Dua Kapal Pertamina Belum Lolos Selat Hormuz
Agus Tri Harsanto April 19, 2026 03:07 PM

TRIBUNBATAM.id - Dua kapal Pertamina International Shipping (PIS) yang tertahan di Teluk Arab, hingga saat ini belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Kedua kapal tersebut yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro sudah tertahan di Teluk Arab sejak awal Maret 2026, akibat adanya perang Israel-Amerika Serikat vs Iran.

Pjs. Corporate Secretary Pertamina International Shipping, Vega Pita menyampaikan, PIS terus memonitor secara saksama perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz.

"Kami terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk Kementerian dan otoritas berwenang, sambil tetap menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang aman," papar Vega dikutip Minggu (19/4/2026).

Ia menegaskan, prioritas utama perusahaan adalah keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya. 

"Kami berharap kondisi di jalur tersebut segera membaik dan kondusif agar kapal Pertamina Pride serta Gamsunoro dapat segera melanjutkan pelayaran dengan aman," tuturnya.

Sebelumnya, Iran menyatakan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026), menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. 

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Selat Hormuz terbuka untuk semua kapal komersial selama periode gencatan senjata tersebut. 

"Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, pada rute terkoordinasi seperti yang telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran," tulis Araghchi di X dilansir CNN, Jumat (17/4/2026).

Namun pembukaan Selat Hormuz tidak berlangsung lama, karena konflik Iran dan AS kembali memanas.

Langkah tersebut diumumkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menyalahkan blokade laut oleh Amerika Serikat (AS) . 

Di mana menurut pihak Iran hal tersebut sebagai pemicu utama penutupan jalur strategis tersebut. 

Padahal, sehari sebelumnya, Iran sempat membuka kembali jalur pelayaran global itu secara sementara.

Dalam pernyataannya, Angkatan Laut IRGC menegaskan larangan keras bagi kapal-kapal untuk bergerak di kawasan tersebut.

“Tidak ada kapal yang boleh bergerak dari tempat berlabuhnya di Teluk Persia atau Laut Oman,” tegas IRGC, mengutip BBC, Minggu (19/4/2026). 

IRGC juga memperingatkan setiap kapal yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai musuh.

“Mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi sasaran,” tambahnya.

Selat Hormuz Masih Panas

Iran akan kembali menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal komersial, di tengah meningkatnya ketegangan daerah.

Keputusan ini diambil setelah muncul laporan sejumlah kapal, termasuk kapal tanker, menjadi sasaran Teheran pada Sabtu (18/4/2026). 

Langkah tersebut diumumkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menyalahkan blokade laut oleh Amerika Serikat (AS) . 

Di mana menurut pihak Iran hal tersebut sebagai pemicu utama penutupan jalur strategis tersebut. 

Padahal, sehari sebelumnya, Iran sempat membuka kembali jalur pelayaran global itu secara sementara.

Dalam pernyataannya, Angkatan Laut IRGC menegaskan larangan keras bagi kapal-kapal untuk bergerak di kawasan tersebut.

“Tidak ada kapal yang boleh bergerak dari tempat berlabuhnya di Teluk Persia atau Laut Oman,” tegas IRGC, mengutip BBC, Minggu (19/4/2026). 

IRGC juga memperingatkan setiap kapal yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai musuh.

“Mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi sasaran,” tambahnya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan Iran tidak dapat menekan AS melalui ancaman terhadap jalur pelayaran tersebut.

“Iran tidak dapat ‘memeras’ AS dengan ancaman terkait jalur air tersebut,” ujar Trump.

Trump juga memastikan blokade terhadap pelabuhan Iran akan terus berlanjut hingga tercapai kesepakatan damai.

“Kami sedang melakukan percakapan yang sangat baik. Semuanya berjalan dengan sangat baik,” kata Trump terkait negosiasi dengan Teheran.

Penutupan Selat Hormuz ini terjadi di tengah gencatan senjata dua minggu yang sesuai kesepakatan akan berakhir pada 22 April. 

Iran melalui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) menilai blokade AS sebagai pelanggaran perjanjian, dan menegaskan akan menutup kembali selat tersebut selama blokade masih berlangsung.

Situasi ini kembali memicu kekhawatiran global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

Yakni yang sebelumnya telah mengalami gangguan selama hampir dua bulan dan berdampak pada lonjakan harga energi global. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.