TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mendorong agar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan investigasi atas insiden bayi nyaris tertukar di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) yang saat ini terus bergulir hingga ranah hukum.
Terbaru, Nina Saleha, pasien yang bayinya nyaris tertukar di RSHS, bersama kuasa hukumnya resmi membuat laporan ke Polda Jawa Barat.
Adapun laporannya, terkait dugaan percobaan penculikan yang dilakukan oleh perawat senior di RSHS Bandung.
Menurut Dedi, meski kewenangan RSHS berada di bawah Kementerian Kesehatan, keberadaannya di Jawa Barat membuat kasus ini berdampak langsung terhadap kepercayaan publik di daerah.
“Kewenangan RSHS di Kemenkes, hanya saja berdomisili di Jawa Barat. Tapi RSHS ini berkontribusi besar bagi layanan kesehatan warga Jawa Barat. Adanya oknum ini tentunya menimbulkan salah satunya tingkat kepercayaan publik,” ujar Dedi, Sabtu (18/4/2026).
Dedi menilai, insiden bayi nyaris tertukar tersebut memperburuk citra layanan kesehatan. Apalagi, sebelumnya sempat terjadi kasus dugaan pelecehan seksual yang juga terjadi di RSHS Bandung.
“Sudah ada dua kejadian, yang waktu itu pelecehan seksual dan sekarang ini (insiden bayi hampir tertukar),” katanya.
Dedi pun meminta RSHS melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk memperketat pengawasan serta seleksi tenaga medis, khususnya di unit-unit pelayanan krusial.
Dedi menegaskan, langkah investigatif harus dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang, baik di RSHS maupun fasilitas kesehatan lainnya di Jawa Barat.
“Ke depan RSHS harus lebih selektif dan investigatif. Itu jadi keharusan agar peristiwa yang sama tidak terulang,” ucapnya.
Dalam keterangannya, Nina tak hanya menyoroti dugaan kelalaian tenaga medis, tetapi juga mempertanyakan peran petugas keamanan saat insiden terjadi.
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 8 April 2026, sekitar pukul 09.00 WIB, ketika Nina hendak menjemput bayinya yang sebelumnya dirawat karena kondisi penyakit kuning sehingga harus dirawat selama 4 hari di RSHS Bandung.
Nina menuturkan, sehari sebelum kejadian ia telah mendapat konfirmasi dari pihak rumah sakit bahwa bayinya diperbolehkan pulang.
Namun, proses administrasi yang tak kunjung selesai membuatnya menunggu cukup lama untuk membawa anaknya pulang.
Di tengah situasi rumah sakit yang sedang sibuk menangani pasien lain, Nina dan suaminya sempat memutuskan keluar sebentar untuk makan.
“Pas mau makan saya ada perasaan nggak enak, seperti ada yang bilang cek anak kamu di atas. Saya pun memutuskan untuk nggak jadi makan,” kata
Nina saat ditemui di kediamannya di Nanjung, Margaasih, Kabupaten Bandung, Kamis (9/4/2026).
Kecurigaan itu terbukti ketika ia melihat seorang ibu yang sebelumnya berbincang dengannya menggendong bayi dengan selimut yang dikenalnya.
“Saya cek ke inkubator, anak saya sudah tidak ada. Pas saya lihat lagi, ternyata bayi yang digendong itu memang anak saya,” ujar Nina.
Ia langsung menghentikan ibu tersebut dan berteriak meminta bantuan.
Alih-alih langsung mengamankan situasi, Nina mengaku respons awal yang ia terima justru membingungkan.
Ia diarahkan ke petugas keamanan, namun bukan untuk penanganan insiden.
“Saya diminta kasih rating, saya kasih empat, lalu satpamnya malah pinjam hp saya dan diubah jadi bintang lima dengan kata-kata yang bagus,” ungkap Nina.
Situasi tersebut membuat Nina semakin bingung, karena di saat bersamaan ia tengah panik menyelamatkan bayinya yang hampir dibawa orang lain
Nina ingat betul, satpam tersebut sempat bertanya akan pelayanan rumah sakit apakah cukup baik atau ada keluhan.
“Saya langsung jawab, bukan keluhan lagi, itu anak saya mau dibawa orang,” tegasnya.
Nina juga menyoroti minimnya kehadiran petugas keamanan saat ia berteriak meminta bantuan.
Ia mengaku hanya satu satpam yang muncul, sementara petugas keamanan lain tidak terlihat.
“Saya teriak sambil nangis, tapi saya malah disuruh diam jangan teriak oleh perawatnya,” ucapnya.
Setelah Nina berteriak, bayi akhirnya diambil kembali oleh perawat, namun Nina langsung menyuruh sang suami untuk mengambilnya.
Nina pun mempertanyakan bagaimana bayi bisa sampai berada di tangan orang lain tanpa prosedur yang jelas.
Ia mengungkapkan, saat kejadian belum ada surat kepulangan resmi. Selain itu, gelang identitas bayi juga disebut sudah dilepas.
“Perawatnya memang bilang minta maaf, tapi kan harusnya ada verifikasi, ada surat. Ini belum ada apa-apa, tapi anak saya sudah dipegang orang lain,” tegasnya.
Menurut pengakuannya, perawat berdalih bayi diserahkan karena nama Nina dipanggil namun tidak ada respons.
Nina menilai kejadian ini bukan sekadar kelalaian satu pihak, melainkan berlapis, mulai dari tenaga medis hingga sistem pengamanan rumah sakit.
“Kalau saya telat sedikit saja, mungkin anak saya sudah hilang,” katanya.