Klaim Amerika Dipertanyakan, Data Maritim Ungkap Kapal Masih Tembus Blokade AS di Selat Hormuz Iran
Christoper Desmawangga April 17, 2026 10:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Klaim Amerika Serikat (AS) bahwa tidak ada kapal yang berhasil menembus blokade di Selat Hormuz mulai dipertanyakan, setelah data pelacakan maritim independen menunjukkan sejumlah kapal tetap melintas di jalur vital tersebut.

Perbedaan informasi ini mencerminkan situasi di lapangan yang masih penuh ketidakpastian di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Melalui United States Central Command (CENTCOM), militer AS menyatakan bahwa blokade yang diberlakukan sejak Senin (13/4/2026) berjalan efektif.

Baca juga: AS Tegaskan Blokade Pelabuhan Iran Berlanjut, Diplomasi Masih Jadi Opsi di Tengah Ketegangan

“Sepuluh kapal telah diputarbalikkan dan nol kapal yang berhasil menembus sejak awal blokade,” demikian pernyataan resmi militer AS, dilansir dari Kompas.com.

Dalam kebijakan tersebut, kapal-kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran akan dicegat dan dipaksa berbalik arah.

Namun, kapal yang tidak memiliki keterkaitan dengan Iran disebut masih diperbolehkan melintas.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi Presiden Donald Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran, termasuk dengan membatasi ekspor minyak serta menghentikan pungutan yang dikenakan Iran terhadap kapal yang melintas.

Baca juga: Alasan Inggris Tegas Menolak Ikut Perang Iran Meski Diancam Donald Trump

Meski demikian, laporan dari lembaga pelacakan maritim justru menunjukkan adanya kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz.

Mengutip data dari Kpler yang dilaporkan AFP, setidaknya tiga kapal yang berangkat dari pelabuhan Iran tercatat berhasil melewati selat tersebut setelah blokade diberlakukan.

Salah satunya adalah kapal kargo berbendera Liberia, Christianna, yang sebelumnya membongkar sekitar 74.000 ton jagung di Pelabuhan Bandar Imam Khomeini.

Kapal ini terdeteksi melintas di sekitar Pulau Larak pada Senin sore.

Baca juga: Perang Iran vs Amerika Makin Panas, Trump Kirim Ribuan Pasukan Tambahan, Gencatan Senjata Berakhir?

Selain itu, kapal tanker berbendera Komoro, Elpis, juga dilaporkan berhasil melintas setelah memuat sekitar 31.000 ton metanol dari Pelabuhan Bushehr.

Kapal lain seperti Argo Maris turut tercatat melintasi kawasan tersebut, bersama sejumlah kapal lain yang memiliki keterkaitan dengan Iran.

Namun, tidak semua kapal berhasil melanjutkan perjalanan.

Beberapa di antaranya justru berbalik arah setelah keluar dari selat, termasuk kapal tanker China Rich Starry yang sempat menuju Oman sebelum kembali.

Baca juga: Perang Iran vs Amerika Makin Panas, Trump Kirim Ribuan Pasukan Tambahan, Gencatan Senjata Berakhir?

Kapal Christianna sendiri juga dilaporkan berbalik arah di lepas pantai Oman, sehingga tujuan akhirnya belum dapat dipastikan.

Perbedaan antara klaim militer AS dan data pelacakan ini juga dipengaruhi oleh kondisi teknis di lapangan.

Para analis maritim menyebut bahwa sinyal pelacakan kapal di kawasan Selat Hormuz kerap mengalami gangguan atau bahkan manipulasi di tengah konflik.

Situasi ini membuat pemantauan pergerakan kapal menjadi tidak sepenuhnya akurat, sehingga membuka kemungkinan adanya perbedaan interpretasi data.

Baca juga: Di Tengah Gencatan Senjata Iran, Trump Tambah 10.000 Tentara AS, Ada Apa?

Di satu sisi, AS mungkin menghitung kapal yang berhasil keluar sepenuhnya dari pengawasan sebagai “lolos”, sementara data pelacakan mencatat kapal yang sempat melintas sebagai keberhasilan menembus blokade.

Di pihak lain, Iran mengecam keras kebijakan blokade yang diberlakukan AS.

Teheran menyebut langkah tersebut sebagai bentuk “pembajakan” terhadap aktivitas pelayaran internasional.

Iran juga mengancam akan melakukan pembalasan dengan menargetkan jalur pelayaran di kawasan Teluk Persia, Teluk Oman, hingga Laut Merah.

Baca juga: Di Tengah Gencatan Senjata Iran, Trump Tambah 10.000 Tentara AS, Ada Apa?

Ancaman ini meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi global.

Situasi di Selat Hormuz memanas setelah Iran sebelumnya menutup jalur tersebut menyusul serangan militer AS dan Israel pada 28 Februari 2026.

Sebagai respons atas kegagalan perundingan damai, AS kemudian mengumumkan blokade terhadap Iran pada Minggu (12/4/2026).

Militer AS mengklaim bahwa dalam 24 jam pertama penerapan blokade, mereka telah menghentikan enam kapal yang hendak keluar dari pelabuhan Iran.

Baca juga: Analis Singgung Standar Ganda Nuklir, Iran Diawasi Ketat, Israel Diduga Punya 200 Hulu Ledak

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa efektivitas blokade tersebut masih diperdebatkan.

Kerumitan Blokade Selat Hormuz

Militer Amerika Serikat (AS) secara intensif mengerahkan lebih dari 12 kapal perang untuk melakukan blokade Selat Hormuz.

Kapal-kapal tersebut bersiaga di Teluk Oman, mencegat kapal-kapal yang berasal dan menuju pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.

Baca juga: Analis Singgung Standar Ganda Nuklir, Iran Diawasi Ketat, Israel Diduga Punya 200 Hulu Ledak

Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine memberikan penjelasan kepada awak media mengenai mekanisme operasi tersebut, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Rabu (15/4/2026).

Caine menjelaskan, fokus utama pengawasan terletak pada kapal-kapal yang telah mengunjungi pelabuhan Iran.  

Jika kapal-kapal tersebut mencoba melintasi garis imajiner yang membentang dari pantai Oman hingga perbatasan Iran-Pakistan, kapal perang AS akan segera mendekat dan memberikan peringatan melalui radio.

Dalam peringatan tersebut, pihak AS menegaskan bahwa kapal yang nekat menerobos blokade akan dihadapi dengan tindakan penggeledahan dan penyitaan.

Baca juga: Perang Iran vs Amerika Makin Panas, Trump Kirim Ribuan Pasukan Tambahan, Gencatan Senjata Berakhir?

"Para nakhoda kapal itu benar-benar bisa melihat, merasakan, dan menyentuh tekanan di sekitar mereka," ujar Caine.

Sejauh ini, lanjut Caine, tekanan psikologis dan kehadiran fisik armada AS terbukti efektif.  

Caine mencatat sudah ada 13 kapal yang memilih untuk mematuhi peringatan dan memutar balik.  

Hingga saat ini, militer AS belum merasa perlu untuk melakukan penggeledahan fisik secara langsung di atas kapal mana pun.

Baca juga: Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz: Arus Kapal Mulai Pulih, Diplomasi Kembali Menguat

Dalam operasi blokade ini, kapal perusak berpeluru kendali (rudal) menjadi ujung tombak.  

Caine menjuluki kapal-kapal tersebut sebagai "mobil sport" milik Angkatan Laut karena kemampuan manuvernya yang lincah di tengah perairan yang sangat padat.

Meski demikian, dia mengakui bahwa mengoperasikan kapal perang di wilayah tersebut bukanlah perkara mudah.  

Caine mengibaratkan kerumitan manuver di Teluk Oman dengan situasi yang sangat lazim ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

"Ini seperti mengendarai mobil sport melewati tempat parkir supermarket pada akhir pekan saat gajian, dengan ribuan anak-anak berada di tempat parkir itu, sementara Anda berusaha bermanuver di sana untuk mencapai kapal yang mencoba menerobos blokade tersebut," ujar Caine. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.