Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli
TRIBUNPALU.COM, PALU - Sebanyak 7.964 tenaga kesehatan (nakes) dan dokter internship di Provinsi Sulawesi Tengah menjalani imunisasi Measles Rubella (MR).
Langkah ini dilakukan sebagai upaya melindungi kelompok berisiko tinggi sekaligus memutus mata rantai penyebaran virus campak di fasilitas pelayanan kesehatan.
Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah, Ahsan, mengatakan vaksinasi tersebut merupakan tindak lanjut dari kebijakan pemerintah pusat di tengah status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah daerah.
“Pemerintah pusat telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 1837 Tahun 2026 terkait pelaksanaan imunisasi MR bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan di rumah sakit, termasuk peserta dokter internship di 14 provinsi, salah satunya Sulawesi Tengah,” ujar Ahsan saat ditemui di ruang kerjanya, Jl Kartini, Kelurahan Lolu Selatan, Kecamatan Palu Selatan, Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan, total sasaran imunisasi di Sulawesi Tengah mencakup sekitar 7.803 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, serta tenaga kesehatan lainnya di rumah sakit.
Jumlah tersebut ditambah dokter peserta program internship, sehingga total keseluruhan mencapai 7.964 orang.
Baca juga: Dinkes Sulteng Pastikan Ketersediaan Vaksin Campak Nakes Aman, Stok 18 Ribu Dosis
Menurut Ahsan, tenaga kesehatan menjadi prioritas karena memiliki risiko tinggi terpapar virus campak di lingkungan pelayanan kesehatan.
“Berdasarkan kajian, tenaga kesehatan merupakan kelompok rentan terhadap penularan campak, sehingga perlu diprioritaskan untuk mendapatkan imunisasi MR,” jelasnya.
Pelaksanaan vaksinasi ini telah dimulai secara nasional melalui kick off oleh Kementerian Kesehatan pada 10 April 2026 di Jakarta, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi kepada pemerintah daerah pada 11 April 2026.
Di Sulawesi Tengah, sejumlah kabupaten sudah mulai melaksanakan imunisasi, Pelaksanaan vaksinasi telah menjangkau tenaga kesehatan di rumah sakit umum daerah dan Rumah Sakit Pratama.
“Awalnya menyasar dokter spesialis dan dokter gigi, kemudian diperluas ke tenaga kesehatan lain seperti perawat dan bidan,” katanya.
Ia menambahkan, pelaksanaan vaksinasi dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi di masing-masing daerah.
Beberapa kabupaten masih dalam tahap pendataan tenaga medis guna menghitung kebutuhan dosis vaksin.
Baca juga: HUT Ke-21 Labuan, Jinurain Lamakatutu Tegaskan Sinergi Jadi Kunci Kemajuan Kecamatan Labuan
Dari sisi ketersediaan, Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah memastikan stok vaksin MR masih mencukupi.
Saat ini, tersedia sekitar 2.060 vial vaksin MR di tingkat provinsi.
“Satu vial bisa digunakan untuk sekitar delapan orang, sehingga 50 vial dapat mencakup sekitar 400 dosis,” jelas Ahsan.
Secara keseluruhan, stok vaksin yang tersedia diperkirakan mampu menjangkau hingga sekitar 18 ribu dosis, sehingga dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan vaksinasi tenaga kesehatan di Sulawesi Tengah.
Selain itu, kabupaten juga masih memiliki stok vaksin rutin yang dapat dimanfaatkan sementara waktu sambil menunggu distribusi tambahan dari pemerintah pusat.
Diketahui, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, pada Minggu ke 13 tahun 2026, tercatat ada 99 temuan suspek campak.
Angka ini menurun jika dibandingkan data Minggu ke-12 dimana Dinkes mencatat adanya temuan 115 suspek campak di Sulawesi Tengah. (*)