TRIBUN-MEDAN.com - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Selat Hormuz kini kembali terbuka bagi kapal-kapal komersial, Jumat (17/4/2026).
Langkah tersebut langsung mengubah dinamika konflik di Timur Tengah.
Al Jazeera melaporkan, pembukaan jalur ini disebut berlaku selama periode gencatan senjata, namun tetap disertai pengawasan ketat dari otoritas Iran.
Kapal-kapal komersial diizinkan melintas, tetapi hanya melalui rute tertentu dan dengan koordinasi militer, menandakan bahwa kontrol Iran atas jalur strategis ini masih sangat kuat.
Baca juga: 3 Kriteria Menteri yang Diprediksi Didepak Prabowo, Isu Reshuffle Kabinet Kembali Mencuat
Pasar Global Bereaksi Cepat, Harga Minyak Langsung Turun
Dampak paling cepat terlihat di pasar energi global, di mana harga minyak langsung anjlok tajam hanya beberapa jam setelah pengumuman tersebut.
Minyak mentah Brent turun lebih dari 10 persen hingga berada di bawah 90 dolar AS per barel, menghapus sebagian besar lonjakan harga yang terjadi sejak konflik pecah.
Penurunan ini mencerminkan meredanya kekhawatiran gangguan pasokan dari salah satu jalur energi terpenting dunia.
The Guardian melaporkan bahwa Selat Hormuz sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global, sehingga setiap perubahan statusnya langsung mengguncang pasar internasional.
Baca juga: TAK Lagi Semua Anak, MBG Bakal Dibagikan Hanya ke Anak Kurang Gizi dan Kurang Mampu
Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa pemulihan lalu lintas kapal tidak akan terjadi secara instan karena faktor keamanan masih belum sepenuhnya terjamin.
Trump Klaim Kesepakatan, Iran Beri Sinyal Berbeda
Presiden AS Donald Trump menyambut pengumuman tersebut dengan mengklaim bahwa Iran telah sepakat untuk tidak lagi menutup Selat Hormuz di masa depan.
Ia bahkan menyebut momen itu sebagai “hari besar bagi dunia”, sekaligus mengindikasikan adanya kemajuan dalam negosiasi yang sedang berlangsung.
Trump juga menyatakan Iran bersedia menangguhkan program nuklirnya tanpa batas waktu, meski pernyataan ini belum mendapat konfirmasi resmi dari Teheran.
BBC melaporkan bahwa otoritas Iran tetap bersikeras bahwa pengayaan uranium merupakan hak yang tidak bisa dinegosiasikan.
Baca juga: SOSOK Kadis ESDM Jatim Ditangkap Pungli 2 Bulan Jelang Pensiun: tak Ada Uang, Izin tak Keluar
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan memperingatkan bahwa status Selat Hormuz akan ditentukan oleh situasi di lapangan, bukan oleh klaim politik.
Ia menegaskan bahwa selat tersebut bisa kembali ditutup jika tekanan terhadap Iran, termasuk blokade AS, terus berlanjut.
Hormuz Dibuka, tapi Blokade AS Masih Membayangi
Meski jalur pelayaran dibuka, Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran sebagai bagian dari tekanan strategisnya.
Trump menegaskan bahwa blokade tersebut hanya akan dicabut setelah kesepakatan damai benar-benar tercapai secara penuh.
Kondisi ini menciptakan situasi yang paradoks, di mana jalur dibuka tetapi risiko tetap tinggi, membuat banyak perusahaan pelayaran bersikap hati-hati.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan masih memverifikasi apakah pembukaan tersebut benar-benar memenuhi prinsip kebebasan navigasi global.
Pergerakan kapal di kawasan pun dilaporkan masih terbatas, menandakan kepercayaan pasar belum sepenuhnya pulih.
Di tengah perkembangan ini, sekitar 40 negara berkumpul dalam konferensi di Paris untuk membahas langkah bersama mengamankan Selat Hormuz.
Forum yang dipimpin Prancis dan Inggris itu menyoroti pentingnya menjaga jalur energi global tetap terbuka dan aman.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut pembukaan selat, tetapi mendesak agar dilakukan secara penuh dan tanpa syarat.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa solusi yang diambil harus berkelanjutan dan tidak hanya bersifat sementara.
Sementara itu, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut perkembangan ini sebagai kabar positif, tetapi mengingatkan bahwa situasi masih sangat rapuh.
Gencatan Senjata Belum Menjamin Stabilitas Kawasan
Di lapangan, gencatan senjata di Lebanon memang membawa jeda pertempuran dan memicu kembalinya warga sipil ke rumah mereka.
Namun, laporan serangan drone Israel menunjukkan bahwa konflik belum sepenuhnya berhenti.
Ketegangan antara Israel dan Hizbullah masih menjadi ancaman nyata bagi stabilitas kawasan.
The Guardian melaporkan bahwa risiko eskalasi tetap tinggi meski ada jeda konflik sementara.
Pembukaan Selat Hormuz memang menjadi sinyal positif bagi pasar global, tetapi belum cukup untuk memastikan stabilitas jangka panjang.
Selama tekanan militer dan politik masih berlangsung, jalur energi dunia ini tetap berada dalam bayang-bayang ketidakpastian.
(Tribun-Medan.com)