TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon.
Kesepakatan ini disebut tercapai setelah “percakapan yang sangat baik” dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Gencatan senjata dijadwalkan mulai berlaku tengah malam waktu setempat untuk menghentikan pertempuran intens yang telah berlangsung lebih dari tujuh minggu.
The Guardian melaporkan langkah ini bertujuan meredam serangan udara Israel di Lebanon selatan serta menghentikan serangan roket balasan dari Hezbollah.
Konflik tersebut telah menewaskan sedikitnya 2.000 orang dan melukai ribuan lainnya, serta memaksa lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi.
Serangan juga menghancurkan infrastruktur sipil, termasuk rumah, fasilitas kesehatan, hingga jalur logistik utama di wilayah selatan.
Netanyahu menyebut kesepakatan ini sebagai peluang menuju “perdamaian bersejarah”.
“Kita memiliki kesempatan untuk membuat perjanjian perdamaian bersejarah dengan Lebanon,” ujarnya.
Namun, Israel menetapkan pelucutan senjata total Hezbollah sebagai syarat utama.
Selain itu, Israel juga akan mempertahankan zona keamanan sekitar 10 kilometer di Lebanon selatan sebagai buffer keamanan.
Israel menegaskan militernya siap kembali melakukan operasi jika ancaman tetap ada.
Di sisi lain, Hezbollah menyatakan akan mematuhi gencatan senjata selama Israel menghentikan seluruh serangan.
Sikap saling bersyarat ini menunjukkan kesepakatan masih rapuh dan berisiko runtuh sewaktu-waktu.
Baca juga: Trump Umumkan Israel dan Lebanon Sepakati Gencatan Senjata 10 Hari
Sebagai tindak lanjut, Netanyahu dijadwalkan bertemu dengan Aoun di Washington pekan depan.
Jika terlaksana, ini akan menjadi pertemuan tingkat tinggi pertama antara Israel dan Lebanon dalam beberapa dekade.
Agenda pembahasan mencakup batas wilayah, penarikan pasukan, hingga mekanisme keamanan jangka panjang.
Pertemuan ini dipandang sebagai peluang langka menuju kesepakatan damai permanen.
Kesepakatan ini tidak terlepas dari dinamika konflik yang lebih luas antara AS dan Iran.
The Guardian melaporkan gencatan senjata ini berkaitan dengan upaya mediasi yang melibatkan Pakistan untuk menjembatani negosiasi Washington dan Teheran.
Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir bahkan melakukan kunjungan ke Teheran untuk mendorong kemajuan diplomasi.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyambut kesepakatan ini dan menyebutnya sebagai langkah penting untuk mengurangi korban jiwa.
Baca juga: Netanyahu Amini Gencatan Senjata 10 Hari dengan Lebanon Tapi Ogah Tarik IDF
Konflik kawasan telah mengguncang ekonomi global, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur utama minyak dunia.
Gangguan ini mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian pasar internasional.
Dilansir Pakistan Today, pasar saham global mulai menguat seiring harapan terhadap potensi penyelesaian konflik.
Kenaikan ini terjadi meski harga minyak tetap tinggi, mencerminkan optimisme investor yang masih dibayangi risiko geopolitik.
Meski gencatan senjata diumumkan, situasi di lapangan masih belum stabil.
Serangan sporadis dilaporkan masih terjadi di sejumlah wilayah Lebanon selatan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan militer Amerika tetap dalam posisi “siap tempur”.
Ia memperingatkan bahwa opsi militer tetap terbuka jika negosiasi gagal.
Pernyataan ini menegaskan bahwa jalur diplomasi berjalan berdampingan dengan tekanan militer.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)