Pemerintah Iran membantah membuka Selat Hormuz sepenuhnya pada Jumat (17/4/2026) di tengah gencatan senjata.
Iran menegaskan, Teheran tetap akan membatasi jumlah kapal yang melintas dan memberlakukan tarif tol.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan, setiap kapal yang melintasi jalur pelayaran vital itu wajib berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Pihak IRGC juga tetap memegang kendali untuk memblokir kapal-kapal yang berasal dari negara-negara yang dianggap musuh oleh Iran.
Pernyataan itu disampaikannya melalui cuitan di media sosial X pada Sabtu (18/4).
Hal senada juga disampaikan anggota Komisi Keamanan Nasional di Parlemen Iran, Ali Khezrian.
Ia menyatakan, penarikan biaya atau tarif tersebut akan terus diberlakukan.
Sebelumnya, Ghalibaf memberikan peringatan keras soal keberlanjutan blokade laut yang masih dilakukan Amerika Serikat di Selat Hormuz.
Ia mengancam Selat Hormuz akan kembali ditutup jika angkatan laut AS tetap menghalangi lalu lintas maritim dari pelabuhan-pelabuhan Iran.
Atas hal itu, Ghalibaf menekankan, akses selat tersebut sangat bergantung pada tindakan Amerika Serikat di lapangan.
"Jika blokade berlanjut, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka," tulis Ghalibaf pada Sabtu (18/4/2026).
Terkini, ia menyebut ke depannya, lalu lintas di wilayah tersebut akan berada di bawah kendali penuh otoritas Teheran.