Wisuda Ke-95 UIN Imam Bonjol: Tekankan Pentingnya Integritas Moral
Arif Ramanda Kurnia April 19, 2026 10:46 PM

 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG- Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang kembali mengukuhkan kontribusinya dalam dunia pendidikan dengan melantik 1.001 wisudawan pada upacara Wisuda ke-95. Prosesi yang berlangsung khidmat ini digelar selama dua hari, Sabtu (18/4/2026) hingga Minggu (19/4/2026), bertempat di Kampus III Sungai Bangek, Padang.


Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Martin Kustati, dalam pidato ilmiahnya yang bertajuk "Menjadi Imam Mencerah Peradaban", menekankan pentingnya peran baru bagi para lulusan. Ia meminta para sarjana tidak hanya mengejar karier, tetapi bersedia menjadi "jantung" yang memompa moralitas ke dalam urat nadi masyarakat.

Baca juga: Update Harga BBM di Sumatera Barat Minggu 19 April 2026: Pertamax Turbo Tembus Rp 20.250

Menurut Martin, gelar akademik yang diraih mahasiswa di bawah lengkung langit peradaban yang berputar cepat ini membawa tanggung jawab ontologis yang besar. Ia menegaskan bahwa ijazah bukanlah sekadar lembaran kertas tanda kelulusan, melainkan sebuah surat mandat resmi dari peradaban untuk melakukan perubahan.

Dalam orasinya, Rektor mendefinisikan ulang konsep "Imam" yang selama ini identik dengan pemimpin ibadah di masjid. Bagi lulusan UIN IB, menjadi Imam berarti kesiapan untuk menjadi pemimpin pemikiran yang membawa pelita cahaya di tengah pekatnya kabut zaman yang penuh ketidakpastian.

Profesor Martin juga mengingatkan para wisudawan untuk selalu menoleh kembali pada pengorbanan orang tua. Ia menggambarkan bahwa toga kebesaran yang mereka kenakan merupakan kristalisasi dari keringat ayah dan doa-doa panjang ibu yang membelah keheningan malam.

"Jadikanlah ilmu ini sebagai mahkota cahaya yang kelak akan kalian pakaikan di kepala ayah dan ibumu di hadapan Sang Maha Pencipta," ujar Rektor di depan para senat dan orang tua wisudawan.

Pesan ini menekankan bahwa ilmu yang bermanfaat harus dibarengi dengan bakti dan kerendahan hati.

Menghadapi tantangan global, almamater menuntut tiga janji kesetiaan dari para lulusan. Pertama, sarjana diminta menjadi pribadi yang terdepan dalam gagasan dan tidak menjadi "intelektual pembebek" yang hanya mahir meniru narasi bangsa lain tanpa proses kurasi kritis.

Kedua, lulusan diharapkan menjadi insan inspiratif dalam berkreasi dan berinovasi di tengah badai disrupsi teknologi. Konsep Islam Transformatif yang dipelajari di kampus harus menjadi ruh untuk menjahit kecerdasan sains buatan dengan keluhuran nilai-nilai profetik.

Ketiga, Rektor menekankan pentingnya menjadi teladan dalam berperilaku melalui akhlakul karimah. Ia mengingatkan bahwa gagasan setinggi apa pun akan hancur menjadi malapetaka jika tidak diikat oleh integritas moral yang kuat.


Pelaksanaan wisuda hari pertama, Sabtu (18/4/2026), diikuti oleh 491 orang. Kelompok ini terdiri dari 143 lulusan Pascasarjana, 79 dari Fakultas Adab dan Humaniora, 35 dari Fakultas Sains dan Teknologi, serta 234 lulusan dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.


Sementara itu, pada hari kedua, Minggu (19/4/2026), sebanyak 510 wisudawan mengikuti prosesi pelantikan. Rinciannya meliputi 103 orang dari Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK), 93 orang dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), 204 orang dari Fakultas Syariah (FS), serta 110 orang dari Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA).

Baca juga: Jadwal Keberangkatan Haji Sumbar: Kloter 1 Padang Terbang 24 April

Total 1.001 wisudawan ini secara resmi dilepas untuk kembali ke tengah masyarakat guna mengaplikasikan ilmu mereka. Kampus III Sungai Bangek yang menjadi saksi sejarah ini tampak megah menyambut para sarjana pencerah peradaban tersebut.

Rektor juga menitipkan pesan kearifan lokal Minangkabau tentang "Keseimbangan dalam pertentangan". Kebijaksanaan sejati, menurutnya, lahir dari kesanggupan menyeimbangkan antara cita-cita yang tinggi dengan kenyataan bumi yang sering kali berbatu dan penuh kesulitan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.