BIDIK Kebhinekaan, Bali Spirit Festival Pertemukan Berbagai Orang & Elemen Menuju Kedamaian Semesta!
Anak Agung Seri Kusniarti April 19, 2026 12:35 AM

TRIBUN-BALI.COM – Bali Spirit Festival (BSF) sudah berjalan 17 tahun, dan tahun 2026 cukup menantang karena kondisi geopolitik di Timur Tengah yang sedang memanas. 

Kadek Gunarta, Co Founder Bali Spirit Festival, mengibaratkan Bali itu sebagai Wali yang artinya adalah persembahan. “Sempat dilema, karena tembakan pertama di Iran, sale tiket lewat internet sudah tidak lanjut,” sebutnya di Ubud, 18 April 2026. 

Namun karena rasa tanggung jawab, mengingat sudah ada 600 tiket yang telah laku, ia kemudian melanjutkan event tahunan ini. “Apalagi saya melihat dukungan dari banyak pihak,” imbuhnya. Apalagi tujuan festival ini adalah menyatukan spirit menuju kedamaian semesta. 

Tanpa membedakan siapapun dan apapun, semuanya menjadi satu dalam kedamaian dan kemanusiaan. Bahkan ke depan, Gunarta menyebutkan kebhinekaan akan menjadi icon dan bidikan program dalam BSF. Tidak kaku dan seperti air, mengikuti local genius dan budaya setempat sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan. 

Baca juga: Ditengah Konflik Geopolitik Timur Tengah Okupansi di Kawasan The Nusa Dua Stabil

Baca juga: Wayan Koster Resmikan Gedung MUI Provinsi Bali di Denpasar, Telan Dana Hingga Rp 3,6 Miliar

Para penampil dan penari di Bali Spirit Festival 2026.
Para penampil dan penari di Bali Spirit Festival 2026. (Tribun Bali/ISTIMEWA)


“Yang terpenting dari semua itu, bisa dibawa kemana-mana, harus ada lokal komunitas dan mengeluarkan lokal geniusnya. Yang membedakan aktivitas di satu tempat dan tempat lain, sehingga sampai ada diversifikasi destinasi khususnya di Bali,” paparnya. 

Hal ini didukung Muhammad Nur Jabir, Sufi Scholar & Presenter, Bali Spirit Festival 2026. Baginya, perbedaan itu bukan untuk diperdebatkan tetapi disatukan dalam kebhinekaan. Semua berbeda, tetapi bagaimana dalam perbedaan itu tercipta persatuan bukan perpecahan. 

Direktur Rumi Institute dan Pakar Bahasa Persia ini, menambahkan agar BSF menjadi acuan dalam kemanusiaan, seperti yang Rumi kumandangkan. “Kita semua akan bertemu di ruang kosong,” katanya, sembari mengatakan tidak perlu sombong dan jumawa. 

Bodas, seorang musisi dari Surabaya mengakui hal ini. Musisi metal ini, tersadar oleh yoga lebih tepatnya mindfull yoga. “Saya ingin memanusiakan manusia, jadi banyak nilai yang terkandung dalam yoga itu sendiri, yang memberikan kita motivasi,” katanya. 

Begitu juga Barbara, seorang guru yoga asal Australia. “Mengapa Bali Spirit, karena saya cinta Bali dan sejak 10 tahun lalu sudah ke Bali, tinggal di Ubud,” katanya. Baginya, yoga mampu menyeimbangkan body dan pikiran sehingga terjadi sinkronisasi dalam kehidupan. 

Uniknya, hadir 2 anak-anak yang sangat menyukai tarian tradisional khususnya tarian asal Yogyakarta. Mereka adalah Jo dan El yang sangat fasih menarikan tarian tradisional tidak hanya Jawa, bahkan juga tarian Bali untuk laki-laki. 

Hadir pula, warga Papua dan merupakan Suku Asmat asli. Ia mengucapkan terimakasih dan berharap semoga persatuan terjadi tanpa melihat perbedaan suku, ras, dan bangsa dalam Bali Spirit Festival ini. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.