Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yuan Lulan
POS-KUPANG.COM, KUPANG – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Pulau Sumba hingga 31 Maret 2026 menunjukkan capaian yang positif, baik dari sisi penerimaan maupun belanja negara.
Data ini disampaikan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Waingapu melalui rilis yang diterima POS-KUPANG.COM, Jumat (17/4/2026).
Dari sisi makro ekonomi, nilai ekspor Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 4,53 juta, sementara nilai impor sebesar US$ 0,48 juta.
Dari 10 komoditas utama ekspor selama Januari–Februari 2026, tiga komoditas mengalami peningkatan signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni komoditas ikan dan udang yang naik sebesar US$ 0,2 juta atau 54,59 persen, kendaraan dan bagiannya naik US$ 0,19 juta atau 28,01 persen, serta perabot dan penerangan rumah yang meningkat US$ 0,14 juta atau 13,39 persen.
Adapun negara tujuan utama ekspor NTT masih didominasi Timor Leste dengan nilai mencapai US$ 8,08 juta atau 83,06 persen. Disusul Vietnam sebesar US$ 0,5 juta (5,14 persen), dan India sebesar US$ 0,19 juta (1,96 persen).
Sementara itu, perkembangan inflasi di NTT pada Maret 2026 tercatat sebesar 2,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,41. Inflasi tertinggi terjadi di Waingapu sebesar 2,88 persen dengan IHK 112,33, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Ngada sebesar 1,51 persen dengan IHK 109,13.
Inflasi tersebut dipicu oleh kenaikan harga pada delapan dari sebelas kelompok pengeluaran, dengan penyumbang terbesar berasal dari kelompok transportasi sebesar 2,15 persen serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,11 persen.
Secara khusus di Waingapu, inflasi yoy Maret 2026 sebesar 2,88 persen dipengaruhi kenaikan harga pada sembilan kelompok pengeluaran. Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami kenaikan tertinggi sebesar 9,39 persen, disusul kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 7,19 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 6,79 persen.
Baca juga: DJPb Provinsi NTT Sebut Pemertaan Akses KUR di NTT Rendah, Sabu Raijua, Malaka, Sumba Barat Terkecil
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar, seiring meningkatnya permintaan selama perayaan hari besar keagamaan seperti Nyepi dan Idulfitri yang bertepatan pada Maret 2026.
Dari sisi penerimaan negara, realisasi penerimaan dalam negeri di Pulau Sumba hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp44,36 miliar. Angka ini terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp34,63 miliar dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp9,73 miliar.
Kontribusi terbesar penerimaan perpajakan berasal dari Pajak Penghasilan sebesar Rp16,9 miliar, diikuti pajak lainnya sebesar Rp10,3 miliar, Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp7,43 miliar, serta Pajak Bumi dan Bangunan sebesar Rp84 ribu.
Di sisi belanja negara, total alokasi APBN di wilayah kerja KPPN Waingapu yang meliputi Pulau Sumba mencapai Rp3,235 triliun. Alokasi tersebut terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp555 miliar dan Transfer ke Daerah sebesar Rp2,68 triliun.
Hingga akhir Maret 2026, realisasi belanja negara telah mencapai Rp881,565 miliar atau sekitar 27 persen dari total pagu. Sementara itu, realisasi Belanja Pemerintah Pusat melalui satuan kerja kementerian/lembaga tercatat sebesar Rp115,15 miliar atau 21 persen.
Realisasi belanja terbesar berasal dari belanja pegawai sebesar Rp75 miliar atau 25 persen, diikuti belanja barang sebesar Rp35,56 miliar atau 19 persen, serta belanja modal sebesar Rp4,58 miliar atau 6 persen.
KPPN Waingapu terus mendorong satuan kerja mitra untuk mempercepat realisasi belanja negara guna mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumba. Selain itu, percepatan belanja juga diharapkan dapat menghasilkan output yang langsung dirasakan masyarakat serta menghindari penumpukan pencairan anggaran di akhir tahun. (uan)