Barus, Kosmopolitas Abad ke-9, dan Republik Kecil yang Dikendalikan para Pedagang
Moh. Habib Asyhad April 18, 2026 09:34 PM

Barus selain sebagai kota kosmopolitan abad ke-9 juga disebut sebagai republik kecil yang dikendalikan oleh para pedagang.

Artikel ini tayang di Majalah INTISARI edisi Juni 2009 dengan judul "Di Bawah Langit Barus" | Penulis" Seno Gumira Ajidarma

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Pada situs penggalian arkeologi Lobu Tua, Barus, di pantai barat Sumatera Utara, kota kosmopolitan kuno itu bagaikan hidup kembali dalam imajinasi saya:

Sebuah kota yang dikelilingi benteng tanah berparit, melindungi wilayah seluas 14 ha, tetapi yang bagian di luar bentengnya dihuni juga, sehingga pemukiman berbagai bangsa itu luas seluruhnya 200 ha.Orang-orang dalam berbagai warna kulit aneka busana yang satu sama lain amat berbeda lalu-lalang, sementara di jalanan terdengar suara percakapan dalam bahasa Tamil, Sansekerta, Arab, Parsi, dan Jawa.

Kosmopolitan abad ke-9

Laki-laki berkemas siap berangkat menambang emas atau ke hutan memotong dahan pohon kapur, perempuan membawa tempayan berisi air, anak-anak kecil berlari di antara pohon-pohon kelapa. Sementara di tengah kota terdapat sebuah kuil batu bata, dengan arca Bodhisatwa di dalamnya, dan tentu dengan biksu yang melakukan ritus agama.

Di bawah atap rumbia, tampak para perajin tembikar menekuni usaha meniru berbagai bentuk mangkuk, pot, piring, maupun kuali India, seperti juga tukang kayu membuat kapal, tukang emas mencetak mata uang, dan tukang besi mencetak mata pancing serta alat-alat tukang cukur.

Di dalam sebuah rumah, seorang pedagang India bercincin seperti stempel tampak masih sarapan dengan piring keramik Tiongkok yang halus dan kokoh, yang tetap kelihatan baru karena glasirnya yang tebal.

Di rumah lain, seseorang yang lain makan dengan mangkuk berwarna-warni dari Timur Tengah. Sedangkan di rumah lain lagi, mungkin tetap saja sebuah keluarga India makan menggunakan piring yang mereka bawa dari tempat asalnya.

Di antara banyak orang yang sehabis makan lantas minum, di antaranya akan terlihat gelas dari kaca berhias yang diisi oleh cerek dan karaf berwarna yang berkilau dari bahan sejenis. Di sebuah bilik, terbayangkan seorang perempuan berias, memasang cincin bermata yang sangat kecil diameternya ke jarinya, sementara di telinganya telah bergoyang anting-anting emas cetakan batu, di kotak perhiasannya, masih terlihat manik-manik batu maupun kaca.

Apabila kemudian kapal-kapal dari Utara tiba, yang bertolak dari Sri Lanka, Teluk Benggala, maupun Teluk Persia, tanpa melewati Selat Malaka, dan karenanya jalur pelayaran itu tidak dikenal oleh para nakhoda Dinasti Tang di Tiongkok, berlangsunglah transaksi dagang dengan mata uang perak dan emas bergambar bunga cendana yang dibuat dan berlaku di Barus, yang juga disebut Fansur, mungkin saja dengan bahasa perantara Melayu.

Kita berada di abad ke-9 dan kota kuno itu terletak di antara dua muara, yang sekarang disebut Aek Busuk dan Aek Maco. Kota ini terletak di pertengahan, sekitar satu kilometer dari tiap sungai, di atas tanah tinggi sekitar satu setengah kilometer dari laut.

Seribu tahun lalu, tentu jarak ini jauh lebih dekat. Berdiri di tepi tebing di situs Lobu Tua pada awal Mei 2009, memandang persawahan terbentang nun di bawah sana, segeralah saya menduga di situlah laut yang dimaksud tampak membiru, dengan cakrawala yang dari baliknya kapal-kapal pedagang-petualang muncul, mencari kamper yang dibutuhkan peradaban dunia.

Memang, sambil memotret di sana-sini di antara pepohonan dan bekas lubang-lubang penggalian arkeologi dari tahun 1995 sampai tahun 2000 yang sudah penuh semak, saya tidak sedang mengarang, melainkan membayangkan apa yang berlangsung dengan setidaknya merujuk dua buku hasil penelitian, yakni Lobu Tua: Sejarah Awal Barus (Claude Guillot, peny., 2002) dan Barus Seribu Tahun yang Lalu (Claude Gillot dkk., 2008).

Jika dibaca, kedua buku ini memang bagai menghidupkan kembali apa yang mungkin pernah berlangsung di Barus masa lalu.

Rahasia di balik pecahan

Seperti bisa diperiksa, peneliti gabungan Indonesia-Prancis telah berhasil menemukan beratus-ratus kepingan benda kuno, sampai 600 kg, yang dalam istilah arkeologi disebut artefak, yang telah digolong-golongkan sebagai tembikar dari Asia Selatan, Timur Tengah, maupun lokal; keramik Tiongkok, kendi berbahan halus, kaca, manik-manik, logam, mata uang dan emas, batu, dan batu bata.

Bagi orang awam seperti saya, semua temuan itu ibarat kata hanyalah kreweng (pecahan genting) tak jelas gunanya, tetapi analisis para arkeolog sungguh mampu membongkar misteri masa lalu.

Dari berbagai pecahan tembikar Asia Selatan terungkap, bahwa tembikar tersebut dari jenis yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari, dan bukan diekspor sebagai barang dagangan, sehingga ditafsirkan digunakan oleh perantau Asia Selatan yang menetap, dan ketika berangkat mengandaikan tiada barang seperti itu di tempat tujuan.

Adapun karena tembikar yang sama ditemukan pula di Anuradhapura, Sri Lanka, sedangkan di Anuradhapura ditemukan pula keramik Tiongkok zaman Dinasti Tang dan Ming maupun tembikar Timur Tengah dari abad ke-9 dan 10 yang juga terdapat di Barus, terlacak jaringan yang sama dengan jaringan yang melalui Barus.

Temuan semacam itu menunjukkan pengaruh dunia Cola, karena Sri Lanka pernah dikuasai raja-raja dinasti tersebut. Perkumpulan dagang Ayyavole, yang berdasarkan prasasti Tamil di Lobu Tua bertanggal bulan Masi tahun 1010 Saka (Februari-Maret 1088 Masehi) pasti hadir di Barus, memang juga aktif di Tanah Tamil maupun Sri Lanka.

Maka para peneliti berkesimpulan, tembikar yang ditemukan di Lobu Tua berasal dari dua wilayah: Koromandel dan Sri Lanka. Ditambah dengan pecahan tembikar lain yang mengandung mika, wilayah bertambah dengan barat laut India, tepatnya antara Delta Indus dan Gujarat.

Ini berarti orang "India" sebagai pendatang dari luar Nusantara terbanyak di Barus, sebetulnya datang dari berbagai wilayah. Betapapun, tempat terakhir itu memang menjadi persinggahan kapal-kapal dari Teluk Persia yang menuju Barus.

Artinya sebelum masa penyebaran Islam abad ke-16 yang selalu disebut antara lain berkat peran pedagang Gujarat, jauh sebelumnya mereka malah sudah bermukim, secara permanen maupun semi-permanen, di Barus.

Di tepi pantai, saya melihat langit dan laut yang masih sama dari abad ke abad, meski letak pantainya tentu bergeser. Namun bahkan nyiur melambai, perbukitan, dan pulau yang tampak, pastilah masih sama.

Tidak terbayangkan bagaimana mata uang emas Barus abad ke-11 belakangan bisa ditemukan di Fustat, Timur Dekat, sementara arsip Geniza di Mesir mencatat tentang seorang Yahudi dari Kairo yang meninggal di Barus pada abad ke-13. Apakah mata uang itu sampai ke sana melalui jalur sutra, tempat orang Sogdian membawa kamper ke Tiongkok lewat jalan darat mulai abad ke-4?

Sementara orang Yahudi itu pastilah menggunakan jalan maritim melalui Laut Merah yang semakin ramai.

Pecahan sebuah cap dari kaca dengan tulisan beraksara Arab Allah Muhammad dari abad ke-10 atau ke-11 melengkapi ragam agama yang terbukti saling berpapasan di Barus, Hindu Brahma, Buddha, Kristen Timur, Yahudi, dan Islam, yang mungkin tidak sekadar dianut mereka yang berasal dari Timur Tengah, melainkan juga India.

Betapapun, mereka semua berada di bawah langit senja yang sama dengan saya.

Prasasti tanpa Raja

Saya ingin mengutipkan isi prasasti yang membuktikan bercokolnya perkumpulan pedagang Tamil, Ayyavole-LimaRatus di Barus, seperti telah dibaca kembali oleh Y. Subbarayalu dan diterjemahkan Daniel Perret, sekaligus dibukanya peluang bagi pembaca Intisari untuk dapat membayangkan sendiri suasana kota tua Barus itu:

Sekarang, pada tahun 1010 Saka, bulan Masi / Kami, Yang Ke Lima Ratus dari Seribu Arah, dikenal di semua negara dan arah, telah bertemu di Veldpuram di Varocu alias Mdtahkari-vallaca-teci-uyyakkontapattinam / Memutuskan yang berikut untuk "anak(-anak) lelaki kami" Nakara-senapati Ndttucettiydr, Patinen-bhumi-teci-appar dan mavettu: [Setiap...dari] kapalnya, Nakhoda kapal dan kevi akan membayar pajak ancu-tunt-ayam dalam bentuk emas berdasarkan harga kasturi dan [kemudian saja] akan berjalan di atas bentangan kain. / Maka, kami Yang Ke Lima Ratus dari Seribu Arah, dikenal di semua arah dan di semua delapan belas negara telah menyuruh mengukir dan menancapkan batu ini. Jangan lupa sikap baik had: sikap baik hati sendiri yang merupakan teman baik.

Dengan kalimat menyuruh mengukir dan menancapkan batu ini sudah jelas bahwa selain para pedagang, terdapat pula komunitas terpelajar yang mampu membaca, menulis, mengukir, dan merangkai kata-kata, yang meskipun merupakan teks formal, bahkan adalah nama perkumpulan, bagi saya dramatik juga: kami yang kelimaratus dari seribu arah, dikenal di semua negara dan arah... Bukankah kalimat seperti ini lebih dari pantas diucapkan dengan lantang di panggung teater?

Untuk diketahui Varocu berarti Barus. Prasasti ini mestinya menjawab perdebatan berpuluh tahun para ahli tentang letak Barus, berdasarkan sumber in situ yang merujuk kepada Barus abad ke-11.

Maklumlah, meski sudah ditemukan dan dibawa ke Batavia oleh kontrolir Belanda, Deutz, pada 1873, ahli epigrafi E. Hultzsch dari Dinas Purbakala India pada 1892 hanya berhasil membaca tahun dan nama pemesan.

Baru pada 30 Desember 1993 tim peneliti India-Jepang "menemukan"-nya di Museum Nasional Jakarta. Alias prasasti ini ngedeprok bisu nyaris tak tersentuh selama 120 tahun! Memang benar, Nilakanta Sastri membuat ulasan pada 1932 yang banyak dirujuk, tapi hanya berdasarkan catatan Hultzsch.

Dari analisis Subbarayalu, saya hanya akan menekankan tidak adanya nama raja, dan bahwa para pedagang disebut kedudukannya begitu istimewa, sehingga dapat memberikan nama Tamil kepada kota pelabuhan lama Barus. Ayyavole (perkumpulan) Lima Ratus, begitu disebutkan, dari abad ke-9 sampai ke-11 belum terlalu berkembang kegiatannya dan terbatas di kawasan Karnataka.

Paruh kedua abad ke-11 sudah berkembang di kawasan Tamil di selatan dan di kawasan Andhra di timur, terutama perdagangan jarak jauh. Akhir abad ke-11, perkumpulan pedagang ini sudah menyatukan beberapa suku bangsa, dan terdapat di sepanjang pantai di beberapa kota di bawah perlindungan Dinasti Cola.

Perkembangan luar biasa Ayyavoje-Lima Ratus tentu berhubungan dengan perkembangan kerajaan besar Chalukya di Karnataka dan Cola di Tamil Nadu.

Republik Oligarki

Prasasti Tamil bukanlah satu-satunya prasasti yang ditemukan di Lobu Tua, karena terdapat juga yang berbahasa Jawa, Sansekerta, dan Arab. Meskipun tidak ada buktinya, tetapi tidak ada kemungkinan lain daripada bahasa Melayu sebagai bahasa perantaranya, karena bahasa Melayu itulah yang digunakan di daerah-daerah yang berhubungan dengan Barus, seperti Padang Lawas, melalui prasasti Lokanatha, dan Krui, melalui prasasti Batu Bedil, di sepanjang pantai barat Sumatera pada abad ke-10.

Bahkan di Barus itulah bahasa Melayu menjadi begitu matang dan berdaya pada paruh kedua abad ke-15 dan awal abad ke-16, dalam sajak-sajak penyair sufi Hamzah Fansuri. Baru saja ditemukan bahwa Hamzah dimakamkan di Mekah, dan meskipun menamakan diri sebagai orang Melayu, sebetulnya berkonteks pendatang Timur Tengah yang bermukim cukup lama di Barus sebelum mengembara lagi.

Berbagai temuan penggalian yang menunjukkan berkumpulnya berbagai bangsa di Lobu Tua itu, tidak dapat saya ulang kutipkan analisisnya yang memikat, tetapi dapat saya susunkan bagi pembaca Intisari ringkasan kesimpulan bahwa beragamnya bahasa dan temuan situs telah menunjukkan masyarakatnya.

Menurut para peneliti, di situs Lobu Tua tidak ada tempat yang diutamakan, baik dari letaknya maupun temuan yang istimewa, untuk dijadikan istana. Meskipun begitu terdapat perbedaan nyata antara bagian tengah kota dan sekitarnya.

Bagian tengah dipisahkan dari sisa kota dengan benteng dari tanah, tempat ditemukannya prasasti-prasasti dan di bagian ini pula temuan jauh lebih padat dari bagian luar.

Kumpulan temuan ini memperlihatkan pembagian sosial, yang bagian tengahnya dihuni para pedagang besar yang ikut serta dalam perdagangan internasional dan menguasai kotanya. Teks prasasti Tamil menyatakan, para pedagang yang baru tiba tidak membayar pajak kepada raja, melainkan membayar cukai kepada wakil setempat dari perkumpulan pedagang.

Para peneliti kemudian menyimpulkan, jika terdapat seorang raja di Barus, bukan dia yang sebenarnya berkuasa. "Menurut kami," begitu ditulis dalam Barus Seribu Tahun Lalu, "kota ini merupakan sejenis republik kecil, yang dikuasai sejumlah pedagang."

Bukankah kesimpulan ini mencengangkan, ketika di bagian timur Sumatra dan Jawa, wibawa kekuasaan Srivijaya maupun Syailendra masih harus didukung batu-batu prasasti berisi kutukan? Mungkin pendirian ini terjadi di luar pengawasan satu kekuatan politik setempat.

Bahkan maksudnya mungkin untuk menghindarkan pengaruh kekuatan-kekuatan politik yang besar di pantai timur Sumatra, yang menguasai lalu lintas Selat Malaka. Menurut para peneliti, "Republik yang bersifat oligarkis ini berhasil mempertahankan kemerdekaan ini hingga sekurang-kurangnya awal abad ke-12."

Adapun pemusnahannya disebabkan serangan pasukan dari bagian utara Sumatra, yang berusaha merampas perdagangan makmur tempat ini.

Maka menarik untuk bertanya, apakah kiranya peranan masyarakat lokal? Disebutkan, dengan penduduk yang datang dari daerah sangat jauh, Barus jelas terlihat sebagai tempat perdagangan asing.

Ini hanya mungkin dengan kerja sama masyarakat lokal, misalnya untuk mendapat kamper dan damar dari hutan rimba di daerah pedalaman. Penyesuaian dengan cara hidup lokal terlihat melalui pembangunan rumah dari kayu dan tumbuhan, karena tidak ada bahan permanen di situs.

Pemeriksaan yang pernah dilakukan terhadap penggambaran Zhao Rugua atas ibukota Srivijaya, yang juga dihuni banyak orang asing, ternyata juga rumahnya bercorak lokal.

Namun dari tidak adanya pemisahan etnis di dalam kota yang perkampungannya rapat, tercermin bahwa jumlah penduduk yang kecil dan sama-sama terasing di tempat jauh, membuat mereka mempunyai prasangka sejenis terhadap masyarakat lokal.

Pikiran dan perasaan para pemukim asing ini sama, perdagangan dan kekayaan, membuat kebersamaan atas ketakutan mereka di tengah lingkungan tropis yang sulit, melahirkan prasangka bahwa masyarakat lokal itu kanibal dan biadab, seperti yang ditulis tanpa informasi jelas dalam berbagai teks, sejak Ptolemeus sampai abad ke-10, tentang orang-orang Zabedj di Bumi Emas yang adalah Suvarnadvipa.

Ini membuat orang Jawa pun, yang bertolak ke Barus dengan kapal-kapal dari Banten, berstatus pedagang asing pula di tempat itu. Menurut para peneliti, hampir bisa dipastikan bahwa tidak ada orang Tionghoa, karena keramik dari Tiongkok sebanyak 7.000 pecahan adalah benda ekspor yang dibeli orang-orang kaya dari Barus.

Hubungan dengan wilayah timur Nusantara dijalankan dengan peran perantara, kemungkinan orang Jawa. Jadi, ciri khas pemukiman asing Lobu Tua ini bukan hanya fungsinya sebagai lintas perdagangan, melainkan juga pembudidayaan pulaunya.

Kerja sama orang-orang India dan Jawa, bukan dengan masyarakat setempat, yang membuat tambang emas dibuka, jalan digunakan dari Teluk Tapanuli sampai Pelabuhan Panai, dan kemudian juga dibukanya kebun-kebun lada.

Memilih untuk Bekerja

Lobu Tua dan Barus masa kini terpencil kembali sekarang. Itulah yang saya alami ketika harus mengarungi jalan berlubang-lubang dan berbatu-batu, sejak lepas dari Danau Toba berbelok dari Siborong-borong ke Dolok Sanggul untuk selanjutnya sampai ke Barus.

Jalan memutar yang tampaknya bagus, setelah Tarutung dan Sibolga juga sama saja, bahkan menjadi jauh lebih lama, antara 10 sampai 12 jam perjalanan mobil dari Medan. Namun menjelajahi jalanan berhutan dan berjurang di wilayah yang dahulu merupakan pedalaman bagi kota kosmopolitan abad ke-9 sampai ke-12 di Barus, terbayang oleh saya semangat menyala-nyala para pemburu kekayaan dari seberang lautan itu.

Seperti dinyatakan teks bahasa Sansekerta pada cincin yang ditemukan di situs Lobu Tua, yang diduga milik penambang yang pergi jauh menuju tambang emas Lebong di lembah Muaraaman di utara Bengkulu, dan tentunya telah kembali lagi: "Dalam kegelapan saya memilih untuk bekerja."

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.