Aksi penolakan kemunculan warung mie babi di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, viral. Diketahuiakses menuju lokasi sempat ditutup menggunakan tumpukan tanah. Begini kronologinya.
Warung Mie dan Babi Tepi Sawah mendadak jadi sorotan setelah jalan menuju warung nonhalal tersebut terhalang gundukan tanah. Ada juga spanduk bertuliskan penolakan warga.
Dilansir dari informasi yang dihimpun detikJateng (18/04/2026), pengelola warung, Jodi Sutanto, menjelaskan bahwa penutupan akses terjadi pada Kamis (16/4) pagi saat warung belum beroperasi.
"Kemarin orang kami waktu mau keluar melihat ada dump truck yang sudah selesai menurunkan tanah. Saat orang kita datang, truk sudah pergi," ujarnya. Ia menambahkan bahwa jalan tersebut merupakan akses umum yang juga digunakan warga dan petani sekitar.
Jodi mengaku tidak mengetahui pihak yang menumpuk tanah tersebut maupun alasan di balik tindakan itu. Ia menilai kejadian tersebut sebagai bentuk persekusi terhadap usahanya.
Suasana jalan menuju warung Mie dan Babi Tepi Sawah, di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (17/4/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
|
Untuk menghindari konflik berkepanjangan, pihaknya memilih meratakan kembali tanah agar akses jalan bisa digunakan. "Yang penting akses ke tempat saya bisa masuk," katanya.
Selain penutupan jalan, spanduk penolakan juga dipasang di sekitar lokasi warung. Jodi menyebut pemasangan itu sudah terjadi untuk kedua kalinya.
Meski demikian, ia menyatakan menghormati aspirasi warga. "Kalau pemasangan MMT (spanduk vinyl) monggo saja, itu hak aspirasi mereka. Kita sebagai pengusaha juga punya hak," ujarnya.
Warung Mie dan Babi Tepi Sawah itu diketahui baru beroperasi sejak Maret 2026 dan sudah mengantongi izin resmi usaha serta mencantumkan keterangan bahwa makanan yang dijual nonhalal. Namun, keberadaannya memicu polemik di tengah masyarakat sekitar.
Kepala Desa Parangjoro, Hardiman, membantah bahwa tumpukan tanah sengaja digunakan untuk menutup akses. Ia menyebut pengurukan tersebut merupakan rencana lama warga untuk meninggikan jalan, jadi bukan bentuk persekusi.
"Tidak ditutup, itu kebetulan warga memang sudah ada agenda memperbaiki jalan karena terlalu rendah," jelasnya. Meski demikian, ia mengakui adanya gejolak karena warga merasa tidak dilibatkan dalam pembukaan usaha mie babi tersebut.
"Kami juga tidak ditembusi, tahu-tahu buka (warung mie babi)," ungkap Hardiman.
Di tengah polemik tersebut, Jodi menyatakan terbuka untuk mediasi dengan warga maupun pemerintah setempat agar tidak ada lagi konflik seperti ini di kedepannya.
"Kita welcome kalau ada mediasi, siapa tahu ada solusi terbaik," ujarnya. Hingga kini, pemerintah desa masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah kabupaten, sementara kedua pihak belum mengajukan mediasi resmi.
Artikel ini sudah tayang di detikJateng dengan judul Viral Warung Mi Babi di Sukoharjo Ditolak Warga hingga Akses Ditutup Tanah






