Prabowo Sudah Pikirkan MBG Sejak 2006, Hashim Djojohadikusumo: Ini Soal Masa Depan Generasi Bangsa!
jonisetiawan April 20, 2026 06:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Di balik sebuah kebijakan besar yang kini mulai dijalankan, tersimpan jejak panjang pemikiran yang tidak banyak diketahui publik.

Jauh sebelum wacana itu menjadi program nasional, bahkan sebelum panggung politik terbentuk, gagasan tersebut ternyata sudah hidup dalam kegelisahan lama tentang masa depan generasi bangsa.

Gagasan Lama yang Baru Terwujud

Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, mengungkap bahwa ide program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya bukanlah konsep baru.

Baca juga: Trauma Kasus Keracunan, Sekolah di Jogja Rutin Pantau Pembuatan MBG: Kami Cek hingga Proses Steam

Menurutnya, Prabowo Subianto telah memikirkan program tersebut sejak tahun 2006 masa ketika dirinya bahkan belum masuk dalam arena politik secara formal.

Hashim menjelaskan, gagasan itu lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi anak-anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi atau stunting.

“Stunting ini adalah yang menyebabkan Prabowo Subianto pada tahun 2006 mencetuskan ide untuk program MBG ini. Ini 2006, berarti 19 tahun lalu, 20 tahun lalu,” ujarnya dalam sebuah acara di Jakarta.

Kekhawatiran yang Datang Lebih Awal dari Politik

Pada masa itu, situasi politik bahkan belum menjadi fokus. Partai Gerindra belum berdiri, dan rencana pembentukan partai pun belum terpikirkan.

Namun, menurut Hashim, kepedulian terhadap ancaman jangka panjang sudah muncul jauh lebih dulu.

“Namun waktu itu Pak Prabowo sudah melihat bahwa stunting merupakan suatu ancaman bagi masa depan bangsa kita,” ucap dia.

POLEMIK MBG - (Ilustrasi)
POLEMIK MBG - (Ilustrasi) Gagasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut sudah muncul sejak tahun 2006. (Instagram @badangizinasional.ri)

Data yang beredar saat itu memperkuat kekhawatiran tersebut. Sekitar 30 persen anak Indonesia mengalami stunting sebuah kondisi yang tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Baca juga: Jawaban BGN Soal Aliran Dana Rp 1 Triliun MBG: Bukan Buat Elite, Ini Buat Rakyat yang Ekonomi Sulit

“Dan sekarang Pak Jaksa Agung, ini sekarang sudah 20 tahun, 20 tahun dari 2006 sekarang jangan-jangan 30 persen dari para pekerja kita, di desa atau di pabrik atau di kota besar menderita stunting.

Coba, dengan IQ rata-rata yang saya dengar 72. Orang-orang yang stunting mereka IQ-nya rata-rata 72 dari manusia yang biasa 100,” kata Hashim.

Program Besar, Tantangan Nyata

Meski kini program MBG telah mulai dijalankan, Hashim tidak menampik bahwa implementasinya masih menghadapi berbagai kendala.

Ia menilai hal tersebut sebagai konsekuensi wajar dari sebuah program besar yang langsung menyasar jutaan penerima.

“Kita lihat memang ada kelemahan-kelemahan, misalnya keracunan, ada timbulnya belatung-belatung dan sebagainya. Tapi saya kira ini suatu hal yang cukup wajar,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa perjalanan program ini masih panjang.

Namun di balik segala kekurangan yang ada, tersimpan satu fakta penting: gagasan tersebut bukan keputusan instan, melainkan buah dari kekhawatiran yang telah tumbuh selama hampir dua dekade.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.