SURYA.CO.ID, SURABAYA - Pembangunan rumah susun sederhana milik (Rusunami) di kawasan Ngagel, Surabaya, bukan menjadi satu-satunya proyek hunian vertikal yang disiapkan Pemerintah Kota (Pemkot).
Selain Rusunami Ngagel, Pemkot juga merancang pembangunan Rusunami serupa di kawasan Tambak Wedi.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya, Iman Kristian, mengatakan bahwa proyek di Tambakwedi pada dasarnya sudah siap berjalan.
Namun, pelaksanaannya masih menunggu keberhasilan skema pembangunan di Ngagel.
Baca juga: Surabaya Bikin Rusunami Mirip Apartemen Mulai 2027, Bayarnya Seperti Cicil Kendaraan Bermotor
“Kalau yang satunya lagi di Tambak Wedi itu sebenarnya tinggal jalan saja. Cuma posisinya, antara Tambak Wedi sama Ngagel ini lebih banyak yang tertarik di Ngagel dulu,” ujar Iman ketika dikonfirmasi di Surabaya.
Ia menjelaskan, apabila skema pembiayaan dan pembangunan Rusunami di Ngagel berjalan lancar, maka proyek di Tambakwedi akan langsung menyusul.
“Kalau skema di Ngagel bisa jalan, Tambakwedi otomatis langsung gas bisa jalan juga,” imbuhnya.
Dari sisi konsep, kedua proyek tersebut dirancang memiliki kemiripan, baik dari segi tipologi bangunan maupun kapasitas unit. Masing-masing lokasi diproyeksikan mampu menyediakan sekitar 1.000 unit hunian.
“Kurang lebih sama nanti tipologinya. Masing-masing sekitar 1.000 unit, ukuran lahannya juga kurang lebih sama,” jelasnya.
Baca juga: Pemkot Surabaya Siap Bangun 1.400 Unit Rusunami di Ngagel, Proses Dimulai April 2026
Tak hanya Pemkot Surabaya, pengembangan hunian vertikal di Kota Pahlawan juga melibatkan pihak lain.
Salah satunya adalah PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang tengah menyiapkan proyek hunian berbasis stasiun di kawasan Stasiun Gubeng.
Proyek ini merupakan bagian dari pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD), yang mengintegrasikan hunian dengan akses transportasi publik, khususnya kereta api.
Rencana tersebut juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program nasional 3 juta rumah.
Hunian milik KAI di Surabaya dirancang cukup besar, dengan total sekitar 1.489 unit yang akan dibangun dalam dua tower.
Rinciannya, satu tower setinggi 30 lantai dan tower lainnya 20 lantai, dilengkapi podium komersial untuk menunjang aktivitas penghuni.
Meski demikian, lokasi awal yang diusulkan sempat berada di kawasan Lapangan Mendut.
Namun, karena statusnya sebagai ruang terbuka hijau (RTH), Pemkot Surabaya menyarankan agar pembangunan dialihkan ke lahan lain milik KAI di kawasan Gubeng, seperti Balai Yasa.
Baca juga: Pengembang Mulai Tertarik Kolaborasi Wujudkan Rusunami Model Apartemen di Surabaya
Iman menegaskan, pihaknya kini terus melakukan koordinasi dengan KAI agar pengembangan hunian vertikal di Surabaya tidak saling bersaing secara tidak sehat. Terutama, dari sisi harga jual.
Dengan beberapa proyek yang berjalan bersamaan, Pemkot Surabaya berharap kebutuhan hunian masyarakat, khususnya kalangan berpenghasilan menengah, dapat terpenuhi secara bertahap.
Selain itu, pengembangan hunian vertikal berbasis transportasi publik juga diharapkan mampu mendorong pola hidup yang lebih efisien dan terintegrasi di perkotaan.
“Makanya kita konsolidasi juga sama KAI," ujar Iman. (bob)