TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax Turbo hingga menyentuh angka Rp19.400 per liter memukul telak para pengguna kendaraan bermotor di Kota Semarang.
Sejumlah warga mengaku harus memutar otak, bahkan terpaksa “turun kelas” bahan bakar demi bisa bertahan menekan biaya operasional sehari-hari.
Baca juga: Resmi Naik, Lengkap Daftar Harga BBM Terbaru di 40 Provinsi
Seorang warga yang enggan disebut namanya, menjadi salah satu pihak yang sangat merasakan dampaknya.
Ia selama ini rutin menggunakan Pertamax Turbo untuk menyuplai bahan bakar mobilnya yang bermesin 2000cc karena dinilai jauh lebih optimal dari sisi performa.
“Kalau pakai turbo itu pembakarannya lebih bagus, tenaganya juga lebih enak. Dulu sekitar Rp14 ribuan masih oke,” ujarnya saat memberikan keterangan, Sabtu (18/4/2026).
Namun, lonjakan harga bensin warna merah yang kini menembus lebih dari Rp19 ribu per liter tersebut membuatnya mulai goyah.
Ia mengaku tak punya banyak pilihan selain beralih ke bahan bakar Pertamax biasa yang oktannya lebih rendah.
“Mau tidak mau ya turun pakai Pertamax. Soalnya kalau tetap pakai turbo, berat di ongkos,” katanya mengeluh.
Ia juga menyebut bahwa penggunaan BBM dengan kadar oktan lebih rendah seperti Pertalite tentu bukan menjadi opsi bagi mobilnya.
Selain karena faktor teknis mesin yang bisa mengelitik (knocking), kendaraan dengan kapasitas mesin 2000cc juga memang secara aturan tidak diperbolehkan menenggak BBM bersubsidi.
Di tengah kondisi terhimpit tersebut, Radlis mulai menyiasati dan mengatur ulang kebiasaan berkendaranya.
Mobil kesayangannya kini hanya dikeluarkan dari garasi saat kondisi-kondisi tertentu saja.
“Kalau enggak penting ya pakai motor saja. Mobil dipakai kalau hujan atau keperluan tertentu,” ujarnya membeberkan siasat.
Menurut pandangannya, lonjakan harga BBM kali ini terasa terlalu tinggi dan sangat jauh dari perkiraan masyarakat luas.
“Kalau naik dari Rp13 ribu ke Rp15 ribu masih masuk akal. Tapi ini langsung lompat jauh, kaget juga,” ucapnya jujur.
Ia sangat berharap pihak pemerintah dan pemangku kebijakan di Pertamina bisa lebih mempertimbangkan kondisi perekonomian masyarakat yang dinilai belum sepenuhnya pulih.
“Harapannya ya jangan semua naik. Daya beli masyarakat kan lagi turun juga,” tambahnya mengakhiri pembicaraan.
Kenaikan harga BBM non-subsidi ini seakan menjadi dilema baru bagi kehidupan masyarakat perkotaan.
Di satu sisi mereka membutuhkan performa kendaraan yang optimal, namun di sisi lain harus berhadapan dengan realitas biaya hidup harian yang kian menanjak tajam. (Rad)