TRIBUN-MEDAN.com - Seorang wanita membagikan kisah hidupnya yang penuh tekanan akibat kondisi keluarga yang tidak harmonis hingga berujung pada pernikahan di usia muda.
Namun, keputusan tersebut justru membawanya pada masalah baru setelah sang suami diketahui berselingkuh.
Dikutip dari Mstar, Jumat (17/4/2026), dalam pengakuannya yang dibagikan di media sosial, wanita tersebut menceritakan bahwa dirinya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sering diliputi pertengkaran.
Ia menyebut konflik antara kedua orang tuanya kerap terjadi dan berdampak langsung pada dirinya sebagai anak.
“Ibu dan ayah selalu bertengkar dan akhirnya anak yang jadi korban,” ujarnya saat mengawali cerita.
Situasi keluarga yang tidak kondusif itu membuatnya berkeinginan untuk keluar dari lingkungan tersebut. Ia pun mengambil keputusan untuk menikah di usia muda sebagai jalan untuk menghindari tekanan yang selama ini dirasakannya.
Setelah menikah, ia mengaku tidak langsung tinggal bersama suami karena masih menjalani pendidikan. Selama masa tersebut, keduanya menjalani hubungan jarak jauh. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia telah memiliki seorang anak.
Namun, kehidupan rumah tangga yang diharapkan dapat menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi sumber kekecewaan. Ia mengungkapkan bahwa suaminya berselingkuh, meskipun pada awalnya ia tidak memiliki bukti kuat.
“Awalnya saya tidak punya bukti sampai orang-orang mengira saya gila. Tapi kemudian saya mendapatkan semua bukti,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa saat menemukan bukti perselingkuhan tersebut, dirinya tidak lagi menangis. Hal itu, menurutnya, menunjukkan betapa dalamnya rasa kecewa yang telah ia alami.
Setelah kejadian tersebut, ia dan suaminya sepakat untuk mengakhiri pernikahan. Perceraian pun dilakukan, dan wanita tersebut kembali ke rumah orang tuanya setelah menyelesaikan masa iddah.
Meski telah kembali ke lingkungan keluarga, ia mengaku tekanan tidak sepenuhnya hilang. Ia tetap menghadapi berbagai tuntutan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun merasa telah berusaha menjalankan peran sebagai anak dan ibu dengan sebaik mungkin.
“Saya bekerja, tetapi masih tinggal satu rumah dengan orang tua. Selalu saja ada yang dianggap salah, meskipun sebagai anak saya sudah berusaha melakukan yang terbaik,” katanya.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, wanita tersebut memiliki rutinitas yang padat. Setiap pagi, ia mengurus anak sebelum berangkat bekerja.
Setelah itu, ia menjemput anak dan menyelesaikan pekerjaan rumah seperti merapikan pakaian. Pada akhir pekan, waktunya dihabiskan untuk membersihkan rumah, memasak, dan mengerjakan berbagai tugas domestik lainnya hingga merasa kelelahan.
Di tengah berbagai tekanan yang dihadapi, ia menyebut anak sebagai sumber kekuatan utama dalam hidupnya. Meskipun merasa tidak dihargai dan mengalami kesulitan, ia tetap berusaha bertahan demi anaknya.
Ia juga mengungkapkan bahwa trauma masa kecil masih membekas hingga saat ini. Kondisi tersebut diperparah oleh pengalaman dalam rumah tangga yang hanya bertahan singkat sebelum diwarnai perselingkuhan.
“Trauma masa kecil masih berlanjut sampai sekarang. Ditambah lagi, setelah menikah jarak jauh, suami sudah berselingkuh dalam lima atau enam bulan pernikahan,” ujarnya.
Selain itu, ia mengaku kerap mendapat stigma negatif sebagai seorang janda, yang membuatnya merasa semakin tertekan dalam menjalani kehidupan sosial.
Kisah yang dibagikan wanita tersebut kemudian menarik perhatian warganet. Banyak yang memberikan dukungan moral serta doa agar ia tetap kuat menghadapi situasi yang dialaminya.
Sejumlah warganet juga memberikan saran agar ia mempertimbangkan untuk tinggal terpisah dari lingkungan keluarga yang dinilai tidak sehat, demi kebaikan dirinya dan anaknya. Mereka menilai bahwa lingkungan yang kondusif penting untuk tumbuh kembang anak.
Meski menghadapi berbagai tantangan, wanita tersebut tetap berupaya menjalani kehidupannya dengan tegar.
Ia berkomitmen untuk terus berjuang demi masa depan anaknya, meskipun harus menghadapi tekanan dari berbagai sisi kehidupan.
(cr31/tribun-medan.com)