TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, DI Yogyakarta, bersama pemerintah pusat berencana mengoptimalkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Modalan, Kalurahan Banguntapan, Kapanewon Banguntapan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul, Bambang Purwadi Nugroho, berujar, optimalisasi dilakukan karena masyarakat saat ini sudah menantikan cakupan kapasitas mesin dan kualitas layanan.
"Kami mengerti kondisi pengelolaan sampah di DIY, khususnya di Bantul masih belum tuntas. Kami punya harapan besar dengan TPST Modalan yang menjadi salah satu TPST dioptimalisasi, tentu PR sampah yang numpuk bisa segera ditangani," katanya, kepada wartawan, Jumat (17/4/2026).
Disampaikannya, selama ini TPST Modalan dipergunakan untuk mengolah sampah dari Bumi Projotamansari. Rata-rata, sampah yang kebanyakan sampah anorganik atau sampah kering berupa plastik.
"Nanti yang dilakukan adalah modifikasi mesin dan juga ada penambahan beberapa item mesin baru. Itu untuk menyempurnakan yang sudah ada," ucap Bambang.
Adapun kapasitas pengelolaan sampah di TPST Modalan saat ini sejumlah 49 ton per hari menjadi 60 ton per hari. Walau begitu, pihaknya tidak ada rencana menambah luasan TPST Modalan yang kini berjumlah sekitar 3.200 meter persegi.
Artinya, optimalisasi akan dilakukan dengan penambahan alat dan modifikasi pengolahan sampah. Rencananya, optimalisasi pengolahan sampah itu dilakukan melalui pengadaan tahun 2026.
"Pengadaan sudah dimulai pada April ini. Mudah-mudahan Mei sudah mulai on going (berlangsung). Itu dilakukan dengan pengadaan APBN, totalnya hampir Rp20 miliar," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Balai Penataan Bangunan Prasarana dan Kawasan DIY Kementerian Pekerjaan Umum dan Cipta Karya, Putri Intan Suri, menyebut, Pemkab Bantul mengusulkan ke Kementerian Pekerjaan Umum untuk peningkatan kapasitas TPST Modalan.
"Jadi pada saat diusulkan itu, Kementerian kami tentunya melihat komitmen Pemkab. Dalam hal ini memang ada komitmen Pemkab untuk kebutuhan maupun mendukung secara operasionalnya," ujar dia.
Menurutnya, untuk peningkatan pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan asal-asalan. Sebab, pihaknya harus melihat berapa maksimal pengelolaan sampah yang dilakukan mengingat TPST itu dibangun oleh pusat pada tahun 2023 dan 2024 dengan 49 ton per hari.
"Memang kebutuhan itu saja, tapi kita tingkatkan lagi menjadi 60 ton per hari. Tapi memang cara beroperasionalnya TPST itu kita tingkatkan dengan modifikasi alat maupun menambah alat baru. Karena alokasi ruangnya (terbatas)," tuturnya.
TPST Modalan itu memiliki lahan dan hanggar yang terbatas. Maka dari itu, optimalisasi pengolahan sampah melalui modifikasi dan tambah alat baru menjadi solusi tepat untuk mengatasi kebutuhan pengelolaan sampah Bantul.
"Jadi nanti ada alatnya dimodifikasi. Dan setiap truk (pengangkut sampah) yang masuk harus ditimbang. Tempat timbangan akan kami alihkan supaya bisa maksimal ruangannya," papar Putri.
Setidaknya akan ada 14 unit alat yang dilakukan modifikasi dengan existing. Alat pengelolaan sampah yang ada akan ditingkatkan kemampuannya dan dilakukan modifikasi dengan tambahan tujuh unit alat baru, sehingga bisa prima atau kuat mengelola sampah.
"Jadi 14 alat ditambah tujuh alat, total ada 21 alat. Kan sebelumnya sampah organik dan anorganik. Salah satunya adalah desain yang diterima sebelumnya berupa 60 persen organik dan 40 persen anorganik. Tapi yang dibawa ke TPST itu capaiannya 80 persen anorganik," katanya.
Di sisi lain, sampah basah tidak bisa langsung masuk ke pembakaran. Tak heran jika dalam penerapannya, terkadang petugas TPST Modalan melakukan pengeringan sampah berupa penjemuran sekitar dua sampai tiga hari sebelum akhirnya masuk ke mesin pembakaran.
"Di sini kita akan menambahkan alat namanya rotary dryer untuk mempercepat pengeringan sampah organik. Terus yang berbeda sekarang adalah lah salah satu keluarannya berupa Refuse Derived Fuel (RDF)," jelas Putri.
Jika sebelumnya di TPST Modalan hanya memilah sampah organik dan anorganik, maka ke depan hasil pengelolaan sampah tersebut diubah menjadi RDF. Dengan begitu, akan ada off taker RDF yang sudah bekerja sama dengan Pemkab Bantul.
"Jadi, UPT (pengelola sampah) akan mencari potensi yang akan mengambil RDF. Itu kan juga akan menambah pendapatan asli daerah. Karena ada orang yang membeli RDF. RDF itu bisa menjadi bahan bakar misalnya pabrik semen dan sebagainya," urai dia.
Nantinya, selama penambahan alat maupun modifikasi berlangsung, proses pengelolaan sampah di TPST Modalan diharapkan tetap berjalan. Hanya saja, ketika alat lama TPST Modalan mulai disentuh modifikasi, maka akan ada pengaturan jadwal operasional.
"Jadi kita atur lah nanti bagaimana. Kan enggak mungkin sampah berhenti dibawa ke TPST. Nanti kita lihat alat mana yang didahulukan untuk modifikasi, sehingga bisa difungsikan dengan baik," tandas dia.(nei)