Tinjau Jembatan Pipa yang Viral Dilintasi Pelajar, Rico Waas: Akan Bangun Penyeberangan Modern
Ayu Prasandi April 19, 2026 03:09 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Aktivitas warga di Gang Damai, Kecamatan Medan Polonia, sempat terhenti sejak jembatan eks perlintasan kereta api roboh diterjang banjir besar pada 2024 lalu.

Namun di balik keterbatasan itu, ada kisah yang menjadi sorotan, terutama dari para pelajar yang tetap nekat melintasi jalur tersebut demi memangkas jarak ke sekolah.

Kondisi inilah yang akhirnya mengundang perhatian Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas. Dia turun langsung meninjau lokasi jembatan di Jalan Adi Sucipto tersebut.

Di lokasi, Rico tampak menyusuri area jembatan yang telah rusak, menyaksikan langsung bagaimana warga harus memutar jauh atau mengambil risiko melintasi jalur yang tidak lagi layak.

“Jembatan ini bukan sekadar penghubung biasa. Ini urat nadi aktivitas warga, terutama anak-anak yang setiap hari berjuang untuk sekolah,” ujar Rico Waas, Minggu (19/4/2026) 

Jembatan yang dulunya merupakan bagian dari perlintasan kereta api milik PT KAI itu dibangun pada era kolonial Belanda, sekitar tahun 1887 hingga 1915.

Meski sudah lama tidak difungsikan untuk jalur kereta, keberadaannya tetap vital sebagai akses penghubung antarwilayah.

Sejak roboh, mobilitas warga dari beberapa kecamatan, seperti Medan Polonia, Medan Johor, hingga Medan Maimun menjadi terganggu. Tak sedikit warga yang harus memutar jauh, bahkan anak-anak sekolah terpaksa melewati jalur berbahaya.

Dalam peninjauan tersebut, Rico didampingi sejumlah pimpinan perangkat daerah, camat, serta perwakilan PT KAI dan PDAM Tirtanadi.

Ia menegaskan, Pemko Medan tidak akan tinggal diam melihat kondisi tersebut berlarut-larut.

“Meski lahannya berada di bawah kewenangan PT KAI, kami sudah mulai menyiapkan strategi kolaborasi. Kita ingin membangun akses penyeberangan yang lebih modern, aman, dan nyaman,” tegasnya.

Rico berharap, pembangunan kembali akses tersebut nantinya tidak hanya memulihkan mobilitas warga, tetapi juga mengembalikan denyut kehidupan masyarakat yang sempat terhambat.

“Kita ingin aktivitas warga kembali normal. Anak-anak bisa berangkat sekolah dengan aman, dan jarak antarwilayah kembali terasa dekat,” pungkasnya.

Di tengah keterbatasan, harapan itu kini mulai tumbuh, seiring langkah konkret pemerintah Medan yang berupaya menghadirkan kembali jembatan, bukan sekadar sebagai infrastruktur, tetapi sebagai penghubung kehidupan warga. 

(Dyk/Tribun-Medan.com) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.