Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis, Warga Diprediksi Beralih ke Kendaraan Listrik
Dedi Qurniawan April 18, 2026 06:33 PM

POSBELITUNG.CO - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi mulai hari ini Sabtu, 18 April 2026 diprediksi membuat warga akan beralih ke kendaraan listrik.

Seperti diketahui, kenaikan harga yang terjadi cukup signifikan, terutama pada produk BBM beroktan tinggi dan diesel nonsubsidi.

Harga Pertamax Turbo kini dibanderol Rp 19.400 per liter dari sebelumnya Rp 13.100.

 Sementara itu, Pertamina Dex melonjak menjadi Rp 23.900 per liter dari Rp 14.500 dan Dexlite naik ke Rp 23.600 per liter dari Rp 14.200.

Peneliti dan pengamat otomotif LPEM UI Riyanto menilai kenaikan ini memang akan berdampak pada penjualan kendaraan listrik, namun tidak akan secara drastis mendongkrak penjualan kendaraan listrik.

"Ada dampaknya, tapi tidak banyak. Karena Pertalite dan Pertamax harganya masih sama. Dampaknya ke otomotif (secara keseluruhan) lebih disebabkan karena melemahnya ekonomi dan daya beli," tutur Riyanto saat dihubungi Tribunnews.com, Sabtu (18/4/2026).

Faktor utama yang menekan pasar otomotif saat ini bukan semata harga BBM nonsubsidi, melainkan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Meski demikian, kenaikan harga BBM diesel nonsubsidi dinilai akan memberikan tekanan pada segmen kendaraan berbahan bakar solar.

"Barangkali penjualan mobil diesel akan terpengaruh, karena kan harga diesel non subsidi naik cukup besar," ungkap Riyanto. Ia juga melihat adanya potensi perubahan perilaku konsumen, khususnya di segmen pengguna BBM beroktan tinggi.

Kenaikan signifikan pada Pertamax Turbo diperkirakan akan mendorong penggunanya beralih ke produk dengan harga lebih rendah.

"Betul. Pertamax Turbo naik cukup tinggi, sementara Pertamax tidak atau harganya tetap. Saya menduga pengguna Pertamax Turbo akan beralih ke Pertamax atau ke Pertamax Green," jelasnya.

Lebih lanjut, Riyanto menilai dampak inflasi akibat kebijakan ini relatif terbatas. Pasalnya, kenaikan terbesar terjadi pada jenis BBM yang tidak dikonsumsi secara luas oleh masyarakat.

Ia mengingatkan adanya potensi lonjakan konsumsi BBM subsidi, khususnya solar. Peralihan dari pengguna Dexlite dan Pertamina Dex ke solar subsidi diperkirakan akan meningkatkan beban anggaran negara.

"Pengguna Dexlite atau Pertamina Dex akan berpindah ke solar subsidi. Dugaan saya, konsumsi solar subsidi akan melebihi kuota dan pemerintah harus menambah subsidi atau dana kompensasi solar," jelas Riyanto.

Warga Beltim Terpaksa Beli Dexlite

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi membuat warga Belitung Timur pasrah saja.

Mereka mau tak mau tetap beli karena kebutuhan.

Warga Belitung Timur, Susilawati (30) misalnya.

Ia menyebut harga dexlite bahan bakar mobilnya kini sudah terlalu tinggi.

"Terlalu tinggi harganya buat masyarakat biasa kayak kami. Tadi beli Rp500.000, biasanya dengan uang segitu jarum BBM naiknya tinggi, ini cuma naik sedikit," ujar Susilawati.

Uang setengah juta rupiah yang biasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan perjalanan jauh, kini terasa cukup kecil.

Susilawati mengaku kaget saat mengetahui kenaikannya mencapai hampir Rp10 ribu per liter dalam semalam.

"Tadi saya dengar ada 1-2 mobil yang pas tahu harganya langsung lari. Mungkin kemahalan bagi mereka. Tapi saya tetap beli karena memang sudah kosong benar, kalau tidak beli tidak bisa balik," ucapnya.

Rencana perjalanan atau jalan-jalan bersama keluarga kini harus Susilawati pikir-pikir ulang karena kenaikan ini.

"Ini sih harus ngirit-ngirit kayaknya, tidak bisa jalan ke mana-mana dulu. Harapannya ya tetap ada supaya harganya turun lagi kayak semula, biar nyaman buat masyarakat," ungkapnya.

Stok Dexlite Melimpah, Pembeli Sepi

Kepala Pengelola SPBU Desa Padang, Jumhari mengatakan kenaikan kali ini adalah satu di antara yang paling signifikan selama pengalamannya. 

Kenaikan yang mencapai Rp9.650 per liter ini diakuinya membuat suasana SPBU menjadi tidak seperti biasanya.

"Antreannya kosong sekarang. Tidak ada yang antre di Dexlite, sepi sampai sekarang. Padahal pengumuman naiknya baru tadi malam," ujar Jumhari.

Fenomena sepinya pembeli ini dianggap sebagai respons spontan masyarakat terhadap harga yang dinilai terlalu tinggi.

Bagi kendaraan logistik atau operasional industri, kenaikan biaya BBM hingga ribuan rupiah per liter akan berdampak langsung pada biaya operasional harian.

Jumhari membeberkan bahwa stok 17 ton yang dimiliki SPBU saat ini kemungkinan besar akan terserap lebih lambat dari biasanya. Apalagi pelanggan industri yang rutin mengambil volume besar sudah mulai absen dalam beberapa pekan terakhir.

Harga Dexlite ini juga Jumharu khawatirkan akan memicu keresahan warga, terutama imbasnya pada harga jasa transportasi atau angkutan barang.

Jumhari pun terlihat seidkit enggan berkomentar banyak mengenai kenaikan harga tersebut. Baginya, tugas sebagai pengelola SPBU adalah memastikan sistem perubahan harga berjalan lancar di dispenser, struk, dan totem sesuai instruksi.

"Ya pengaruhnya jelas ke pembelian. Tapi kami tidak bisa berbuat banyak. Namanya kebijakan dari pusat, kami yang di bawah tinggal menjalankan saja," ucapnya.

Jumhari berharap masyarakat bisa memahami bahwa perubahan harga ini bukan merupakan kebijakan pihak SPBU setempat, melainkan murni penyesuaian dari Pertamina mengacu pada harga pasar minyak dunia.

"Harapannya ya tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Kita jalani saja apa yang sudah diputuskan," tutupnya. 

Harga BBM Naik

Seperti diketahi, harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax jenis tertentu dan Dexlite mengalami kenaikan per 18 April 2026.

Pertamax Turbo misalnya melonjak jadi Rp19.400/ liter.

Ya, PT Pertamina (Persero) resmi melakukan penyesuaian harga untuk sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku efektif mulai hari ini, Sabtu (18 April 2026). 

Kebijakan ini menyusul keputusan Pertamina sebelumnya pada 1 April 2026 untuk tetap menahan harga di tengah lonjakan harga energi global akibat dampak perang di Timur Tengah.

Berdasarkan informasi dari laman mypertamina.id, penyesuaian harga kali ini menyasar BBM jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Sementara itu, BBM nonsubsidi lainnya seperti Pertamax dan Pertamax Green 95 tetap mempertahankan harga lama dan tidak mengalami perubahan. (Tribunnews/ Posbelitung.co/ Kausar Fakhri Nugraha)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.