WADUH! Harga Beras dan Migor Naik Tajam, Komoditas Hortikultura dan Protein Hewani Terkoreksi
Anak Agung Seri Kusniarti April 20, 2026 05:20 AM

TRIBUN-BALI.COM - Tekanan harga pangan kembali menguat menjelang akhir April 2026. Sejumlah komoditas utama seperti beras dan minyak goreng (migor) terpantau naik pada Minggu (19/4).

Di balik itu, pemerintah mengakui ada faktor non-pangan yang mulai ikut menekan harga, yakni mahalnya bahan baku plastik untuk kemasan.

Mengacu pada data Panel Harga Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) nasional yang dikelola Bank Indonesia (BI) per pukul 09.19 WIB, kenaikan harga beras terjadi hampir di seluruh segmen.

Beras kualitas bawah I naik 0,69 persen menjadi Rp14.600 per kilogram, sementara kualitas bawah II stagnan di Rp14.550 per kilogram. Beras medium I dan II masing-masing naik 0,31 % ke Rp16.100 dan Rp15.950 per kilogram.

Minyak goreng mencatat kenaikan lebih tajam. Harga minyak goreng curah naik 1 % ke Rp20.300 per kilogram, sementara minyak goreng kemasan bermerek I dan II masing-masing naik 1,08?n 1,34 % menjadi Rp23.500 dan Rp22.650 per kilogram. 

Baca juga: IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas, Ini Sebabnya!

Baca juga: ILDI Badung Gaungkan Semangat Kartini Lewat Gathering dan Aksi Sosial

BELANJA - Konsumen berbelanja di pusat perbelanjaan, Jakarta. Sejumlah komoditas utama seperti beras dan minyak goreng terpantau naik pada Minggu (19/4).
BELANJA - Konsumen berbelanja di pusat perbelanjaan, Jakarta. Sejumlah komoditas utama seperti beras dan minyak goreng terpantau naik pada Minggu (19/4). (Tribun Bali/KONTAN/CAROLUS AGUS WALUYO)


Komoditas lain yang ikut naik antara lain gula premium sebesar 0,5 % ke Rp20.250 per kilogram dan gula lokal 0,26 % ke Rp19.150 per kilogram. Daging sapi kualitas I naik tipis 0,03 % menjadi Rp147.700 per kilogram, serta cabai merah besar naik 0,65 % ke Rp46.300 per kilogram.

Di sisi lain, sejumlah komoditas hortikultura dan protein hewani mengalami koreksi. Cabai rawit merah turun 13,9 % ke Rp71.550 per kilogram, cabai rawit hijau turun 7,55 % ke Rp48.950 per kilogram, dan cabai merah keriting turun 0,77 % ke Rp45.240 per kilogram. Bawang merah turun 2,53 % menjadi Rp 46.150 per kilogram, sementara bawang putih melemah 0,62 % ke Rp39.950 per kilogram.

Daging sapi kualitas II turun 0,07 % menjadi Rp139.850 per kilogram. Daging ayam ras segar terkoreksi 2,65 % ke Rp40.400 per kilogram, sementara telur ayam ras turun 0,77 % ke Rp32.300 per kilogram.

Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menilai pergerakan harga pangan saat ini masih relatif terkendali dan belum menunjukkan lonjakan di luar kewajaran. Hanya saja, ada tekanan biaya lain yang mulai dirasakan pedagang, terutama dari mahalnya bahan baku plastik untuk kemasan.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) APPSI, Ngadiran, mengatakan kenaikan harga yang terjadi di pasar lebih banyak dipicu oleh biaya kemasan dibandingkan harga komoditas itu sendiri.

“Untuk pangan tidak begitu ada kenaikan. Justru yang naik itu dari bahan baku plastik karena plastik harganya sangat mahal, itu yang memengaruhi,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (19/4/2026).

Ia menjelaskan, kondisi ini membuat pedagang berada dalam dilema antara membebankan biaya tambahan kepada konsumen atau menanggungnya sendiri.

“Kalau memberikan kantong plastik, harganya mahal. Itu berpengaruh ke biaya. Kalau disuruh beli, tidak biasa. Kalau tidak, pedagang yang menanggung,” katanya.

Ngadiran pun mengimbau masyarakat untuk mulai membawa tas belanja sendiri guna menekan penggunaan plastik sekaligus membantu pedagang mengurangi beban biaya. (kontan) 

Daya Beli Masyarakat Melemah

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) turut mengungkapkan dampak terhadap konsumsi masyarakat di saat perkiraan harga jual produk mengalami peningkatan.

Harga jual produk diprediksi akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pasalnya, harga bahan baku utama kini sudah mulai melonjak akibat konflik geopolitik yang tak kunjung usai.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin, Erwin Aksa menjelaskan bahwa kenaikan harga barang industri saat ini, akan menyebabkan penurunan daya beli riil.

Sehingga, dengan kondisi seperti ini berpotensi menekan konsumsi rumah tangga. “Kondisi ini berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, yang merupakan kontributor terbesar terhadap PDB Indonesia (lebih dari 50 % ),” ujar Erwin Aksa, Minggu (19/4).

Erwin menuturkan jika kondisi seperti ini akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka dipastikan efeknya meluas ke perlambatan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. “Jika tekanan harga berlangsung cukup lama, maka efeknya bisa meluas ke perlambatan pertumbuhan ekonomi,” kata dia. 

Erwin menjelaskan, jika kondisi seperti ini berlangsung cukup lama, dunia usaha juga akan mengalami dampak ganda atau berlapis. Salah satunya adalah naiknya biaya produksi.

“Dunia usaha juga akan terdampak ganda: di satu sisi biaya produksi naik, di sisi lain permintaan melemah. Ini dapat menyebabkan pelaku usaha menahan ekspansi, bahkan melakukan efisiensi, termasuk pada tenaga kerja,” jelas politisi Golkar. 

Kadin meminta pemerintah melakukan sejumlah upaya yang cepat dan terukur demi menjaga keseimbangan stabilitas harga dengan keberlangsungan usaha. “Kadin memandang diperlukan langkah cepat dan terukur untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan keberlangsungan usaha,” ujar Erwin.

Erwin menuturkan salah satu langkah yang mesti diambil pemerintah adalah menjaga stabilitas harga energi. Terutama BBM dan listrik, karena ini menjadi komponen utama biaya produksi. “Memperkuat daya beli masyarakat, melalui bantuan yang lebih tepat sasaran dan stimulus konsumsi,” kata Erwin.

Pun, Kadin meminta kepada pemerintah memberikan insentif bagi industri, khususnya sektor padat karya. Tujuannya, agar tidak terjadi gelombang pengurangan tenaga kerja. Lebih lanjut, kata Erwin, pemerintah juga mesti menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, untuk meredam tekanan harga bahan baku impor.

Kemudian, Erwin menilai harus ada upaya dalam memastikan kelancaran distribusi dan logistik, agar tidak terjadi tambahan biaya yang memperburuk harga di pasar. “Kadin menilai bahwa kunci utama saat ini adalah menjaga konsumsi domestik tetap kuat, karena itu merupakan penopang utama ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global,” jelas Erwin. (kontan)

Efek Domino Harga Plastik

Pemerintah pun mengonfirmasi adanya efek rambatan dari sektor plastik ke harga pangan. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menyebut gangguan pasokan bahan baku plastik mulai berdampak pada pelaku usaha beras dan gula.

“Dengan adanya gejolak geopolitik, memang ada beberapa yang mengalami kenaikan. Salah satunya plastik karena biji plastik merupakan turunan dari pengolahan minyak bumi dan banyak bersumber dari Timur Tengah,” kata Astawa.

Menurutnya, hasil perhitungan bersama pelaku usaha menunjukkan dampak biaya plastik cukup terasa di tingkat produksi. “Pelaku usaha menyampaikan untuk beras sekitar Rp350 per kilogram, sementara gula sekitar Rp150 per kilogram,” ujarnya.

Kendati demikian, Bapanas menilai fluktuasi harga beras dan gula dalam sebulan terakhir masih terkendali dan belum menunjukkan lonjakan signifikan. Pergerakan harga masih berada dalam kisaran wajar dan tidak menembus kenaikan tinggi.

Astawa menegaskan pemerintah akan memperkuat koordinasi lintas kementerian untuk menjaga pasokan plastik agar tidak semakin menekan harga pangan. 

“Kalau tidak dijaga, harga bisa terkoreksi naik karena dampak Rp 350 per kilo itu terlihat kecil, tapi tetap berpengaruh,” kata dia. (kontan)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.