Oleh: P. Wilfrid SVD
POS-KUPANG.COM - Fajar pagi di Labuan Bajo terasa lebih dingin dan senyap. Nampaknya tidak biasa. Kabar duka itu menyelinap di antara dedaunan akasia, dan di riuhnya gelombang pantai barat Flores.
Provinsial SVD Ruteng Pater Paul T.Djogo SVD menulis di Grup Provinsi SVD Ruteng pada 00,4 dini hari. Pater Marsel Agot, SVD, telah berpulang ke pangkuan Bapa di RS Cancar Manggarai.
Langit Manggarai dan Manggarai Barat merunduk. Telah kehilangan salah satu bintang penunjuk arahnya. Tanah Flores kehilangan putra terbaik yang selama puluhan tahun menjaga kesucian bumi dari berbagai daya kerusakan.
Baca juga: Pater Marsel Agot Wanti-wanti BPOLBF Soal Wisata Halal di Labuan Bajo
Bagi mereka yang mengenal sosok imam dari tarekat Societas Verbi Divini (SVD) ini, Pater Marsel adalah anomali.
Pribadi langka dari barisan imam SVD, juga di tengah modernitas Labuan Bajo yang kian berkilau bak meteor melintas cakrawala. Ia bukan tipe imam yang betah hanya duduk di balik meja. Jubahnya seringkali tercemar tanah kebun.
Tangannya jauh lebih akrab dengan variasi bibit pohon daripada sekadar buku liturgi. Saya teringat satu waktu. Dia bilang: kraeng Wilfrid, tanam pohon di mata air di Dadar itu ka..."
Jauh sebelum Labuan Bajo ditetapkan sebagai destinasi wisata super-premium, Pater Marsel sudah "berperang" sendirian. Dimulai sejak tahun 1990-an, ia melihat hutan-hutan di Flores mulai botak.
Mungkin ulah banyak pihak. Ada tangan-tangan yang usil, serakah. Dari situlah lahir sebuah komitmen yang tak tergoyahkan: "Bila ingin melestarikan alam, mulailah dari diri sendiri."
Marsel bukan tipikal orang suka omon-omon sa.Bukan sekadar slogan. Hidupnya ia wujudkan dengan sangat kreatif menanam lebih dari tiga juta pohon. Bayangkan!
Dedikasi luar biasa ini membawanya meraih penghargaan lingkungan hidup. (Bdk.https://regional.kompas.com.Hijaukan Lahan Gundul.Pastor di NTT Raih Penghargaan).
Menteri Kehutanan RI menganugerahkan penghargaan ini di tahun 2013. Baginya, menanam pohon adalah bentuk doa pada Allah dan alam semesta.
Satu taqsim yang paling konkret. Adalah satu cara mencintai Sang Pencipta melalui ciptaan-Nya yang paling konkret tetapi bisa kian rapuh.
Sebagai imam, Pater Marsel memahami betul bahwa tugas gembala adalah melindungi domba-dombanya dari ketidakadilan. Ia seorang nabi zaman now.
Suara profetisnya seringkali menjadi "batu sandungan" bagi setiap pengambil kebijakan. Yang dinilainya mengkerdikan rakyat kecil, dia lawan.
Beliau vokal menolak praktik tambang yang merusak lingkungan. Tidak segan berseberangan dengan para pengambil kebijakan demi menjaga alam dan martabat warga Manggarai.
Kiprah sosialnya juga menyentuh aspek mendasar seperti kesehatan. Ada rumah singgah. Juga pendidikan melalui perannya di Badan Pertimbangan Kesehatan Daerah (BPKD) Manggarai Barat.
Ia adalah sosok yang supel, rendah hati, namun bisa menjadi sangat keras dan terkesan garang, jika menyangkut hak-hak masyarakat yang tersodok, dipinggirkan.
Di penghujung peziarahan hidupnya, Pater Marsel harus melewati jalan salib yang berat.
Sengketa lahan di wilayah Batu Gosok membawa namanya ke pusaran konflik. Sempat menerpa wajahnya—ia dituduh memimpin massa bersenjata.
Narasi ini berhasil diklarifikasi dengan elok. Dan para pihak yang terlibat dan juga kita yang mengikutinya di media sosial sudah mendapat ilustrasi secukupnya.
Hingga napas terakhir, ia tetap tegak. Melalui jalur hukum dan klarifikasi yang jujur, ia berusaha menjernihkan nama baiknya. Bukan karena haus kehormatan, melainkan untuk menjaga marwah imamat yang ia emban.
Perjuangan di akhir hidupnya ini seolah menjadi signal paling jujur bahwa jalan kebenaran memang selalu terjal. Dan terkadang sunyi.
Pater Marsel telah menyelesaikan pertandingannya. Ia pergi meninggalkan jejak-jejak kaki dan tangannya pada ribuan anakan pohon yang kian bertunas.
Dan barisan dedaunan rimbunan hutan-hutan buatan yang kini meneduhi ribuan makhluk hidup dan tempat bertenggernya berbagai satwa burung; juga ngkiong poco.
Virus semangat perjuangan itu kini bersemi di hati setiap aktivis lingkungan hidup Manggarai dan Manggarai Barat dan para muda di Flores.
Ia membuktikan bahwa iman tanpa perbuatan—tanpa kepedulian pada ekologi dan keadilan—adalah iman setengah hati dan pelan-pelan mati.
Labuan Bajo mungkin akan terus berubah jadi molek super premium dengan polesan bintang hotel-hotel megahnya, namun nama Pater Marsel Agot akan selalu terpatri di akar-akar pohon yang ia tanam.
Marsel menanamya dengan hati di tanah tumpah darah yang ia belai dengan darah dan airmata.
Beristirahatlah dalam damai abadi, Tuang Marsel Agot.Tugasmu menjaga "Taman Eden" di bumi telah paripurna. Engkau beralih dalam damai di Taman Firdaus nan Abadi. RIP. (*)