai perlu adanya batasan agar tidak merugikan pihak lain atau menimbulkan rasa tidak aman.
“Bercanda itu boleh, tapi harus ada batasan. Jangan sampai menyudutkan pihak lain. Karena bisa bikin perempuan merasa tidak aman, dan seolah-olah semua laki-laki seperti itu, padahal tidak,” jelasnya.
Ia pun mengaku akan mengambil sikap tegas jika menemukan hal serupa di lingkungannya.
“Kalau di tongkrongan saya, mungkin akan saya tegur. Kalau masih dilakukan juga, saya pilih menjauh, di-cut off saja,” ucapnya. (*)