TRIBUNTRENDS.COM - Penanganan kasus dugaan pemerkosaan terhadap seorang remaja calon polisi wanita (Polwan) di Provinsi Jambi kini memasuki fase yang jauh lebih krusial.
Setelah sempat disorot karena dianggap berjalan lambat dan minim perkembangan, perkara ini akhirnya mendapat perhatian langsung dari jajaran tertinggi kepolisian.
Sorotan tersebut tak lepas dari langkah tegas pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang secara terbuka menyuarakan kekecewaannya.
Melalui akun media sosial pribadinya, ia mengungkapkan bahwa upaya timnya dalam mencari keadilan sempat tidak mendapatkan respons memadai di tingkat pusat.
Baca juga: Aksi Bejat Polisi Rudapaksa Calon Polwan Jambi, Ditonton & Disoraki Polisi Lain, Hotman Paris Bantu
Tak tinggal diam, Hotman langsung mengambil langkah cepat dengan menghubungi Listyo Sigit Prabowo serta sejumlah pejabat tinggi kepolisian lainnya melalui pesan singkat.
Dalam pernyataannya, ia mengapresiasi respons cepat dari Kapolri yang segera menindaklanjuti aduannya.
“Terimakasih kepada Pak Kapolri yang cepat menanggapi WA Hotman sehingga para Senior Mabes Polri temuin Korban, Ibu Korban dan Tim Hotman 911. Bayangin anak buahnya cuekin Korban dan Tim hari ini!” tulisnya.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan adanya ketimpangan respons antara level pusat dan daerah dalam penanganan kasus yang sensitif ini.
Respons cepat dari Mabes Polri berbuah konkret. Keluarga korban akhirnya dipertemukan dengan petinggi Bareskrim Polri, termasuk pejabat tinggi di bidang penyidikan dan perlindungan perempuan dan anak.
Meski laporan polisi baru tidak diterbitkan untuk menghindari tumpang tindih dengan perkara di Polda Jambi, Mabes Polri mengambil langkah yang jauh lebih strategis: melakukan audit investigasi secara menyeluruh.
Tim khusus dari Mabes Polri dijadwalkan turun langsung ke Jambi bersama unsur Propam untuk menelusuri seluruh proses penanganan kasus.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa institusi ingin memastikan tidak ada celah kelalaian maupun penyimpangan dalam proses hukum.
Dalam proses supervisi awal, muncul sejumlah temuan yang cukup mengkhawatirkan terkait kinerja penyidik di daerah.
Baca juga: Hotman Paris Murka Lihat Oknum Polisi Jambi Cuma Disuruh Minta Maaf Usai Fasilitasi Pemerkosaan
Tak hanya itu, hingga kini rekonstruksi kejadian juga belum pernah dilakukan.
Temuan ini memperkuat kritik bahwa penanganan kasus belum berjalan optimal dan transparan.
Sebagai tindak lanjut, Mabes Polri mewajibkan penyidik di daerah untuk segera mengirimkan SP2HP terbaru serta menjadwalkan proses konfrontasi dan rekonstruksi perkara dalam waktu dekat.
Dengan pengawasan ketat dari Propam, tekanan kini mengarah pada percepatan pembuktian di lapangan.
Seruan tegas pun kembali disampaikan oleh Hotman Paris:
“Ayok lakukan rekonstruksi!”
Pernyataan tersebut menjadi simbol dorongan publik agar kasus ini tidak lagi berjalan di tempat, melainkan segera dibuka secara terang benderang.
Kasus ini kini tak hanya berbicara soal keadilan bagi korban, tetapi juga menjadi ujian besar bagi kredibilitas aparat penegak hukum.
Langkah cepat Mabes Polri memberi harapan baru, namun publik tetap menanti: apakah proses ini benar-benar akan berjalan transparan dan tuntas, atau kembali terjebak dalam pola lama yang penuh tanda tanya.
***
(TribunTrends/TribunJambi)