Motif Siswa SMA Negeri 1 Purwakarta Olok-olok Guru Perempuan, Dedi Mulyadi Usul Sanksi
Ardhi Sanjaya April 18, 2026 06:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Sebuah video pendek yang memperlihatkan aksi tidak terpuji sejumlah siswa SMA Negeri 1 Purwakarta beredar di media sosial dan menuai kecaman publik. Dalam rekaman berdurasi 31 detik tersebut, para siswa tampak mengolok-olok seorang guru perempuan di dalam ruang kelas.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, mengonfirmasi bahwa insiden tersebut melibatkan sembilan orang siswa kelas XI IPS. 

Peristiwa ini terjadi pada Kamis (16/4/2026), namun baru viral di media sosial pada Sabtu (18/4/2026).

Aksi pelecehan ini bermula tepat setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) terkait pengolahan aneka makanan selesai dilaksanakan.

Guru yang menjadi sasaran olok-olok diketahui bernama Atum, seorang pengajar yang baru bertugas di sekolah tersebut.

 “Setelah kegiatan itu selesai, kemudian terjadi aksi yang tidak terpuji dari anak-anak tersebut,” ujar Purwanto di Bandung, Sabtu (18/4/2026).

Dalam cuplikan video yang beredar, terlihat seorang siswi berkerudung di bagian belakang kelas melakukan tindakan provokatif dengan mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah guru yang berada di depannya.

Hingga saat ini, pihak Dinas Pendidikan Jabar masih mendalami motif di balik tindakan nekat para siswa tersebut.

“Untuk alasannya, kami belum sampai ke sana. Itu masih didalami oleh pihak sekolah,” tambah Purwanto.

Purwanto memastikan, kejadian ini merupakan yang pertama kali terjadi di SMAN 1 Purwakarta.

Pihak SMAN 1 Purwakarta telah mengambil langkah cepat dengan memanggil para siswa yang terlibat beserta orangtua mereka. Purwanto menyebutkan bahwa para siswa telah mengakui kesalahan mereka dan merasa menyesal.

Di sisi lain, para orangtua juga terpukul melihat perilaku anak-anak mereka.

“Orangtua juga menyayangkan kejadian ini, dan sekolah langsung melakukan langkah pembinaan,” jelas Purwanto.

Sebagai konsekuensi awal, sekolah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada sembilan siswa tersebut.

Dedi Mulyadi usulkan hukuman membersihkan toilet Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut menyampaikan keprihatinannya atas fenomena ini.

Meski pihak sekolah telah memberikan sanksi skorsing, Dedi memberikan saran agar hukuman dialihkan ke bentuk kerja sosial yang lebih mendidik. 

"Saya memberikan saran, anak itu tidak skorsing selama 19 hari, ini saran. Mudah-mudahan sarannya bisa digunakan, tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah. Menyapu dalam setiap hari dan membersihkan toilet. Ini yang saya sarankan," ucap Dedi Mulyadi.

Menurut Dedi, sanksi fisik berupa kerja sosial jauh lebih efektif dalam membentuk karakter daripada sekadar merumahkan siswa. Ia menyarankan durasi hukuman ini bisa berlangsung satu hingga tiga bulan, tergantung perubahan sikap siswa.

"Prinsip dasar adalah setiap hukuman yang diberikan harus hukuman yang memberikan manfaat bagi pembentukan karakter. Bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orangtua dan oleh gurunya," pungkas Dedi.

Di sisi lain, kejadian ini menjadi sinyal bagi Disdik Jabar untuk mengevaluasi kebijakan di lingkungan sekolah, terutama terkait penggunaan ponsel pintar.

Purwanto menilai lingkungan digital memberikan pengaruh besar terhadap perilaku spontan siswa.

“Penggunaan ponsel juga perlu dievaluasi. Kadang anak mengekspresikan sesuatu secara spontan, dan itu bagian dari refleksi karakter mereka,” tegas Purwanto.

Pihak Disdik memastikan para siswa akan menjalani pembinaan karakter khusus yang berfokus pada penguatan empati dan kedisiplinan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.