Kasus Siswa SMA Ejek Guru, Bupati Purwakarta Serukan Evaluasi: Harus Disanksi, Ini Mencederai Etika
jonisetiawan April 20, 2026 07:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Gelombang keprihatinan publik tak terbendung ketika sebuah video singkat memperlihatkan retaknya batas antara murid dan guru relasi yang seharusnya dijaga dengan hormat dan etika.

Di tengah sorotan luas itu, suara dari pemerintah daerah pun akhirnya angkat bicara, menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan alarm keras bagi dunia pendidikan.

Keprihatinan Mendalam dari Pimpinan Daerah

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menyampaikan rasa prihatin atas viralnya video yang menunjukkan perilaku tidak pantas sejumlah siswa terhadap seorang guru di lingkungan sekolah.

Baca juga: Sosok Bu Atum, Guru Korban Olok-olok Siswa SMA 1 Purwakarta, Alumni Bongkar Sifat Asli Korban

Sosok yang akrab disapa Om Zein itu menilai kejadian tersebut telah melukai nilai-nilai dasar pendidikan.

"Saya turut prihatin dengan kejadian tersebut. Ke depan, hal seperti ini jangan sampai terulang di sekolah mana pun," ujarnya.

Menurutnya, tindakan para pelajar tersebut bukan hanya persoalan disiplin semata, tetapi juga berpotensi mencoreng nama baik sekolah sekaligus merusak citra dunia pendidikan secara luas.

Rekaman Singkat yang Mengguncang

Kasus ini mencuat dari sebuah video berdurasi sekitar 31 detik yang memperlihatkan sejumlah siswa di dalam kelas melakukan aksi olok-olok terhadap seorang guru perempuan.

Dalam rekaman tersebut, terlihat gestur yang dinilai tidak pantas mulai dari ejekan verbal hingga tindakan yang dianggap melecehkan.

Salah satu adegan yang paling menyita perhatian adalah ketika seorang siswi mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah guru.

Aksi tersebut memicu reaksi keras dari masyarakat karena dianggap melampaui batas norma dan etika dalam dunia pendidikan.

SISWA SMA VIRAL - Insiden viral di SMA Negeri 1 Purwakarta, siswa mengolok-olok guru perempuan di dalam kelas, Dedi Mulyadi beri kritikan.
SISWA SMA VIRAL - Insiden viral di SMA Negeri 1 Purwakarta, siswa mengolok-olok guru perempuan di dalam kelas, Dedi Mulyadi beri kritikan. (Youtube Banjarmasin Post News Video)

Lebih dari Sekadar Pelanggaran Disiplin

Bagi pemerintah daerah, insiden ini mencerminkan persoalan yang lebih dalam yakni krisis pembentukan karakter dan lemahnya pengawasan.

Binzein menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi bersama, bukan hanya bagi sekolah, tetapi juga bagi orang tua dan masyarakat.

"Ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk memperbaiki," ucapnya.

Ia menekankan bahwa pendidikan karakter tidak bisa dibebankan hanya pada institusi sekolah, melainkan membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak.

Baca juga: Siswa SMA di Purwakarta Acungkan Jari Tengah ke Guru, Dedi Mulyadi Ngamuk: Suruh Bersihkan Toilet!

Sanksi Harus Mendidik, Bukan Sekadar Menghukum

Dalam penanganan kasus ini, Bupati Purwakarta menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah, termasuk terkait sanksi bagi siswa yang terlibat. Namun, ia memberi penekanan penting: hukuman harus bersifat edukatif.

Menurutnya, sanksi tidak boleh hanya bertujuan memberi efek jera, tetapi juga harus menjadi sarana pembelajaran agar siswa dapat memperbaiki diri.

Ia juga mendorong agar para siswa mendapatkan pendampingan melalui bimbingan konseling.

"Siswa perlu menjalani konseling agar ke depan bisa lebih baik dalam bersikap dan berperilaku," ujarnya.

Sorotan dari Tingkat Provinsi

Keprihatinan serupa juga datang dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia mengaku telah menerima laporan lengkap terkait kronologi kejadian tersebut dari Dinas Pendidikan.

"Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut dan kronologisnya, saya sudah mendengarkan paparan dari Kepala Dinas Pendidikan," katanya.

Menurut Dedi, langkah awal telah diambil oleh pihak sekolah, termasuk memanggil orang tua siswa yang terlibat. Ia bahkan mengungkapkan bahwa orang tua para siswa menunjukkan penyesalan mendalam.

"Orangtuanya nangis, merasa menyesal atas tindakan anaknya," ujarnya.

Baca juga: Penghasilan Anand, Penjual Es Campur yang Diperas 30 Juta Oleh Oknum Ormas, Baru Lulus SMA

Perdebatan Soal Sanksi: Skorsing atau Pembinaan?

Meski sekolah telah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari, Dedi Mulyadi memberikan pandangan berbeda. Ia menyarankan agar hukuman tersebut dialihkan menjadi kegiatan yang lebih bermanfaat secara langsung.

"Saya memberikan saran, anak itu tidak skorsing selama 19 hari, ini saran. Mudah-mudahan sarannya bisa digunakan, tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah. Menyapu dalam setiap hari dan membersihkan toilet," ucapnya.

Ia bahkan membuka kemungkinan durasi pembinaan berlangsung lebih lama, antara satu hingga tiga bulan, dengan fokus pada perubahan perilaku.

"Prinsip dasar adalah setiap hukuman yang diberikan harus hukuman yang memberikan manfaat bagi pembentukan karakter. Bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan oleh gurunya," pungkasnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga tentang membangun sikap dan nilai. Ketika rasa hormat mulai luntur, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi sekolah melainkan masa depan generasi itu sendiri.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.