Tangan Dingin Frank Lampard Bawa Coventry City Promosi ke Premier League
Tiara Shelavie April 18, 2026 06:54 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Frank Lampard telah memberikan kejutan dengan membawa Coventry City promosi ke Premier League atau kasta tertinggi sepak bola Inggris untuk pertama kalinya dalam 25 tahun.

Sejak kekalahan 3-2 di Aston Villa pada tahun 2001 silam, tim berjuluk The Sky Blues itu terpuruk ke ambang kehancuran.

Coventry berjibaku di kasta kedua Championship selama 11 tahun, kemudian degradasi ke League One (kasta ketiga) dan mengalami kebangkrutan pada tahun 2013.

Bahkan untuk pertama kalinya dalam 59 tahun (musim 1958/1959), Coventry City turun ke divisi empat sepak bola Inggris pada tahun 2017.

Berbagai protes dan kejadian terjadi, termasuk invasi lapangan sebagai bentuk protes terhadap kepemilikan yang menjual klub kepada Doung King pada tahun 2023.

Tapi siapa sangka, beda tangan, beda cara, dan beda pula hasil yang diberikan.

Kebangkitan Coventry City

Frank Lampard datang ke Coventry pada November 2024 menggantikan Mark Robins.

Pergantian itu terbilang sukses karena pada musim pertamanya Lampard mampu membawa The Sky Blues ke finis di 5 klasemen Championship dan berhak melakoni laga play-off promosi Liga Inggris dengan melawan Sunderland.

Tapi sayang, keberuntungan belum berpihak kepada mereka karena kalah dengan agregat 3-2.

Dari kegagalan Lampard belajar. Ia menanamkan fondasi selama pramusim 2025/2026.

Kiper Carl Rushworth bergabung dengan status pinjaman dari Brighton. Pemain yang memberikan dampak besar dalam perjalanan Coventry hingga mampu duduk di singgasana klasemen Championship dengan keunggulan 11 poin dari Ipswich hingga pekan 43.

Baca juga: Hasil Man City vs Arsenal, The Gunners Hampir Dipastikan Juara Liga Inggris Jika Menang di Etihad

Di masa transfer musim panas, Lampard sejatinya tidak banyak mendatangkan pemain, dan mayoritas masih menggunakan skuad musim sebelumnya.

Ia melakukan tambahan di jendela transfer paruh musim dengan mendatangkan Romain Esse (Crystal Palace) dan Frank Onyeka (Brentford) untuk menambah kekuatan di lini serang dan tengah.

Menurut laporan BBC, apa yang dikerjakan Lampard dalam membangun skuad The Sky Blues membuat banyak pengamat terkesan.

Lampard bertujuan meraih tiket promosi ke Liga Inggris di awal musim, tetapi seiring berjalannya waktu mereka menjadi salah satu penantang gelar Championship, dan kini sudah hampir terealisasi.

Mantan kapten dan pelatih Chelsea itu juga berhasil memikat hati sang pemilik klub, King yang memiliki kantor di area latihan klub.

King sering hadir, mengobrol dengan staf, dan mengenal mereka semua dengan nama.

Dia juga sering terlihat di kantin klub untuk membuat kopi dan sekadar ngobrol dengan sang juru masak.

Tidak ada area yang memisahkan tim utama, dan itu ternyata mendorong suasana inklusif di tempat pemusatan latihan Coventry.

Bagi para pemain, tempat latihan menjadi tempat untuk membangun chemistry dan juga semangat tim.

Tempat gym diperluas sehingga memungkinkan semua pemain menjalani sesi latihan dalam waktu bersamaan. Hal itu tidak seperti sebelumnya karena tim harus dibagi karena keterbatasan tempat.

Jalan masuk menuju lapangan latihan pun telah diperbaiki, ditata ulang, dan dikelola dengan profesional. Termasuk juga tepian rumput yang tidak terawat sebelumnya.

Terlepas dari inovasi tersebut, menunjuk Lampard adalah salah satu keputusan tepat yang diambil oleh klub.

Lampard memiliki aura seorang pemenang karena kesuksesannya ketika menjadi pesepak bola.

Ia memiliki pengaruh untuk meyakinkan para pemain bergabung dengan Coventry selain memastikan skuad muda dan berpengalaman yang ia miliki tetap menjadi bagian dari tim.

Dia Contohnya ketika memastikan Jake Bidwell yang mampu mencatatkan hapir 150 penampilan untuk klub, lalu Jamie Allen seorang veteran yang telah berada di skuad The Sky Blues selama tujuh tahun hampir 200 pertandingan.

Meski minim menit bermain, Lampard mampu meyakinkannya untuk berada di dekatnya.

Ada Ben Wilson, kiper ketiga yang menjadi sosok motivator di ruang ganti dan pinggir lapangan. Ia mampu menyoroti kekuatan tim dan kemampuan manajemen Lampard dalam mengelola pemain.

Tak ketinggalan peran sang kapten Matt Grimes saat menyampaikan pesan motivasi dan inspiratig tentang tim-tim lain yang memenangkan gelar juara.

Hingga akhirnya, semua kepercayaan yang dibutuhkan Lampard dalam timnya berada dalam genggaman.

"Saya mencoba untuk bersikap sederhana dan lugas. Saya tidak suka banyak bicara," kata Lampard dikutip dari BBC.

"Situasi 15 tahun lalu dalam pertandingan besar mungkin berbeda dengan situasi mereka, tetapi mungkin itu salah satu sisi positif dari memiliki karier yang panjang dan kemudian menjadi pelatih. Anda telah mengalaminya."

"Saya bisa memberi mereka sedikit dorongan dan terkadang Anda mencoba mencari situasi yang tepat," tambahnya.

Dorongan-dorongan itu jarang dibutuhkan oleh timnya. Coventry hanya sekali kalah dalam dua pertandingan liga berturut-turut yang terjadi pada Januari lalu dari Norwich dan QPR.

Sejak saat itu, Coventry hanya kalah sekali dalam 13 pertandingan, dan memenangkan delapan di antaranya.

Dari semua perubahan dan dorongan yang telah dilakukan Lampard dalam tim, tidak ada yang lebih besar daripada mengubah pola pikir pesimistis tim The Sky Blues.

Setelah berbagai terpaan mengadang dari dalam maupun luar lapangan, mereka mampu meraih tiga promosi dalam delapan tahun, dan kembali ke kasta tertinggi telah mengembalikan kepercayaan diri mereka.

"Saya menyaksikan mereka terdegradasi dari liga bawah. Mungkin para penggemar berhak memiliki sindrom itu," beber Lampard.

"Saya tumbuh sebagai penggemar West Ham dan situasinya serupa, meskipun dengan cara yang berbeda."

"Seperti yang mereka ingat pada tahun 1966, saya pernah menjadi penggemar Everton selama setahun dan situasinya mirip."

"Itu bagian dari keseruannya, kedengarannya tidak menyenangkan, tetapi kamu harus menderita untuk menikmati hal-hal baik," tutupnya.

(Tribunnews.com/Sina)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.