Respons Farhan Soal Proyek Dedi Mulyadi: Penyatuan Gedung Sate-Gasibu di Tahap Analisis Lalu Lintas
Muhamad Syarif Abdussalam April 19, 2026 09:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, merespons terkait rencana penataan kawasan Gedung Sate yang disatukan dengan Lapangan Gasibu oleh Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi.

Rencana pengintegrasian kawasan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu itu menelan anggaran Rp 15,8 miliar. Dengan konsep ini, nantinya halaman depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, dan Lapangan Gasibu akan jadi satu kawasan.

Farhan mengatakan, sudah mendapat informasi terkait rencana penataan kawasan Gedung Sate tersebut dan dia pun memastikan rencana itu tidak melanggar Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang berlaku di Kota Bandung.

"Kami sudah melakukan kajian mengenai penataan ulang Jalan Diponegoro sepanjang 130 meter yang akan dijadikan sebagai bagian dari pedestrian untuk Gedung Sate yang akan disambungkan dengan Gasibu. Kalau dilihat dari aturan tata ruang, tidak ada aturan yang dilanggar," ujar Farhan, Minggu (19/4/2026).

Atas hal tersebut, kata Farhan, secara aturan tata ruang ruang, rencana tersebut sudah bisa dilaksanakan. Untuk saat ini, pihaknya tinggal menunggu konsep yang akan dipakai oleh Pemprov Jabar terkait rencana itu.

"Kami sangat mengharapkan Pak Gubernur beserta bagian umum dari pemerintah provinsi, untuk menjelaskan konsepnya secara menyeluruh kepada kita semuanya, agar tidak terjadi perdebatan," katanya.

Farhan mengatakan, dengan adanya rencana tersebut, nantinya akan ada rekayasa arus lalu lintas oleh pihak terkait agar para pengendara yang melintas tidak sampai terhambat.

"Ada rekayasa lalu lintasnya, itu sedang dalam analisis pengendalian lalu lintas," ucap Farhan.

Di sisi lain, Farhan enggan menanggapi banyaknya kritikan dari berbagai pihak terutama pakar terkait dengan rencana itu, karena yang merencanakannya penataan kawasan itu Gubernur Jabar Dedi Mulyadi.

Namun, Farhan menduga bahwa Dedi Mulyadi ingin mengokohkan identitas Jabar melalui penataan kawasan Gedung Sate agar memiliki identitas yang lebih jelas.

"Pak Gubernur kan melihat ini sebagai bagian dari membangun identitas. Kenapa? Karena beliau melihat adanya Hotel Pullman itu dianggap mengganggu identitas dan tata ruang. Nah, setelah kerusakan yang terjadi di situlah maka harus dilakukan penyesuaian," katanya.

Penataan Halaman Gedung Sate

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan salah satu tujuan penataan halaman Gedung Sate yaitu agar aktivitas masyarakat bisa berlangsung lebih leluasa dan lancar. Penataan tersebut juga akan memperlancar lalu lintas depan Gedung Sate atau Jalan Diponegoro.

Dedi mengatakan selama ini, aktivitas seperti demonstrasi di depan Gedung Sate kerap mengganggu lalu lintas. Jalan Diponegoro harus ditutup saat terjadi demonstrasi sehingga mengakibatkan kemacetan. 

Kondisi seperti itu tidak akan terjadi setelah penataan halaman Gedung Sate. Masyarakat tetap bisa menyuarakan aspirasinya di depan gedung pemerintahan Jawa Barat tersebut tanpa hambatan kendaraan. 

Di sisi lain, lalu lintas pun tidak akan terganggu oleh aktivitas masyarakat di depan Gedung Sate karena akan dialihkan memutar ke depan Hotel Pullman. Kendaraan tidak dapat lagi melintas di depan Gedung Sate.

"Nanti ke depan Jalan Diponegoro tetap terbuka, tidak akan terganggu oleh kegiatan di depan Gedung Sate," ujar KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi, Rabu (15/4/2026).

KDM memastikan, penataan halaman Gedung Sate tidak akan mengubah elemen penting yang sudah ada, termasuk batu prasasti Kementerian Pekerjaan Umum di area tersebut.

Penataan halaman Gedung Sate juga akan menambah estetika area tersebut. Tinggi halaman Gedung Sate akan dibuat sama dengan halaman Gasibu sehingga terlihat lebih menyatu. 

"Halamannya nanti terbuka lebih luas dan lebar," kata KDM.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.