TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lonjakan harga BBM nonsubsidi di SPBU Pertamina dan SPBU swasta yang berlaku mulai hari ini, Sabtu, 18 April 2026 berpotensi mendorong naiknya minat terhadap kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV).
Pendapat tersebut disampaikan pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menanggapi kenaikan tajam harga BBM nonsubsidi.
Menurut Yannes, masyarakat kelas menengah atas yang selama ini menjadi pembeli utama kendaraan listrik akan semakin mempertimbangkan efisiensi biaya operasional.
"Kenaikan BBM nonsubsidi yang jadi kunci karena segmen middle upper class yang jadi pemilik lebih dari 1 kendaraan yang jadi segmen terbesar pembelian EV, karena so far kelompok inilah yang jadi pembeli terbesar EV ini," ucap Yannes.
Ia menambahkan, lonjakan biaya bahan bakar membuat perbandingan biaya operasional kendaraan listrik semakin kompetitif dibandingkan mobil bermesin konvensional (internal combustion engine/ICE).
"Biaya operasional BBM yang melonjak inilah membuat rasio biaya operasional BEV jadi semakin murah berbanding mobil ICE konvensional," terang Yannes.
Sementara itu, kenaikan harga Pertamax Turbo juga diperkirakan akan mengubah perilaku konsumen. Dengan selisih harga yang kini mencapai sekitar 36 persen, sebagian pengguna diprediksi beralih ke BBM dengan oktan lebih rendah seperti Pertamax.
Baca juga: Pengamat: Kenaikan BBM Nonsubsidi Bisa Tekan Daya Beli dan Geser Minat Konsumen Otomotif
"Meski kelompok middle-up (pemilik mobil premium Euro 5+) sensitif performa, banyak yang downgrade karena perbedaan oktan (RON 98 vs RON 92) tidak terasa signifikan di lalu lintas kota," ungkapnya.
Meski demikian, segmen kendaraan performa tinggi dan pecinta mobil sport diperkirakan tetap bertahan menggunakan BBM beroktan tinggi demi menjaga performa dan keawetan mesin.