Oleh: Anshar Saud
Dosen Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin / Pemerhati Ilmu Farmasi Sosial, Perilaku, dan Administratif
TRIBUN-TIMUR.COM - Daengku, kita sama-sama tahu, lelaki Makassar memang pemberani.
“Eja tompi na doang” terkenal di sini.
Artinya, baru setelah dibakar jadi merah, baru terlihat itu udang.
Pepatah ini menggambarkan jiwa nekat dan konsekuen orang kita: bertindak dulu, pikir akibatnya nanti.
Kita bicara soal lelaki Makassar yang viral menenggak sesloki oli.
Tapi Daeng, kamu bukan Iron Man, yang sebagian besar tubuhnya dari baja.
Kamu itu manusia yang kena angin malam sedikit saja bisa masuk angin.
Jadi, sebelum menenggak oli itu, pertimbangkan dulu satu-dua hal dari kawanmu ini.
Dari lelaki Makassar untuk lelaki Makassar.
Oli diperuntukkan buat mesin, bukan untuk manusia.
Mesin kendaraan terbuat dari logam, sedangkan tubuh kita hidup dari triliunan sel yang membentuk jaringan lalu organ, dan sistem organ yang saling bekerja menjaga keseimbangan.
Tidak ada sistem tubuh kita yang bakal tahan dilumasi dengan oli, Daeng.
Tubuh kita bukanlah mesin mekanistik yang bisa diservis dengan cairan gelap itu.
Oli Bukan Ramuan Sakti
Beberapa waktu lalu kita melihat video beberapa anak muda dan dewasa Makassar yang meneguk oli lalu bangga bilang “langsung kuat” sambil push up di depan teman-temannya.
Padahal, sebenarnya efek itu bisa muncul juga kalau mereka baru saja menyeruput sarabba atau kopi panas.
Tren minum oli untuk “stamina” ini jadi semacam uji nyali baru.
Ada kebanggaan tersendiri ketika dianggap paling berani.
Media sosial memperkuatnya.
Orang berlomba membuat video karena merasa spektakuler.
Namun, individu dengan keyakinan seperti ini mesti diajak duduk bersama.
Dari sisi kimia, oli mengandung hidrokarbon; senyawa kimia sintetis seperti kalsium, magnesium, fosfor dan sulfur; dan logam seperti barium, seng serta molibden.
Zat-zat ini berasal dari minyak bumi dan tidak dirancang untuk masuk ke tubuh manusia.
Ketika tertelan, oli bisa menyebabkan mual, muntah, diare, serta iritasi pada lambung dan kerongkongan.
Yang paling berbahaya adalah saat oli “tersalah jalan” masuk ke saluran pernapasan.
Bisa menyebabkan pneumonitis kimia, peradangan paru-paru berat yang bisa berakibat fatal.
Secara umum, dalam jangka panjang, racun dan logam berat dari oli menumpuk di hati, ginjal, dan sistem saraf, menyebabkan kerusakan organ hingga risiko kanker.
Kuat Karena Sugesti
Kalau begitu, dari mana rasa kuat itu datang? Jawabannya bisa jadi karena efek plasebo (placebo effect).
Pengaruh sugesti terjadi karena ada koneksi unik antara pikiran dan tubuh.
Ketika seseorang sangat yakin bahwa apa yang diminumnya bisa membuatnya kuat, otak merespons dengan melepaskan dopamin dan endorfin, yang memberi sensasi segar dan bersemangat.
Apalagi kalau dilakukan dalam suasana ramai, disaksikan teman, dan disoraki “mantap Cappo!”, sensasi euforia itu makin kuat.
Padahal semua hanya reaksi psikologis sementara.
Tubuh tetap rusak, meski kepala merasa bangga.
Kenapa mereka tetap mau mencobanya?
Dalam ilmu farmasi sosial dan perilaku, fenomena ini bisa pula dijelaskan lewat Health Belief Model (Model Keyakinan Kesehatan).
Menurut teori ini, orang mau melakukan sesuatu yang berisiko karena merasa manfaatnya besar (perceived benefit), sementara bahayanya kecil (perceived barrier).
Bagi penenggak oli itu, keyakinannya jelas: oli bikin kuat, bikin jantan, bikin dihormati.
Dukungan teman sebaya (peer pressure) dan budaya lokal yang memuja ketangguhan fisik memperkuat keyakinan itu.
Keyakinan diri (self-efficacy) yang tinggi akhirnya membuat seseorang menyepelekan risiko.
Lalu lahirlah kalimat pembenaran khas: “ah, di dalam pi siatoro’, nanti tubuh juga atur sendiri.”
Dukungan teman sebaya dan budaya lokal yang memuja ketangguhan fisik itulah yang menjadi pemicu tindakan (cue to action) minum oli.
Sayangnya, tubuh bukan motor atau mobil yang bisa “mengatur” oli.
Di dalam sana, zat beracun itu justru merusak, bukan memperbaiki.
Berani Itu Menjaga Diri
Makassar memang dikenal dengan warganya yang tegas, keras kepala, dan pantang mundur.
Tapi keberanian sejati bukan soal menantang maut.
Berani justru ketika mampu berkata “tidak” pada ajakan yang salah.
Kalau ingin kuat, banyak jalan yang lebih terbukti: olahraga teratur, makan bergizi, tidur cukup, dan tetap berpikir positif.
Minum sarabba panas plus telur ayam kampung atau minum kopi hitam tanpa gula jauh lebih bisa membuat tubuh hangat, jantung senang, dan semangat jadi naik dua tingkat.
Tanpa perlu risiko keracunan logam berat.
Daengku, mesin kuat beroperasi karena oli.
Tapi manusia kuat karena akal, badan sehat, dan keyakinan untuk menjaga diri.
Kita semua ini bukan Iron Man.
Syukurlah, karena tubuh manusia jauh lebih rumit, lebih berharga, dan layak dijaga daripada sekadar mesin.(*)