Rawon, Kuliner Legendaris Jawa Timur Berusia Lebih dari 1.000 Tahun
Dwi Prastika April 18, 2026 11:22 PM

TRIBUNMADURA.COM - Rawon bukan sekadar hidangan berkuah hitam khas Jawa Timur, melainkan jejak panjang sejarah kuliner Nusantara yang terus bertahan lintas generasi, Sabtu (18/4/2026).

Di tengah gempuran makanan modern, rawon tetap eksis sebagai warisan budaya yang telah dikenal sejak abad ke-10.

Bukti keberadaannya tercatat dalam prasasti kuno hingga naskah kerajaan, sementara eksistensinya di masa kini tetap terjaga melalui warung-warung legendaris di berbagai daerah.

Tradisi rasa yang diwariskan turun-temurun ini menjadikan rawon tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga bagian dari identitas sejarah dan budaya masyarakat Jawa Timur.

Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa nama rawon berasal dari bahasa Jawa “rawa,” yang merujuk pada warna air rawa yang gelap. Hal ini selaras dengan tampilan kuah rawon yang berwarna hitam pekat.

Warna khas tersebut berasal dari penggunaan kluwek sebagai bumbu utama. Di luar negeri, rawon bahkan dikenal dengan sebutan “black soup” karena tampilannya yang unik.

Baca juga: Gedung Siola, Saksi Bisu Sejarah Perdagangan dan Perjuangan di Surabaya

Jejak Sejarah Rawon Sejak Abad ke-10

Berdasarkan informasi yang dilansir dari situs resmi probolinggo.go.id rawon telah dikenal sejak tahun 901 oleh Rakryan I Watu Tihang Pu Sanggramadurandara menerbitkan Prasasti Taji yang ditemukan di wilayah Ponorogo, di dalamnya tercantum istilah “Rarawwan.”

Prasasti ini terdiri dari tujuh lempeng tembaga dan ditemukan pada tahun 1868 di Dukuh Taji, Desa Gelanglor, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, Jawa Timur.

Dalam prasasti tersebut, rawon disebut dengan nama “Rarawwan.”

Tak hanya itu, keberadaan rawon juga tercatat dalam naskah kuno Serat Wulangan Olah-Olahan Warna-Warni yang dicetak pada tahun 1926.

Dalam catatan tersebut, rawon diketahui menjadi salah satu hidangan favorit keluarga kerajaan di Keraton Mangkunegaran Surakarta.

Selain itu, rawon juga disebut dalam karya sastra Jawa Kuno Bomakawya atau Bhomantaka, yang semakin memperkuat eksistensinya sebagai kuliner tradisional yang telah lama dikenal masyarakat.

Baca juga: Sejarah Ponpes Banyuanyar, Dari Sumber Air Baru hingga Jadi Pusat Pendidikan Islam di Madura

Rawon Bangkalan, Legenda Rasa yang Bertahan Lintas Generasi

Eksistensi rawon tidak hanya bertahan dalam catatan sejarah, tetapi juga hidup di tengah masyarakat hingga kini.

Salah satu contohnya adalah rawon khas Bangkalan, Madura, yang tetap mempertahankan cita rasa autentiknya sejak puluhan tahun lalu.

Warung rawon legendaris milik Nyik Patmi di Kecamatan Socah, Bangkalan, telah dikenal sejak sekitar tahun 1960 hingga 1970.

Cita rasa khasnya bahkan tetap terjaga hingga generasi ketiga.

“Sejak saya masih usia bocah, warung Nyik Patmi sudah ada. Beliau sudah wafat sekitar 10 tahun yang lalu. Namun bumbu khas kuah rawon tidak berubah,” ujar Tutik Herawati (45), warga Socah, Bangkalan, pada TribunMadura.com, Minggu (1/2/2026).

Baca juga: Wisata Kuliner Dekat Suramadu, Deretan Tempat Makan Hits di Madura yang Wajib Disinggahi

Menurutnya, kekhasan rawon tersebut terletak pada racikan bumbu yang meresap hingga ke setiap irisan daging sapi Madura yang disajikan cukup tebal, namun tetap empuk.

Hal senada juga disampaikan pelanggan lainnya, Abdul Latif, warga Bangkalan.

Ia menilai, rawon tersebut memiliki cita rasa gurih yang khas dan tetap konsisten sejak dulu.

“Rasanya gurih, sehingga dalam kondisi apapun, kita capek atau tidak enak makan datanglah ke sini,” ujarnya.

Kekuatan rasa dan aroma yang terjaga membuat warung ini tidak pernah sepi pengunjung, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Bahkan, rawon tersebut kerap disebut sebagai “obat” saat nafsu makan menurun karena kelezatannya yang khas.

Baca juga: Dari Upacara Adat ke Panggung Dunia, Begini Jejak Sejarah Panjang Angklung

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.