Siswa SMA di Purwakarta Acungkan Jari Tengah ke Guru, Dedi Mulyadi Ngamuk: Suruh Bersihkan Toilet!
jonisetiawan April 19, 2026 06:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Sebuah rekaman singkat berdurasi 31 detik mendadak menyulut perhatian luas setelah beredar di media sosial.

Video tersebut memperlihatkan perilaku tidak pantas yang dilakukan sejumlah siswa di SMA Negeri 1 Purwakarta terhadap seorang guru perempuan di dalam kelas.

Peristiwa ini pun memantik keprihatinan publik, sekaligus membuka kembali perbincangan soal etika dan karakter siswa di lingkungan pendidikan.

Baca juga: Korlantas Hapus Syarat KTP Pemilik Pertama untuk Pajak 2026, Dedi Mulyadi: Ini Anugerah!

Kronologi Kejadian di Dalam Kelas

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menjelaskan bahwa insiden tersebut melibatkan sembilan siswa kelas XI IPS. Peristiwa terjadi pada Kamis (16/4/2026), tepat setelah kegiatan belajar mengajar terkait pengolahan makanan selesai.

Guru yang menjadi sasaran diketahui bernama Atum, seorang pengajar yang baru bertugas di sekolah tersebut.

Dalam rekaman yang beredar, terlihat beberapa siswa menunjukkan gestur tidak sopan, bahkan ada yang melakukan tindakan provokatif seperti mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah guru.

“Setelah kegiatan itu selesai, kemudian terjadi aksi yang tidak terpuji dari anak-anak tersebut,” ujar Purwanto.

Hingga kini, motif di balik tindakan para siswa masih dalam proses pendalaman oleh pihak sekolah dan dinas terkait.

ILUSTRASI SISWA SMA -
ILUSTRASI SISWA SMA - Insiden viral di SMA Negeri 1 Purwakarta, siswa mengolok-olok guru perempuan di dalam kelas (Ilustrated by AI)

Sanksi Tegas dan Reaksi Orangtua

Menanggapi kejadian tersebut, pihak sekolah langsung mengambil langkah cepat dengan memanggil seluruh siswa yang terlibat beserta orangtua mereka. Para siswa disebut telah mengakui kesalahan dan menyatakan penyesalan.

Sebagai bentuk konsekuensi awal, sekolah menjatuhkan sanksi berupa skorsing selama 19 hari. Orangtua siswa pun dikabarkan merasa terpukul dan menyayangkan tindakan anak-anak mereka.

Baca juga: Siswa SMA di Jogja Minta Maaf Usai Mengaku Dilengserkan dari Ketua OSIS Usai Tolak MBG: Saya Bohong

Sorotan Gubernur: Hukuman Harus Mendidik

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut memberikan tanggapan atas peristiwa ini. Ia menilai bahwa hukuman skorsing bukanlah solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa.

Sebagai alternatif, Dedi mengusulkan agar sanksi dialihkan ke bentuk kerja sosial yang lebih mendidik, seperti membersihkan lingkungan sekolah.

“Saya memberikan saran, anak itu tidak skorsing selama 19 hari... tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari dan membersihkan toilet,” ujarnya.

Menurutnya, hukuman semacam ini lebih efektif karena memberikan nilai tanggung jawab sekaligus pembelajaran nyata bagi siswa. Ia bahkan menyarankan durasi hukuman dapat berlangsung antara satu hingga tiga bulan, tergantung perubahan sikap yang ditunjukkan.

Evaluasi Sistem dan Pengaruh Lingkungan Digital

Peristiwa ini juga menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Pendidikan Jawa Barat, terutama terkait pengaruh penggunaan ponsel di lingkungan sekolah.

Purwanto menilai, ekspresi spontan siswa yang terekam dan tersebar luas tidak lepas dari budaya digital yang semakin kuat.

Ke depan, pembinaan karakter akan diperkuat dengan fokus pada nilai empati, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap guru. Langkah ini diharapkan mampu mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Kasus ini bukan sekadar insiden viral, melainkan cerminan tantangan serius dalam dunia pendidikan. Di balik sanksi dan evaluasi, ada kebutuhan mendesak untuk menanamkan kembali nilai-nilai dasar tentang menghormati guru dan menjaga etika di ruang belajar.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.