KISAH Muhammad Nur Jabir, Pernah Ateis Hingga dapat Pencerahan di Sufi dan Kembali Memeluk Tuhan
Anak Agung Seri Kusniarti April 19, 2026 12:03 AM

TRIBUN-BALI.COM – Muhammad Nur Jabir, adalah seorang penulis Indonesia yang berfokus pada mistisisme Islam (Sufisme), khususnya wahdat al-wujud (Kesatuan Wujud).

Ia adalah penulis kitab Samudra Wahdatul Wujud dan Direktur Institut Rumi Indonesia, yang mengeksplorasi ajaran spiritual dan metafisika, yang terinspirasi oleh para pemikir seperti Ibnu Arabi dan Mullah Sadra.

Karya-karyanya berpusat pada Sufisme, kesatuan eksistensi, dan hubungan antara Tuhan, penciptaan, dan kesadaran manusia. Tak mudah dan berliku jalan yang ia tempuh, sampai kembali ke jalan Tuhan dan memeluk agama Islam. 

Baca juga: DARI Karyawan ke Pengusaha Derek, Kisah Gus Adi Jeli Tangkap Peluang Usaha dan Berkembang Berkat BRI

Baca juga: KISAH Perjuangan Wayan Tantra Sukses Dirikan BLK, Tukang Suwun Berangkatkan Pekerja ke Luar Negeri!

Pernah Ateis 

Uztaz Nur Jabir, sapaannya, juga mengalami apa yang manusia lain alami, yaitu pencarian jati diri. Ia juga pernah kehilangan arah, mempertanyakan banyak hal dan tidak ketemu jawabannya. Sampai pada keputus-asaannya, ia memilih menjadi seorang ateis. 

“Sebelum ateis itu, saya sudah memeluk agam Islam,” sebutnya dalam event Bali Spirit Festival di Puri Padi, Ubud, Gianyar, Bali, 18 April 2026. Ia bahkan dahulunya adalah anak pesantren atau anak pondok, yang identik dengan pendidikan agama intensif. 

“Kemudian saya kuliah, bertemu teman yang sosialis, akhirnya saya ateis. Sebab saya merasa gak nemu jawaban,” katanya. Jawaban dari apa sebenarnya hakekat diri dan dalam proses mencari jati dirinya. Kala menjadi ateis itu, ia tidak percaya banyak hal seperti kehidupan setelah kematian. 

Beruntung masih ada iman dalam dirinya, sehingga tidak mengambil jalan pintas seperti nekat mengakhiri hidup, atau hidup dengan semaunya di dunia tanpa mengindahkan hal baik dan buruk. 

Kenalan dengan Sufi

Sampai akhirnya, ia menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaannya di dalam ajaran Sufi. Sufi adalah individu yang mendalami tasawuf, yaitu gerakan mistik Islam yang berfokus pada penyucian jiwa, pengendalian diri yang ketat, dan pencapaian cinta serta perjumpaan langsung dengan Tuhan (makrifat). 

Sufi menekankan pengalaman batin, keikhlasan hati, dan menjauhi keterikatan duniawi untuk mendekatkan diri kepada Allah. “Di sini perjalanan dimulai, pertama-tama saya kembali belajar tentang filosofi dan dari filsafat, saya masuk lebih dalam, saya menemukan kekayaan dan keluasan batin, jadi ini tahapan perjalanan kehidupan saya menjadi sangat ketat, religi dan makna filosofis kemudian masuk ke dunia sufi,” terang pria asal Jawa ini. 

Ia kemudian berdamai, dan kembali memeluk Islam dan memercayai Allah. Salah seorang kiblatnya dalam dunia sufi, adalah Jalaluddin Rumi alias Rumi. Seorang pemikir dalam dunia Muslim dan lahir tahun antara 1207 atau 1208. 

“Pemikiran beliau memengaruhi banyak orang, tahun 2000 bukunya best seller dan sejajar dengan Khalil Gibran, kemudian di Eropa familiar dan bukunya sudah diterjemahkan ke 34 bahasa asing, sampai ada Rumi’s Day yang Unesco ciptakan,” jelasnya. 

Rumi adalah filusuf sufi dengan nama ajarannya tasawuf. “Rumi ini sufi yang menuliskan pengalaman batinnya dalam bentu syair,” imbuhnya. Salah satu kitab terkenalnya adalah Masnawi dengan sekitar 36 ribu bait syair yang isinya tentang berbagai hal terutama tentang cinta. 

Harapannya dengan Bali Spirit Festival ini, semua ajaran terbaik memberikan kedamaian di dunia. Agama memberikan pencerahan dan membantu manusia, menemukan kedamaian dalam diri dan di luar dirinya.

“Tidak ada perbedaan dan pembedaan, mengingat jati diri sejati manusia berasal dari satu hakekat dan satu realitas. Karena itu saya sangat beryaukur sekali menjadi sufi, dan semoga semangat  Bali Spirit ini lebih besar dan luas lagi ke depannya sehingga setiap orang bisa memahami nilai kemanusiaan,” imbuhnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.