Kawasan Timur Indonesia: Jangkar Intelektual Kita
Sudirman April 17, 2026 11:04 AM

Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir

Komite Sastra Dewan Kesenian Sulawesi Selatan

TRIBUN-TIMUR.COM - Kawasan Timur Indonesia membentang secara geografi meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Barat Daya. 

Kawasan Timur Indonesia ini membentang sepanjang sejarah dengan kultur, tradisi, budaya, adat istiadat, termasuk keunggulan dan karakteristik masing-masing daerah.
Dengannya, lahir jangkar budaya yang kuat.

Dengan demikian lahir orang-orang, para tokoh dan pahlawan yang lantang dan memihak.

Daerah di Kawasan Timur Indonesia ini telah mengukir sejarah panjang hingga hari ini dalam pembentukan sifat dan karakter bangsa dan berkontribusi besar pada perjalanan dalam pembentukan keIndonesiaan.

Sulawesi Selatan sebagai Jangkar Intelektual Kita

Benarkah Sulawesi Selatan sebagai jangkar intelektual kita? Pertanyaan menarik yang cukup baik untuk diulas.

Sepanjang sejarah Sulawesi Selatan telah menorehkan dan mengukir banyak hal.

Dalam bidang politik kita, jejak-jejak itu terkonfirmasi dengan baik. Puncak kejayaan Sulawesi Selatan terjadi abad ke 17 di bawah pemerintahan dan kepemimpinan Sultan Hasanuddin.

Sulawesi Selatan menjadi kekuatan maritim terbesar di kawasan Timur Indonesia kini. Sulawesi Selatan menjadi jalur sentral, jalur penghubung inti perdagangan global kala itu. Dengan demikian menghadirkan kesejahteraan yang berlimpah.

Tidak cukup sampai di situ, wajah politik kita dengan Sultan Hasanuddin sebagai representasi mengukir sebuah kehormatan dan kebanggaan sehingga menjadi simbol yang sangat berarti dan bermakna.

Keagungan nilai, keteguhan dan karakter yang kita miliki menjadi sebuah identitas yang mengakar sampai hari ini.

Dalam beberapa forum kemahasiswaan yang saya hadiri. Termasuk forum permusyawaratan yang ada di Jawa.

Kita dikenal memiliki keunggulan pada keberanian. Seringkali, perdebatan panjang, proses dialektika dan dinamika forum banyak dikuasai dan didominasi oleh para mahasiswa asal Sulawesi.

Saya kemudian tidak memandang ini sebagai kalimat rasis atau merasa super power. Melainkan saya belajar bahwa nilai dan karakter yang menumbuhkan kita sebagai cerminan ketika kita sedang berpijak di tempat lain. 

Dari kemenonjolan karakter keberanian ini lahir rasa respect dan rasa hormat dari bangsa-bangsa lain.

Saya kemudian menguatkan bahwa ini tidak lepas dari kemenonjolan masa lalu yang kita miliki yang telah ditularkan oleh Sultan Hasanuddin.

Pertanyaan lanjutan, keberanian yang unggul itu dari mana?

Telah tercatat dalam sejarah keemasan Sulawesi Selatan, Gowa sebagai representatif kala itu memiliki seorang mangkubumi (perdana menteri) yang cakap dalam bidang intelektual yakni Karaeng Pattingaloang. Beliau dipandang sebagai intelektual penting, tokoh penting yang pernah kita miliki. 

Dalam buku Semesta Manusia oleh Nirwan Ahmad Arsuka, mengulas secara mendalam tentang Karaeng Pattingaloang.

Termasuk saat itu ketika Karaeng Pattingaloang terhubung secara global dalam pemesanan bola dunia dan teleskop Galileo Galilei. 

Hal ini juga menjadi sebuah penanda penting bahwa Sulawesi Selatan kala itu pada puncak keemasannya menghadirkan sebuah kesejahteraan.

Kemajuan yang tercermin ini dengan pemesanan alat dan benda seperti bola dunia dan teleskop adalah sebuah simbol bahwa kita telah maju secara peradaban, kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Tokoh penting Karaeng Pattingaloang ini sebagai seorang intelektual terkemuka kala itu adalah guru dari Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin yang terkenal dengan kemenonjolan keberanian dan kecerdasannya pula.

Arung Palakka dengan kesadaran utuh memperjuangkan nasib, harkat, dan kehormatan bangsa Bugis begitupun Sultan Hasanuddin sebagai representasi Gowa-Tallo kala itu.
Menjadi titipan yang sangat berarti hingga kita hari ini.

Budaya Intelektual yang mengakar

Dari nilai-nilai penting ini seperti keberanian, kecerdasan, Lempu-Getteng (Keteguhan), ketegasan dan kebulatan tekad dan seterusnya tidak terbentuk begitu saja. 

Melainkan tercermin secara kuat dari tokoh-tokoh penting yang kita miliki.

Di Sulawesi Selatan telah lahir tokoh penting seperti Karaeng Pattingaloang, Sultan Hasanuddin, Arung Palakka, Sech Yusuf, dan seterusnya dengan keunggulan masing-masing nilai yang dimilikinya. 

Pasca kemerdekaan kita memiliki tokoh-tokoh penting seperti Jenderal Yusuf, Kahar Muzakkar, Baharuddin Jusuf Habibie, Baharuddin Lopa, Jusuf Kalla dan seterusnya.

Dari sisi sastra dan budaya kita memiliki karya terpanjang dunia diabadikan di Leiden Belanda yakni I La Galigo.

Ini penanda penting bahwa sejarah kita, termasuk kita sangat unggul dalam proses penciptaan.

Intelektual Sulawesi Selatan Dan Peran Anak Muda

Dengan demikian sebagai anak muda masa kini mesti belajar sejarah kita, termasuk dalam proses pematangan intelektual.

Saya menganggap bahwa mempelajari sejarah masa lalu, sejarah keemasan kita ini, akan sangat membantu dalam proses pembentukan nilai dan karakter.

Melupakan sama halnya tidak menghargai sejarah, mempelajarinya secara dalam sama halnya penguatan identitas termasuk ikut melestarikan nilai-nilai inti kita.

Pelajaran ini penting sebagai sebuah lanskap dalam menentukan arah masa depan.

Bahwa di Kawasan Timur Indonesia khususnya Sulawesi Selatan adalah sebuah jangkar intelektual. Ini sungguh penting.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.