TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Sejak pagi hari deretan kendaraan tampak memanjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu (18/4/2026).
Di Jalan Jenderal Sudirman, antrean bahkan mengular hingga ratusan meter, didominasi mobil pribadi, truk tangki, hingga kendaraan besar lainnya yang memenuhi kedua sisi jalan.
Lonjakan antrean ini terjadi seiring kebijakan PT Pertamina (Persero) yang resmi menaikkan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai hari ini.
Kenaikan tersebut cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya dan langsung berdampak di lapangan.
Berdasarkan informasi dari akun Instagram @Pertaminakalteng, harga Pertamax Turbo kini mencapai Rp19.850 per liter, melonjak jauh dari kisaran Rp13.350 per liter pada Maret lalu.
Sementara itu, Dexlite naik menjadi Rp24.150 per liter dari sebelumnya sekitar Rp14.500 per liter.
Kenaikan juga terjadi pada Pertamina Dex yang kini dibanderol Rp24.450 per liter, dari kisaran Rp14.800 per liter pada bulan sebelumnya.
Di tengah lonjakan harga BBM non-subsidi, pemerintah masih mempertahankan harga BBM bersubsidi.
Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, solar subsidi Rp6.800 per liter, dan Pertamax tidak mengalami perubahan dengan harga Rp12.600 per liter.
Seorang karyawan SPBU di Jalan Jenderal Sudirman Sampit berinisial A membenarkan adanya kenaikan tersebut. Namun, ia mengaku belum mengetahui secara pasti penyebabnya.
"Iya memang sudah naik, tapi untuk penyebab pastinya kami belum tahu. Kemungkinan karena konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz,” ujarnya singkat.
Kenaikan harga ini langsung dirasakan masyarakat.
Baca juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik di Palangka Raya, Pertamax Turbo Rp19.850 dan Dexlite Rp 24.150 per Liter
Baca juga: Antre BBM Jenis Dexlite Berjam-jam, Sopir di Palangka Raya Keluhkan Penghasilan Menurun
Abdi, seorang pengendara roda empat di Sampit, mengaku harus merogoh kocek lebih dalam saat mengisi BBM jenis Dexlite.
“Kalau dulu isi Rp500 ribu bisa dipakai agak lama, sekarang harus sekitar Rp700 ribu untuk pemakaian yang sama. Naiknya hampir Rp10 ribu per liter, jelas berat,” keluhnya.
Meski merasa terbebani, Abdi hanya bisa pasrah dan berharap ada kebijakan yang meringankan masyarakat.
“Kita sebagai masyarakat cuma bisa mengikuti saja, keputusan ada di pemerintah pusat. Tapi semoga ke depan bisa lebih stabil,” tambahnya.