Bocah Sahril di Banjarharja Pangandaran, Belasan Tahun Berjuang Melawan Penyakit Jantung
ferri amiril April 18, 2026 01:35 PM

 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna


TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Sejak lahir, kehidupan Sahril Nugroho (11) sudah diwarnai perjuangan tidak ringan. Bocah yang kini duduk di bangku kelas 5 SD itu harus bertahan menghadapi penyakit jantung yang dideritanya sejak bayi.

Sahril tinggal bersama kedua orang tuanya di Dusun Bulakbanjar RT 08/03, Desa Banjarharja, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran. 

Ibunya, Endang Purwanti (40), masih mengingat jelas kondisi anaknya saat pertama kali dilahirkan.

"Waktu lahir badannya biru semua, detak jantungnya sangat cepat. Sekarang aja itu kaki dan tangannya warna biru," ujar Endang kepada Tribun Jabar di rumahnya sesaat ditengok jajaran Disdikpora Kabupaten Pangandaran, Sabtu (18/4/2026) pagi.

Kondisi itu membuat Sahril harus segera mendapatkan penanganan medis. Ia sempat dibawa ke dokter jantung di Banyumas, Jawa Tengah, sebelum akhirnya dirujuk ke Jakarta. 

Di Jakarta, dokter mendiagnosis Sahril mengalami kebocoran jantung disertai penyempitan pembuluh. Sejak saat itu, perjalanan panjang pengobatan pun dimulai.

Awalnya, Sahril sudah dijadwalkan menjalani operasi saat usianya masih enam bulan. Namun, keterbatasan ekonomi membuat rencana tersebut terpaksa ditunda.

"Tadinya sudah ada jadwal operasi, tapi karena tidak punya biaya, akhirnya batal. Harus cari uang dulu," katanya.

Operasi baru bisa dilakukan tujuh tahun kemudian, setelah keluarga mengumpulkan biaya yang dibutuhkan. Meski begitu, perjuangan belum berakhir. 

Hingga kini, Sahril masih harus rutin menjalani kontrol dan serangkaian pemeriksaan lanjutan, seperti echocardiography, CT scan, hingga pemeriksaan THT sebelum tindakan medis berikutnya.

"Besok juga rencana mau kontrol lagi, CT scan. Operasinya nanti kemungkinan dua kali, karena sebelumnya sudah sekali," ucap Endang.

Kondisi ekonomi keluarga menjadi tantangan tersendiri. Suami Endang bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.

"Kadang ada kerjaan, kadang tidak. Untuk kebutuhan sehari-hari juga kadang cukup, kadang tidak," ujarnya lirih.

Namun di tengah keterbatasan, secercah harapan datang. Sejak Sahril bersekolah, bantuan mulai mengalir. 

Selain dari program BPJS Kesehatan, dukungan juga datang dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pangandaran serta para guru di sekolahnya.

"Alhamdulillah sekarang ada bantuan. Dulu semuanya biaya sendiri," ucap Endang.

Bantuan itu bermula saat pihak keluarga berkomunikasi dengan guru Sahril mengenai kondisi kesehatannya. Sejak itu, perhatian dan kepedulian terus mengalir.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pangandaran, Soleh Supriadi, mengatakan pihaknya bersama para guru sudah beberapa kali memberikan bantuan untuk pengobatan Sahril.

"Para guru secara sukarela urunan membantu biaya pengobatan," ujarnya.

Pihak Disdikpora pun terus berkoordinasi dengan organisasi guru untuk memantau perkembangan kesehatan Sahril.

"Tentu ini bentuk empati kita terhadap yang sedang diuji. Kami juga mengapresiasi para guru yang sudah membantu dan menjadi teladan," ucap Soleh.

Di balik segala keterbatasan, harapan tetap terjaga. Keluarga dan semua pihak yang peduli berharap kondisi Sahril terus membaik, sehingga ia bisa menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya.

"Semoga penyakit Sahril cepat diangkat, tetap semangat, dan bisa segera sehat," ujarnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.