TRIBUNNEWS.COM - Australia dan Jepang menandatangani kontrak pada Sabtu ini untuk pengiriman tiga unit pertama dari armada kapal perang rancangan Jepang senilai AU$10 miliar (sekitar Rp105 triliun), dengan unit pertama dijadwalkan diserahterimakan dalam tiga tahun ke depan.
Dilansir Associated Press, Mitsubishi Heavy Industries akan membangun tiga fregat kelas Mogami pertama di Jepang. Australia berencana membangun delapan unit lainnya di sebuah galangan kapal di negara bagian Australia Barat.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi dan mitranya dari Australia, Richard Marles, menghadiri upacara penandatanganan di atas fregat kelas Mogami JS Kumano — bagian dari Pasukan Bela Diri Maritim Jepang — yang berlabuh di lepas pantai kota Melbourne, Australia.
Kumano sebelumnya turut berpartisipasi dalam Latihan Kakadu, latihan maritim multinasional dua tahunan yang diselenggarakan oleh Australia.
Australia mengumumkan pada Agustus tahun lalu bahwa penawaran Jepang memenangkan kontrak penyediaan fregat serbaguna generasi berikutnya, mengalahkan MEKO A-200 dari Jerman yang diproduksi Thyssenkrupp Marine Systems.
Kesepakatan ini menjadi dorongan besar bagi industri pertahanan Jepang yang masih berkembang, setelah sebelumnya kalah dari perusahaan Prancis dalam kontrak kapal selam Australia pada 2016.
Armada rancangan Jepang ini akan menggantikan fregat kelas ANZAC milik Australia yang sudah tua dan dianggap semakin rentan terhadap serangan rudal dan drone modern.
Baca juga: Jepang Serap Tenaga Kerja RI Lewat Skema Pekerja Berketerampilan Spesifik
Marles menyebut fregat Jepang ini sebagai langkah besar menuju pembangunan armada tempur permukaan Australia yang lebih besar dan lebih mematikan. Fregat kelas Mogami pertama dijadwalkan tiba di Australia pada 2029.
"Jadwal yang kami umumkan ini adalah akuisisi kapal tempur permukaan tercepat yang pernah dilakukan Angkatan Laut Australia, sehingga ini adalah kerangka waktu yang sangat singkat," ujar Marles kepada para wartawan.
Jepang sendiri tengah mempercepat pembangunan militernya sekaligus memperluas hubungan pertahanan di luar satu-satunya sekutu perjanjiannya, Amerika Serikat. Kini Jepang menganggap Australia sebagai semi-sekutu.
Marles menyatakan Australia menyambut baik pelonggaran kontrol ekspor Jepang atas peralatan dan teknologi pertahanan kepada "mitra tepercaya seperti Australia."
"Jepang adalah kekuatan industri dan menawarkan begitu banyak peluang bagi Australia serta pengembangan industri pertahanan kami sendiri, sebagaimana yang diwakili oleh proyek Mogami ini," kata Marles.
Koizumi menyebut masuknya kapal-kapal Jepang ke dalam Angkatan Laut Australia sebagai "langkah besar yang akhirnya diambil untuk membawa kerja sama pertahanan bilateral kita ke tingkat yang lebih tinggi."
Ia menegaskan bahwa Jepang tetap menjadi "mitra tak tergantikan" Australia dalam strategi pertahanan baru yang diumumkan pekan ini, di mana AU$53 miliar (Rp650,5 triliun) akan ditambahkan ke anggaran pertahanan selama satu dekade.
Koizumi mengungkapkan bahwa salah satu "faktor penentu" Australia memilih fregat Jepang adalah kemampuannya dioperasikan hanya dengan 90 personel — sekitar separuh dari jumlah awak fregat kelas ANZAC yang saat ini digunakan.
Fregat kelas Mogami milik Australia nantinya akan dipersenjatai dengan rudal permukaan-ke-udara dan anti-kapal, serta mampu mengoperasikan helikopter tempur. Kapal-kapal tersebut akan diawaki oleh 92 pelaut dan perwira.