TRIBUNKALTIM.CO - Tak sampai 24 jam, situasi pelayaran di Selat Hormuz berubah lagi.
Iran kembali umumkan penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran stratergis perdagangan minyak dunia.
Apakah dua kapal tanker PT Pertamina International Shipping (PIS) yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro sudah melintas Selat Hormuz sebelum ditutup lagi?
Belum ada keterangan resmi terbaru terkait nasib dua kapal Pertamina VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro.
Baca juga: AS dan Iran Gencatan Senjata, Kata Bahlil soal Kapal Pertamina yang Belum Bisa Melintas Selat Hormuz
Sebelumnya, Jumat (17/6/2026), Iran sempat menyatakan Selat Hormuz dibuka untuk kapal-kapal dagang selama masa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Kemudian, PT PIS menyatakan bersiap mengoperasikan dua kapalnya untuk melintasi Selat Hormuz menyusul dibukanya kembali jalur pelayaran strategis tersebut oleh Iran.
Dua kapal tanker PIS yang masih tertahan di Teluk Persia yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro.
VLCC Pertamina Pride mengangkut pasokan minyak mentah (light crude oil) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, sedangkan Kapal Gamsunoro melayani kargo milik konsumen pihak ketiga (third party).
Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping, Vega Pita mengatakan, perusahaan saat ini melakukan pemantauan intensif dan menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) guna memastikan keamanan perjalanan kedua kapal.
"Strategi yang disiapkan meliputi penyusunan rute, identifikasi risiko, navigasi elektronik, serta penyiapan rencana kontingensi," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (18/4/2026).
Selain itu, PIS juga aktif berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan kelancaran operasional di lapangan.
Salah satunya, koordinasi dilakukan dengan Kementerian Luar Negeri untuk mendukung komunikasi diplomatik dengan otoritas setempat.
Tak hanya itu, perusahaan turut menjalin komunikasi dengan perusahaan asuransi, manajemen kapal (ship management), pemilik kargo, serta otoritas pelabuhan guna memastikan seluruh prosedur perizinan dapat dipenuhi.
"Prioritas perusahaan tetap pada keselamatan awak kapal, serta keamanan kapal dan seluruh muatannya," kata Vega seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com .
Sebelumnya, Iran menyatakan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026), menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Selat Hormuz terbuka untuk semua kapal komersial selama periode gencatan senjata tersebut.
"Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, pada rute terkoordinasi seperti yang telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran," tulis Araghchi di X dilansir CNN, Jumat (17/4/2026) seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com.
Namun, situasi di Selat Hormuz berubah dengan cepat sehingga Iran menutup kembali Selat Hormuz setelah Amerika Serikat (AS) tidak memenuhi kewajibannya dalam kesepakatan yang ada.
Media pemerintah Iran pada Sabtu kemudian menyampaikan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup.
Iran menilai Amerika Serikat tidak menjalankan kewajiban dalam kesepakatan yang ada, sekaligus menuding Washington masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui media penyiaran negara, Iran menyebut sebelumnya telah memberikan izin pelayaran terbatas di Selat Hormuz sesuai kesepakatan yang berlaku.
“Amerika Serikat tidak memenuhi kewajibannya. Maka Selat Hormuz kini kembali ditutup dan setiap pelintasan harus mendapat persetujuan Iran,” demikian dalam pernyataan Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ebrahim Zolfaghari juga menyatakan bahwa kendali atas Selat Hormuz kembali berada di bawah pengawasan penuh militer Iran.
“Kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke kondisi sebelumnya ... di bawah pengelolaan dan kontrol ketat angkatan bersenjata,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Iran akan terus membatasi pelayaran selama blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat masih berlangsung.
Kapal tanker Gamsunoro ini menjadi satu dari dua kapal Indonesia yang masih belum bisa melintasi Selat Hormuz karena situasi perang Iran.
Dilansir situs web resmi pemilik kapal ini, yakni Pertamina International Shipping (PIS), diakses Kompas.com pada Selasa (17/3/2026),
Gamsunoro adalah kapal yang mendistribusikan minyak mentah ke konsumen di pelbagai belahan dunia.
Motor Tanker (MT) Gamsunoro, kapal bertipe Long Range (LR) ini bertahun pembuatan (Year of Building/YoB) 2014.
Dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com, Gamsunoro punya panjang keseluruhan atau length over all (LoA) 228,6 meter.
Kapal ini punya total berat maksimum yang dapat diangkut kapal atau deadweight tonnage (DWT) seberat 104.280 DWT.
Kapasitas kargo kapal ini adalah 113.000 meter kubik. Kapal ini beroperasi di perairan internasional seperti Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika sejak 2021, dan berlanjut ke perairan Amerika.
Gamsunoro adalah satu dari 60 kapal milik PIS yang melayani rute distribusi internasional.
Dilansir ANTARA, kapal ini memiliki teknologi air ballast sehingga ramah terhadap biota laut.
Kapal ini digolongkan sebagai kapal paling hemat di kelasnya dengan konsumsi bahan bakar rendah dengan desain eco-ship.
Kapal ini berjenis Aframax alias kapal minyak berkukuran menengah, namun dimensinya lebih kecil sehingga biaya operasi lebih rendah dan pergerakannya lebih fleksibel.
Dilansir ANTARA, kapal ini pernah lolos dari Laut Merah saat kelompok Houthi Yaman sedang beroperasi pada 2024 lalu.
Setelah lolos dari Laut Merah yang dijaga Houthi yang melawan Israel, Gamsunoro meneruskan pelayaran di Terusan Suez pada saat itu.
Dilansir situs PIS, Saat itu, Kapal Gamsunoro tengah mengangkut kargo minyak mentah dan berhasil mengarungi lautan menuju perairan Amerika Serikat.
Dilansir situs resmi Kementerian ESDM, diakses Kompas.com pada Selasa (17/3/2026), kapal Pertamina Pride adalah kapal jenis Very Large Crude Carrier atau VLCC, atau kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar.
Kapal ini dibangun di Galangan Japan Marine United (JMU) sejak tahun 2018 dan diresmikan pada 9 Februari 2021 silam.
Di situs web resmi Pertamina International Shipping (PIS), tertulis tahun pembuatan atau year of building kapal ini adalah 2020.
Dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com, Pertamina Pride punya panjang keseluruhan atau length over all (LoA) 329.904 meter.
Total berat kotor atau Gross Tonnage (GT) kapal ini adalah 157.116 ton.
Pertamina Pride punya total berat maksimum yang dapat diangkut kapal atau deadweight tonnage (DWT) sebesar 301,000 DWT, berkapasitas 2 juta barel (cargo carrying capacity).
Pertamina Pride adalah kapal dengan single screw driven single deck type crude oil tanker, yakni kapal dengan baling-baling tunggal, digerakkan oleh mesin utama, lambung kapal dilengkapi satu dek utama dengan tangki kargo di bawahnya.
Nomor IMO (Organisasi Maritim Internasional) Pertamina Pride adalah 9888493.
Saat ini, Pertamina Pride sedang dalam misi mengangkut pasokan minyak mentah (light crude oil) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri Indonesia.
Baca juga: Ancaman Iran Tutup Selat Hormuz Jika Blokade AS Berlanjut
(*)