Pater Otto Dikukuhkan Jadi Guru Besar IFTK Ledalero, Rektor Unipa Soroti Kontribusi bagi Demokrasi
Nofri Fuka April 18, 2026 08:36 PM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Rektor Universitas Nusa Nipa (Unipa), Dr. Jonas K. G. D. Gobang, S.Fil, MA menyampaikan ucapan selamat (proficiat) dan sukses atas pengukuhan Profesor Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, sebagai Guru Besar Filsafat Politik di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero.

Dalam keterangannya, ia menilai orasi ilmiah yang disampaikan Pater Otto dalam prosesi pengukuhan tersebut sangat luar biasa dan sarat makna, terutama dalam menjelaskan peran filsafat politik dalam kehidupan demokrasi.

“Secara pribadi, saya sebagai alumni IFTK Ledalero merasa bangga atas pengukuhan guru besar filsafat politik bagi Pater Otto,” ujar Rektor Gery.

Menurutnya, dalam konteks Indonesia, filsafat politik memiliki peran penting sebagai landasan moral dan intelektual dalam pelaksanaan demokrasi. 

 

Baca juga: Bupati Flores Timur: Gagasan Profesor Otto Gusti Penting untuk Kesehatan Demokrasi Nasional

 

 

Ia menyoroti pesan utama dalam orasi ilmiah Pater Otto yang menekankan bahwa setiap keputusan politik, baik secara teoritis maupun praksis, harus didasarkan pada pemikiran filsafat yang jernih serta kemampuan melihat realitas secara konkret.

“Hal ini penting karena tujuan akhirnya adalah bonum commune atau kebaikan bersama. Pesan itu sangat kuat dalam orasi beliau,” jelasnya.

Lebih lanjut, Rektor Gery menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk terus membuka ruang kolaborasi, termasuk dengan IFTK Ledalero. 

Ia menilai kehadiran seorang guru besar di bidang filsafat politik akan memperkaya khazanah keilmuan dan memperkuat diskursus akademik.

“Semua perguruan tinggi harus membuka ruang kolaborasi. Kehadiran guru besar seperti Pater Otto tentu memberikan kontribusi ilmiah yang sangat berarti bagi dunia akademik,” pungkasnya.

Pencapaian Akademik yang Patut Diapresiasi

Bupati Flores Timur, Ir. Antonius Doni Dihen, menyampaikan ucapan selamat (proficiat) atas pengukuhan Pater Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, sebagai Guru Besar Filsafat Politik di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Sabtu (18/4/2026).

Ditemui di sela-sela kegiatan, Anton Doni menilai prosesi pengukuhan tersebut sebagai pencapaian akademik yang patut diapresiasi. 

Ia berharap kontribusi Pater Otto semakin signifikan, khususnya dalam memperkuat kualitas demokrasi di Indonesia.

“Kita berharap peranan dan kontribusi Pater Otto semakin baik untuk kesehatan demokrasi di Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, dalam berbagai keterbatasan yang ada, kehadiran seorang akademisi seperti Pater Otto sangat dibutuhkan untuk memberikan arah dan pencerahan bagi masyarakat. 

Ia juga menyinggung perlunya regenerasi pemikir di bidang filsafat politik di tingkat nasional.

“Kita pernah memiliki Romo Franz Magnis-Suseno yang kini sudah lanjut usia, serta almarhum Ignas Kleden. Kita berharap Profesor Otto Gusti dapat mengambil peran tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional, dalam penguatan demokrasi,” katanya.

Anton Doni mengaku terkesan dengan gagasan Pater Otto terkait “daya pertimbangan politik” yang dinilai penting dalam kehidupan demokrasi. 

Ia berharap konsep tersebut dapat dikembangkan secara lebih serius untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengambil keputusan politik.

Ia menambahkan, meskipun berbagai survei terkait legitimasi politik terus berkembang dan bahkan telah berstandar internasional, aspek kemampuan masyarakat dalam melakukan pertimbangan politik dinilai masih perlu diperkuat.

“Saya berharap Ledalero dapat menghasilkan pendekatan dan metodologi yang baik untuk mengukur dan meningkatkan kematangan masyarakat dalam mempertimbangkan keputusan terbaik dalam pilihan politik mereka,” tutupnya.

Gubernur Beri Apresiasi

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melkiades Laka Lena, juga menyampaikan ucapan selamat (proficiat) atas pengukuhan Pater Dr. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, sebagai Guru Besar Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri acara pengukuhan di Kampus IFTK Ledalero, Sabtu (18/4/2026).

Dalam sambutannya, Gubernur Melki berharap Pater Otto terus menjadi sosok inspiratif bagi keluarga besar Ledalero serta masyarakat Flores, NTT dan Indonesia secara luas.

“Semoga Pater Otto terus menjadi seorang pemikir yang kritis dan berkontribusi bagi kemajuan NTT dan Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan kalangan akademisi dalam mendorong pembangunan daerah, khususnya dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, keahlian Pater Otto di bidang filsafat politik merupakan aset penting yang dapat memberikan kontribusi pemikiran strategis bagi pembangunan.

“Pemikiran-pemikiran Pater Otto diharapkan dapat diintegrasikan dalam upaya pembangunan manusia di NTT,” kata Melki.

Pengukuhan ini dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat peran akademisi dalam memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan nasional.

Apresiasi dari Ketua DPRD Sikka

Mewakili Pemerintah Kabupaten Sikka, Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi, S.Fil, menyampaikan ucapan selamat atas pengukuhan tersebut. 

Ia menilai momentum ini sebagai peristiwa bersejarah, tidak hanya bagi IFTK Ledalero, tetapi juga bagi perkembangan pendidikan di Kabupaten Sikka.

“Selain menyampaikan proficiat, kami juga mengapresiasi kerja komunitas IFTK Ledalero yang dari waktu ke waktu terus menunjukkan peningkatan kualitas dalam membina generasi muda demi masa depan bangsa dan negara,” ujarnya.

Menurutnya, para alumni IFTK Ledalero telah berkiprah di berbagai bidang sebagai kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. 

Dalam perspektif filsafat politik, kata Stef, Ledalero dinilai menjadi ruang bersama untuk membangun diskursus politik yang konstruktif termasuk bagi pembangunan di Kabupaten Sikka.

Stef menambahkan, pihaknya sebagai praktisi politik mengapresiasi kontribusi pemikiran dari kalangan akademisi, khususnya Pater Otto, yang selama ini aktif memberikan kritik, saran serta gagasan bagi pembangunan daerah.

“Beliau juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, terutama dalam pembelaan hak asasi manusia. Ini merupakan kontribusi besar, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat,” katanya.

Stef juga menekankan pentingnya peran akademisi dalam memberikan pendidikan politik kepada masyarakat guna menciptakan demokrasi yang sehat dan berkualitas di masa depan.

Stefanus menegaskan komitmen DPRD Sikka untuk terus membuka ruang dialog dengan IFTK Ledalero, khususnya dengan Pater Otto, dalam mendorong pembangunan daerah.

“Kami terus membuka ruang dialog antara DPRD bersama IFTK Ledalero, terutama dalam menciptakan demokrasi yang sehat dan berkualitas demi pembangunan daerah ke depan,” tutupnya.

Dorong Penguatan Demokrasi 

Bupati Flores Timur, Ir. Antonius Doni Dihen juga menyampaikan ucapan selamat (proficiat) atas pengukuhan Pater Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, sebagai Guru Besar Filsafat Politik di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Sabtu (18/4/2026).

Ditemui di sela-sela kegiatan, Anton Doni menilai prosesi pengukuhan tersebut sebagai sebuah pencapaian akademik yang patut diapresiasi. 

Ia berharap kontribusi Pater Otto semakin signifikan, khususnya dalam memperkuat kualitas demokrasi di Indonesia.

“Kita berharap peranan dan kontribusi Pater Otto semakin baik untuk kesehatan demokrasi di Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, dalam berbagai keterbatasan yang ada, kehadiran seorang akademisi seperti Pater Otto sangat dibutuhkan untuk memberikan arah dan pencerahan bagi masyarakat. 

Ia juga menyinggung perlunya regenerasi pemikir di bidang filsafat politik di tingkat nasional.

“Kita pernah memiliki Romo Franz Magnis-Suseno yang kini sudah lanjut usia, serta almarhum Ignas Kleden. Kita berharap Profesor Otto Gusti dapat mengambil peran tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional, dalam penguatan demokrasi,” katanya.

Anton Doni mengaku terkesan dengan gagasan Pater Otto terkait “daya pertimbangan politik” yang dinilai penting dalam kehidupan demokrasi. 

Ia berharap konsep tersebut dapat dikembangkan secara lebih serius untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengambil keputusan politik.

Ia menambahkan, meskipun berbagai survei terkait legitimasi politik terus berkembang dan bahkan telah berstandar internasional, aspek kemampuan masyarakat dalam melakukan pertimbangan politik dinilai masih perlu diperkuat.

“Saya berharap Ledalero dapat menghasilkan pendekatan dan metodologi yang baik untuk mengukur dan meningkatkan kematangan masyarakat dalam mempertimbangkan keputusan terbaik dalam pilihan politik mereka,” tutupnya.

Simak Cuplikan Singkat Orasi Ilmiah Profesor Otto Gusti N Madung

Dalam orasi ilmiahnya dengan judul "Legitimasi Kekuasaan, Epistemologi Demokrasi, dan Daya Pertimbangan Politik: Refleksi Filsafat Politik bagi Masa Depan Demokrasi di Indonesia", Pater Otto, mengajukan satu kegelisahan mendasar: demokrasi modern cenderung terjebak pada prosedur, tetapi kehilangan kedalaman rasional yang seharusnya menopangnya. Pemilihan umum, menurut dia, memang penting sebagai mekanisme legal, tetapi tidak otomatis menghasilkan legitimasi yang kuat.

“Legitimasi kekuasaan tidak cukup bertumpu pada prosedur. Ia harus lahir dari kemampuan menjelaskan dan mempertanggungjawabkan keputusan politik secara rasional di hadapan publik,” ujar alumnus doktoral dari Institute of Philosophy, München, Jerman ini.

Di titik ini, ia memperkenalkan konsep epistemologi demokrasi sebuah pandangan bahwa demokrasi adalah proses kolektif untuk membangun pengetahuan bersama melalui diskursus terbuka. Kebenaran dalam demokrasi, dengan demikian, bukan sesuatu yang dimonopoli oleh elite, melainkan diuji melalui perdebatan publik yang terus berlangsung.

Namun, prasyarat dari proses tersebut adalah hadirnya warga yang memiliki daya pertimbangan politik. Tanpa itu, ruang publik kehilangan fungsinya sebagai arena pertukaran gagasan, dan perlahan berubah menjadi ruang propaganda.

Menurut Pater Otto, tantangan itu semakin nyata dalam lanskap digital saat ini. Media sosial yang semestinya memperluas partisipasi justru sering mempersempit perspektif melalui algoritma yang memperkuat preferensi pengguna.

Fenomena ruang gema atau echo chamber membuat warga cenderung hanya berinteraksi dengan pandangan yang sejalan dengan keyakinannya. Perbedaan tidak lagi dipahami sebagai bagian dari dinamika demokrasi, melainkan sebagai ancaman terhadap identitas kelompok.

Akibatnya, polarisasi sosial menguat, bahkan setelah kontestasi politik selesai. Dalam situasi seperti itu, opini publik lebih mudah dibentuk oleh emosi dan viralitas daripada argumentasi rasional.

“Opini tidak lagi lahir dari diskursus, tetapi dari mobilisasi sentimen,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Pater Otto, berisiko melahirkan demokrasi yang hanya prosedural, tetapi kehilangan substansi. Keputusan politik diambil bukan berdasarkan pertimbangan rasional, melainkan kekuatan mobilisasi dan kepentingan jangka pendek.

Dalam konteks itu, ia menekankan kembali pentingnya daya pertimbangan politik warga kemampuan untuk melihat persoalan dari berbagai sudut pandang dan membuat penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan di ruang publik.

Merujuk pada pemikiran Aristoteles, Pater Otto menyebut bahwa kebijaksanaan politik tidak terletak pada pengetahuan teoretis semata, melainkan pada phronesis, yakni kebijaksanaan praktis yang lahir dari pengalaman hidup bersama.

Dalam masyarakat Indonesia, menurut dia, bentuk-bentuk phronesis itu sesungguhnya telah lama hidup dalam praktik musyawarah, gotong royong, dan diskusi komunitas lokal. Persoalannya bukan pada rendahnya kapasitas warga, melainkan pada belum terbangunnya ruang publik modern yang mampu menampung dan mengembangkan praktik tersebut secara reflektif.

Karena itu, memperkuat demokrasi tidak cukup dilakukan melalui pembenahan prosedur politik. Yang lebih mendasar adalah membangun infrastruktur epistemik: media yang kredibel, akses informasi yang terbuka, serta sistem pendidikan yang mendorong kemampuan berpikir kritis dan dialogis.

Di sisi lain, Pater Otto juga menyoroti tanggung jawab etis negara dan elite politik. Praktik manipulasi informasi, penggunaan buzzer, dan eksploitasi identitas dinilai justru merusak kapasitas warga dalam menilai secara rasional.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menggerus kepercayaan publik terhadap institusi politik dan hukum.

Pada akhirnya, demokrasi, menurut Pater Otto, adalah sebuah proses reflektif yang melibatkan hubungan timbal balik antara warga, ruang publik, dan kekuasaan. Warga yang mampu menilai akan menghasilkan pengetahuan publik yang berkualitas. Dari situ, kekuasaan memperoleh legitimasi yang tidak dipaksakan, melainkan diakui secara rasional.

“Demokrasi adalah kerja bersama yang tidak pernah selesai. Ia bergantung pada kepercayaan bahwa manusia mampu berpikir, berdialog, dan mencari kebaikan bersama,” ujarnya.

Untuk diketahui, Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Pater Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, resmi dikukuhkan oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV NTT, Prof. Dr. Adrianus Amheka,ST., M.Eng, sebagai Guru Besar dalam bidang Filsafat Politik pada Sabtu (18/4/2026). Pengukuhan berlangsung di Aula Santo Thomas Aquinas Ledalero, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, sekitar pukul 09.00 WITA.

Sejumlah pejabat dan tokoh hadir dalam acara tersebut, antara lain Kepala LLDIKTI Wilayah XV Prof. Dr. Adrianus Amheka, ST., M.Eng, Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena beserta jajaran, Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen dan Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli, S.Fil, Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, S.E, Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, Uskup Larantuka, Mgr. Hans Monteiro, pimpinan perguruan tinggi, Rektor Universitas Nusa Nipa, Dr. Jonas K. G. D. Gobang, perwakilan Unika Santu Paulus Ruteng, mahasiswa serta keluarga Pater Otto.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.