Bawa 5 Juta Barel Minyak, 3 Kapal Iran Sukses Lewati Selat Hormuz meski AS Lakukan Blokade
Febri Prasetyo April 18, 2026 04:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM – Tiga kapal tanker Iran yang bernama Deep Sea, Sonia I, dan Diona diklaim berhasil melewati Selat Hormuz meski Amerika Serikat (AS) melakukan blokade di selat itu sejak awal pekan ini.

“Ketiga kapal itu, semuanya disanksi AS, berhasil melewati selat strategis itu pada hari Jumat setelah berangkat dari Pulau Kharg, menurut perusahaan pelacakan bernama Kpler,” demikian laporan Press TV, media pemerintah Iran, Jumat, (17/4/2026).

Ketiga kapal itu membawa total 5 juta barel minyak mentah dan menjadi kapal-kapal tanker pertama yang keluar dari Selat Hormuz sejak AS memberlakukan blokade.

AS mengklaim blokade itu ditujukan untuk mencegah Iran mengekspor minyaknya.

Di sisi lain, Iran mengecam blokade itu. Menurut Iran, blokade itu melanggar gencatan senjata dan bisa memicu balasan dari militernya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengklaim upaya blokade oleh AS itu tidak akan berhasil. Dia menyebutnya sebegai aksi provokatif yang melanggar hukum internasional.

Menurut Baghaei, Iran sepenuhnya mampu memastikan keamanan Selat Hormuz. Kata dia, Iran sudah puluhan tahun berperan sebagai penjaga utama selat tersebut.

Iran buka Selat Hormuz

Iran telah menyatakan Selat Hormuz terbuka bagi kapal dagang selama gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Meski demikian, belum ada kepastian apakah selat itu benar-benar dibuka tanpa syarat.

“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur untuk semua kapal dagang yang melewati Selat Hormuz dinyatakan dibuka sepenuhnya selama sisa periode gencatan,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Jumat, dikutip dari CNBC.

Araghchi berujar kapal-kapal harus transit lewat “rute terkoordinasi” yang diumumkan oleh otoritas kelautan Iran. 

Baca juga: Iran Nyatakan Selat Hormuz Sepenuhnya Terbuka: Harga Minyak Turun, Trump Bilang Terima Kasih

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump berterima kasih kepada Iran atas dibukanya Selat Hormuz. Meski demikian, Trump menyebut blokade tetap berlanjut hingga ada kesepakan antara AS dan Iran.

Puluhan negara menggelar pertemuan

Sementara itu, lebih dari 40 negara menggelar pertemuan penting di Paris untuk membahas rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, Jumat.

Daftar resmi seluruh 40 negara yang terlibat belum dipublikasikan secara terbuka. Namun, sumber diplomatik yang dikutip dari Euronews menyebutkan bahwa komposisi peserta didominasi oleh negara-negara anggota NATO serta sejumlah mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik dan Eropa.

Di luar Eropa, negara-negara mitra seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia turut ambil bagian dalam pertemuan tersebut.

Koalisi internasional yang dipimpin oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan PM Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa langkah pembukaan kembali selat tersebut hanya akan dilakukan setelah perang mereda.

Oleh karena itu, para pemimpin dan ahli strategi militer berkumpul guna membahas langkah-langkah teknis yang diperlukan untuk memastikan kapal-kapal dagang, khususnya pengangkut energi, dapat kembali melintas dengan aman di kawasan tersebut tanpa terlibat langsung dalam konflik bersenjata.

Puluhan negara tersebut juga turut membahas persiapan mencakup pengerahan kapal militer yang berfungsi sebagai pengawal bagi kapal-kapal sipil guna mencegah potensi ancaman selama pelayaran.

Selain itu, operasi pembersihan ranjau laut menjadi perhatian utama, mengingat keberadaan ranjau dapat membahayakan keselamatan jalur pelayaran.

Dukungan intelijen dan sistem radar juga akan diperkuat untuk memantau pergerakan di wilayah tersebut secara real-time sehingga setiap potensi gangguan dapat dideteksi lebih dini.

Baca juga: Manuver Senyap Beijing di Balik Konflik Iran, Kekhawatiran Washington Adanya Suplai Radar & Satelit

Sejumlah negara Eropa bahkan telah lebih dulu mengirim kapal ke kawasan Teluk Persia sebagai langkah awal kesiapan operasi.

(Tribunnews/Febri/Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.