BBM Nonsubsidi Melonjak 60 Persen, Pertamax Turbo Langka di Sejumlah SPBU, Pelaku Usaha Mengeluh
Ida Ayu Suryantini Putri April 19, 2026 09:03 AM

TRIBUN-BALI,COM, JAKARTA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai berlaku pada Sabtu, 18 April 2026, memicu dampak luas di berbagai daerah.

Selain lonjakan harga yang signifikan, kondisi di lapangan juga menunjukkan adanya keterbatasan stok untuk sejumlah jenis BBM, terutama Pertamax Turbo dan Dexlite.

Kebijakan penyesuaian harga yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) tersebut mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Tiga jenis BBM nonsubsidi yang mengalami kenaikan yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Baca juga: Harga BBM di Bali Naik, Pertamax Kosong di Sejumlah SPBU

Harga Pertamax Turbo kini berada di kisaran Rp19.400 hingga Rp20.250 per liter dari sebelumnya sekitar Rp13.100 per liter pada awal Maret 2026.

Sementara Dexlite naik menjadi Rp23.600 hingga Rp24.650 per liter, dan Pertamina Dex menjadi Rp22.700 hingga Rp24.950 per liter.

Kenaikan ini pun membuat sejumlah warga khawatir, terlebih yang berada di luar Pulau Jawa dan Bali.

Ahmad (34) seorang pengemudi ojek online (ojol) di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) mengaku terkejut atas lonjakan ini.

 "Ini naiknya tidak masuk akal. Baru kemarin masih di kisaran Rp13 ribu, sekarang hampir Rp20 ribu,"

Baca juga: Pertamina Umumkan Harga BBM Terbaru, Pertamax Turbo dan Dexlite Melonjak, Tembus Rp23 Ribu Per Liter

"Jelas ini memberatkan kami yang kerja di jalan," ujarnya.

Mengutip TribunKaltim.co, warga lainnya, Rina (29) yang merupakan karyawan swasta menilai kenaikan ini akan berdampak luas pada biaya hidup.

 “Kalau BBM naik, pasti semua ikut naik. Ongkos transportasi, harga makanan, semua akan terdampak,” katanya.

Sopir logistik bernama Andi (41) yang biasanya memakai BBM jenis Dex juga mengeluh.

Ia terpaksa menggunakan yang lebih murah supaya biaya operasional tidak membengkak.

"Terpaksa harus pakai yang lebih murah, tapi antreannya itu lagi. Kalau tetap pakai Dex, biaya operasional bisa membengkak," ungkapnya.

Stok Pertamax Turbo Kosong di Depok

Di tengah kenaikan harga tersebut, stok Pertamax Turbo dilaporkan kosong di salah satu SPBU di kawasan Pondok Petir, Depok, Jawa Barat.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Sabtu siang, BBM jenis tersebut tidak tersedia. Seorang petugas SPBU menyebutkan bahwa kekosongan stok sudah terjadi sekitar sepekan dan saat ini masih dalam proses pengiriman.

Meski demikian, kondisi berbeda terlihat di SPBU lain di wilayah Depok dan Tangerang Selatan, di mana Pertamax Turbo masih tersedia dalam jumlah cukup.

Sulawesi Selatan Alami Keterbatasan Pasokan

Akibatnya, antrean panjang terjadi pada BBM subsidi seperti Pertalite dan BioSolar yang harganya masih bertahan, masing-masing Rp10.000 dan Rp8.600 per liter.

Antrean kendaraan, terutama truk berbahan bakar diesel, bahkan telah menjadi pemandangan umum di sejumlah wilayah sejak akhir 2025.

Kenaikan Harga Paling Tinggi pada Dexlite

Dari seluruh jenis BBM yang mengalami penyesuaian, Dexlite mencatat kenaikan tertinggi, mencapai lebih dari 65 persen. Kenaikan ini berdampak langsung pada pengguna kendaraan diesel modern yang membutuhkan bahan bakar berkualitas tinggi.

Jenis kendaraan yang terdampak antara lain SUV dan kendaraan niaga seperti Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, hingga kendaraan double cabin dan truk operasional.

Sopir dan Pelaku Usaha Mengeluh

Kenaikan harga BBM ini langsung dirasakan oleh masyarakat, khususnya sopir dan pelaku usaha. Di Banjarbaru, seorang sopir mengaku jumlah BBM yang diperoleh kini jauh berkurang dengan nominal pembelian yang sama.

Keluhan  disampaikan Abdullah, sopir yang mengisi BBM Dexlite di SPBU Jalan Trikora Banjarbaru. 

“Biasanya beli Rp250 ribu bisa dapat sekitar 18 liter. Ini dapat 10 liter saja Rp 250 ribu,” katanya, Sabtu (18/4/2026) pagi.

Jika sebelumnya Rp250 ribu bisa mendapatkan sekitar 18 liter Dexlite, kini hanya sekitar 10 liter. Hal ini membuat biaya operasional meningkat drastis.

Mengingat mobil yang dibawa bermesin diesel dan merupakan milik perusahaan, sehingga tidak bisa beralih ke BBM jenis lain yang lebih murah.

“(Mobil ini) gak bisa BBM lain, harus Dexlite,” ujar sopir pengangkut material bahan bangunan ini.

 Sopir lain, Rahmadi, juga mengatakan kenaikan yang terjadi pada bahan bakar jenis Dexlite cukup tinggi.  

Dengan harga yang naik, perusahannya terpaksa harus mengeluarkan biaya tambahan bahan bakar untuk mengangkut barang.

“Dari perusahaan harus Dexlite, tetap ngisi seperti biasa. Harapannya segera dinormalkan lah harga dexlitnya,” ujarnya.

Sementara keluhan kenaikan harga BBM non subsidi ini diungkap Kukuh Haryadi, pemilik Kurnia Jaya Rent Car.

‎Kukuh mengatakan, sebagai pengguna kendaraan diesel seperti Toyota Innova dan Mitsubishi Pajero, ia sudah lama mengandalkan Dexlite sebagai bahan bakar utama armadanya sejak mulai usaha pada 2018.

Namun, langkah itu tidak selalu mudah karena sebagian pelanggan telah melakukan pemesanan jauh hari sebelumnya.

‎“Kalau sudah ada booking sebelumnya, kita harus hitung ulang. Mau tidak mau harus negosiasi lagi dengan konsumen,” katanya. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.