Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga 2026, Menteri Bahlil: Sesuai Arahan Presiden
Tommy Kurniawan April 17, 2026 04:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM – Pemerintah menegaskan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga akhir tahun 2026. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto.

Keputusan tersebut dinilai menjadi kabar positif bagi masyarakat, terutama di tengah fluktuasi harga energi global yang masih belum stabil.

Stok Energi Nasional Dipastikan Aman

Dalam keterangannya, Bahlil memastikan bahwa ketersediaan energi nasional saat ini berada dalam kondisi aman dan terkendali. Ia menyebutkan, cadangan BBM nasional masih berada di atas ambang batas minimum yang telah ditetapkan pemerintah.

Pasokan energi seperti solar, bensin, hingga LPG disebut mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam waktu ke depan.

“Stok kita insya Allah di atas standar minimum, baik itu solar, bensin, maupun LPG. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” ujar Bahlil dalam siaran pers yang diterima, Jumat (17/4/2026).

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemerintah bersama Presiden telah menyepakati untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi agar tidak mengalami kenaikan hingga penghujung tahun.

Baca juga: Sosok Kepala Rutan Kendari di Balik Viral Napi Ngopi, Ini Klarifikasinya

Baca juga: Kepala Deri Dipukul Pakai Botol lalu Dianiaya Belasan Orang di Danau Kerinci Barat

Faktor Harga Minyak Dunia Masih Terkendali

Dari sisi fiskal, pemerintah menilai kebijakan tersebut masih realistis untuk dijalankan. Hal ini didukung oleh harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang masih berada di bawah asumsi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut Bahlil, selama harga ICP masih berada dalam batas aman, maka ruang fiskal pemerintah tetap cukup untuk menjaga stabilitas harga BBM subsidi.

“Kalau harga minyak masih di kisaran saat ini, bahkan hingga mendekati 100 dolar AS, itu masih aman untuk menjaga harga BBM subsidi,” jelasnya.

Ia menambahkan, rata-rata ICP sejak Januari hingga saat ini masih berada di bawah angka 77 dolar AS, sehingga tekanan terhadap anggaran negara dinilai belum signifikan.

Ketergantungan Impor Masih Tinggi

Meski kondisi stok dinyatakan aman, pemerintah tidak menampik bahwa kebutuhan energi nasional masih bergantung pada impor.

Saat ini, konsumsi BBM dalam negeri mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara produksi domestik baru mampu memenuhi sekitar 600 hingga 610 ribu barel per hari.

Artinya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak setiap harinya untuk menutup kekurangan tersebut.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga ketahanan energi nasional, terutama di tengah dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi distribusi dan harga minyak dunia.

Buka Peluang Kerja Sama Energi dengan Rusia

Di sisi lain, pemerintah juga mulai membuka peluang kerja sama strategis di sektor energi dengan sejumlah negara, termasuk Rusia.

Kerja sama ini tidak hanya difokuskan pada pasokan minyak mentah, tetapi juga mencakup pengembangan infrastruktur seperti kilang dan fasilitas penyimpanan energi.

Menurut Bahlil, pembahasan terkait investasi tersebut masih dalam tahap finalisasi dan membutuhkan beberapa kali pertemuan lanjutan sebelum mencapai kesepakatan.

“Ada beberapa investasi yang sudah siap masuk, terutama terkait kilang dan storage. Tapi masih perlu pembahasan lanjutan,” ungkapnya.

Jaga Stabilitas Ekonomi di Tengah Gejolak Global

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap stabilitas sektor energi nasional tetap terjaga sepanjang tahun 2026.

Kepastian tidak naiknya harga BBM subsidi dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi nasional.

Di tengah tekanan global yang belum mereda, kebijakan ini diharapkan mampu memberikan kepastian serta rasa aman bagi masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.