Pengepul Sawit di Payung Basel Kaget Ditelepon Sopir, Katanya Harga Dexlite Melonjak
Fitriadi April 20, 2026 11:03 AM

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Susanto alias Codet (35), pengepul sawit di Desa Pangkalbuluh, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kelabakan ketika mendengar harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mendadak naik tinggi pada Sabtu (18/4/2026).

Codet biasa mengisi BBM truk miliknya menggunakan BBM nonsubsidi jenis Dexlite karena kesulitan memperoleh solar bersubsidi karena antrean panjang dan keterbatasan stok di SPBU.

Karena itu Codet memilih membeli BBM nonsubsidi meski harganya lebih mahal dibanding BBM subsidi.

Namun, kenaikan mendadak harga BBM nonsubsidi pada Sabtu (18/4/2026) membuat Codet  terpaksa berhitung ulang.

Codet mau tidak mau harus menyediakan uang berlipat jika tetap membeli BBM nonsubdisi untuk bahan bakar truk pengangkut tandan buah segar (TBS) sawit.

“Kalau pakai subsidi sulit. Antre dari subuh, jam 9 pagi sudah habis. Sementara pekerjaan kami tidak bisa menunggu,” kata Codet dihubungi Bangkapos.com pada Sabtu (18/4/2026).
 
Codet menyoroti bahwa dampak kenaikan BBM nonsubsidi tidak hanya dirasakan kalangan tertentu, tetapi juga pelaku usaha kecil.

“Katanya untuk kendaraan tertentu, tapi kami yang kerja juga kena. Pendapatan tidak besar, tapi biaya operasional naik drastis. Ini sangat menekan,” ujarnya.

Kenaikan biaya tersebut, lanjutnya, berpotensi memicu efek berantai dalam rantai pasok sawit.

Tekanan dari perusahaan dapat berujung pada penurunan harga beli di tingkat pengepul, yang kemudian berdampak ke petani.

“Kalau biaya kami naik, perusahaan bisa tekan harga ke kami. Kami juga terpaksa menekan harga ke petani. Akhirnya petani yang paling dirugikan,” jelasnya.

Ia menggambarkan kondisi saat ini sebagai situasi sulit yang datang bertubi-tubi.

“Sudah jatuh tertimpa tangga. Kerjaan ini kelihatannya enak, tapi risikonya besar. Sekarang benar-benar terasa tercekik,” katanya.

Codet berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan harga BBM agar lebih mempertimbangkan kondisi pelaku usaha kecil di lapangan.

“Harapan kami harga bisa dinormalkan. Kalau naik sedikit masih bisa dimaklumi, tapi jangan setinggi ini. Sesuaikan dengan kondisi kami,” ujarnya.

Codet terkejut saat sang sopir truk miliknya mengabarkan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Dexlite.

“Saya kira naiknya paling seribu dua ribu, ternyata langsung melonjak hampir dua kali lipat. Saya suruh sopir balik dulu karena masih ada sisa,” ujar Codet.

Menurut Codet, lonjakan harga tersebut terjadi secara mendadak tanpa informasi yang memadai, sehingga mengacaukan perhitungan operasional yang telah disusun sebelumnya.

Sebelum kenaikan, harga Dexlite berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per liter. Dengan dana sekitar Rp350.000, ia bisa mendapatkan 25 liter BBM untuk sekali pengisian.

“Biasanya sekali isi 25 liter cukup Rp350 ribu. Dalam sehari bisa habis 25 sampai 40 liter, tergantung jarak. Kalau jauh, biaya bisa sampai Rp600 ribu,” jelasnya.

Kini, harga Dexlite di Pertashop setempat mencapai sekitar Rp24.150 per liter. Dampaknya, biaya operasional harian melonjak signifikan.
 
“Sekarang 25 liter sudah sekitar Rp600 ribu. Kalau sehari habis 40 liter, bisa tembus Rp900 ribu lebih,
bahkan hampir Rp1 juta kalau antar sampai Bangka Barat. Modal BBM saja sudah dua kali lipat, jelas bikin stres,” ungkapnya.

Codet menilai kenaikan kali ini merupakan yang tertinggi selama ia menjalankan usaha angkutan sawit.

“Seumur hidup saya pakai truk, ini kenaikan paling besar, sampai 100 persen. Dampaknya luar biasa, terutama untuk usaha transportasi,” tegasnya. (Bangkapos.com/Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.