TRIBUNPEKANBARU.COM, KAMPAR - Dari laboratorium di kampus Politeknik Kampar (Polkam) penelitian terkait biodiesel yang berasal dari produk kelapa sawit terus dilakukan.
Melalui kegiatan praktikum, dosen bersama mahasiswa Polkam berhasil memproduksi biodiesel B100 dengan bahan baku minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).
Praktikum itu merupakan salah satu kegiatan akademis mahasiswa Program Studi Teknik Pengolahan Sawit kampus yang terletak di Jalan Lingkar Bangkinang Kota.
Di Politeknik Kampar ada program Diploma II (D2) Teknik Pengolahan Kelapa Sawit dan D3 Teknik Pengolahan Sawit.
Pembuatan Biodiesel 100 persen (B100) itu salah satunya dipimpin dosen pengampu, Nur Asma S.T., M.Sc yang juga menjabat Wakil Direktur II Politeknik Kampar.
"Untuk praktikum, kita gunakan CPO yang bukan sekedar dijadikan minyak makan, tetapi menjadi biodiesel," katanya kepada Tribunpekanbaru.com, Kamis (16/4/2026).
Ia mulai menekuni penelitian produk turunan CPO sejak mulai mengajar di Polkam tahun 2008. Sejalan dengan salah satu konsentrasi kampus terhadap kelapa sawit.
Baca juga: Harga TBS Sawit Riau Periode Pekan Pertama April 2026 Alami Kenaikan
"Karena kami kampus sawit, tentu harus ada pembelajaran diversifikasi produk turunan sawit tidak sampai CPO," ujarnya.
Diversifikasi turunan CPO sesuai dengan disiplin ilmunya. Ia mendapat gelar Magister di bidang biodiesel. Wanita 44 tahun ini juga sedang menempuh program Doktor di bidang yang sama.
"Di Polkam ada kurikulumnya (pembuatan B100) juga. Kita bikin modul praktikumnya," katanya.
Menurut dia, diversifikasi produk turunan CPO menjadi biodiesel juga sebagai program unggulan pemerintah.
Hal itu semakin mendorong kampus untuk mewujudkan program itu.
Ia menjelaskan, CPO direaksikan dengan alkohol menggunakan katalis basa.
Transesterifikasi sebagai reaksi kimia lanjutan menghasilkan biodiesel dan gliserol.
"Biodiesel dan gliserol dipisahkan melalui proses pemurnian, maka jadilah biodiesel murni. Itulah yang dipelajari anak-anak kami," ujarnya.
Menurut dia, proses pembuatan B100 memakan waktu hanya sekitar tiga jam. Mulai dari pereaksian sampai pemurnian.
"Tapi tiga jam itu skala laboratorium," katanya.
Ia mengakui, B100 yang berhasil dibuat belum dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin.
"Mesin memang hidup. Tapi berisiko bagi mesin itu sendiri," ujarnya.
Ia mengemukakan, B100 tidak tahan dengan suhu tinggi. Sifat minyak lemak itu pasti memiliki kandungan gugus oksigenat dan hidrokarbon.
"B100 kan, nabati mengandung gugus oksigenat yang gampang putus. Jadi mudah teroksidasi. Ini yang bisa berdampak tidak baik bagi mesin," ungkapnya.
Berbeda dengan solar fosil dari minyak bumi yang hanya mengandung hidrokarbon. Oleh karenanya, gugus oksigenat mesti dibuang.
Itulah sebabnya, penggunaan biodiesel mesti dicampur dengan solar fosil sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku.
Seperti B30 yang telah beredar, terdiri dari 30 persen biodiesel dan 70 persen solar.
Ia masih terus melakukan uji coba untuk menghasilkan B100 bahan bakar mesin sesuai .
Uji coba dilakukan secara fisika dan kimia yang mencakup bilangan asam, viskositas, densitas, dan kadar air.
(Tribunpekanbaru.com/Fernando Sihombing)