TOBOALI, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mengusulkan pembangunan infrastruktur air sebagai langkah strategis menghadapi ancaman kemarau yang diperkirakan terjadi setiap tahun. Usulan tersebut diajukan ke Kementerian Pertanian sebagai bagian dari upaya jangka panjang menjaga ketahanan sektor pertanian.
Fokus utama diarahkan pada penguatan sumber air alternatif di wilayah rawan kekeringan. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan produksi padi di tengah keterbatasan air.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Johanes Sihombing mengatakan, pihaknya telah mengusulkan pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah terdampak. Desa Rias dan Batu Betumpang menjadi prioritas karena sering mengalami kekeringan saat musim kemarau.
Hingga saat ini, total delapan unit sumur bor telah diajukan untuk mendukung kebutuhan air petani. "Kami sudah mengusulkan delapan sumur bor ke Kementerian Pertanian untuk mengantisipasi kemarau," ujar Johanes Sihombing, Sabtu (18/4).
Menurutnya, berdasarkan analisis Kementerian Pertanian, satu unit sumur bor mampu melayani sekitar 20 hingga 25 hektare lahan pertanian. Dengan rencana pembangunan delapan sumur bor, potensi lahan yang dapat teraliri mencapai 200 hingga 250 hektare. Cakupan ini dinilai cukup signifikan dalam membantu petani menghadapi kekeringan di masa mendatang.
Selain sumur bor kata Johanes Sihombing, pemerintah juga mengusulkan pembangunan long storage sebagai sarana penampungan air. Infrastruktur ini berfungsi menyerupai embung, namun memiliki kapasitas yang lebih panjang untuk menampung air dalam jumlah besar. Keberadaan long storage diharapkan dapat menjadi cadangan air saat musim kemarau panjang berlangsung.
"Kami juga mengusulkan long storage sebagai penyimpanan air yang bisa dimanfaatkan saat kemarau," papar Johanes Sihombing.
Di sisi lain, program pompanisasi juga telah berjalan melalui bantuan mesin pompa yang diberikan kepada petani. Mesin tersebut saat ini dikelola oleh brigade pangan serta Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) di masing-masing desa. Pemerintah menargetkan pengelolaan ini dapat dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian.
Sementara itu, kondisi ketersediaan air di embung seperti Mentukul dan Pumpung, khususnya di wilayah Desa Rias, dinilai masih relatif aman. Meski demikian, pemerintah tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi perubahan kondisi yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Hal ini penting sebagai bagian dari langkah mitigasi dini terhadap kekeringan. (u1)