TRIBUNSUMSEL.COM - Mengulik kembali rekam jejak Hendrikus Rahayaan, atlet Mixed Martial Arts yang disebut-sebut terlibat dalam penikaman Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei.
Nama Hendrikus dikaitan dengan penangkapan pelaku berinisial, yakni HR (28) dan rekannya FU (36).
Hendrikus dikenal sebagai keponakan dari John Kei mantan preman legendaris dengan julukan The Godfather Jakarta.
Hendrikus Rahayaan merupakan salah satu atlet Mixed Martial Arts (MMA) yang sempat mencuri perhatian.
Ia lahir pada O6 Desember 1997.
Baca juga: Postingan Hendrikus Rahayaan Atlet MMA Sebelum Diduga Terlibat Penikaman Nus Kei Disorot
Jalan menuju atlet profesional dimulainya dengan berlatih keras dimentoring kakeknya sendiri yang kebetulan adalah pelatih ilmu bela diri.
Di bidang olahraga, namanya cukup diperhitungkan. Ia pernah menjuarai kejuaraan Muaythai tingkat nasional, serta meraih sejumlah medali dari cabang wushu dan MMA, termasuk di ajang Pra-PON dan PON.
"Jadi bikin saja, lebih baik kita bikin baku pukul jalanan itu jadi prestasi saja biar jadi kebanggaan keluarga, selain bisa bertahan hidup juga, kita bisa mengharumkan nama daerah," ujar Hendrikus kepada Tribunambon.com. pada 23 Agustus 2023 lalu.
Basic mental by one serta latihan keras, keponakan John Kei itu akhirnya menjadi bintang di kelas bantam One Pride MMA.
M. Ricky Syahputra berhasil ditumbangkan dengan perolehan TKO 22 detik.
Sementara Boido Simanjuntak tunduk pada ronde ke tiga.
Hendrikus pun sangat yakin mampu menjadi atlet berprestasi, dan dia punya harapan besar anak muda Maluku yang sehobi bisa bertarung di ring profesional.
Namun rekam prestasi itu kini kontras dengan dugaan keterlibatannya dalam aksi penikaman brutal terhadap Nus Kei.
Kurang dari dua jam setelah insiden berdarah yang menewaskan Ketua DPD II Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei, aparat kepolisian berhasil mengamankan dua orang terduga pelaku.
Tak butuh waktu lama, Polres Maluku Tenggara resmi mengamankan dua pria yang menjadi terduga pelaku penikaman maut di Bandara Karel Sadsuitubun, Minggu (19/4/2026).
Kabid Humas Polda Maluku, Rositah Umasugi, mengungkapkan bahwa identitas kedua tersangka berinisial HR dan FU.
Belakangan beredar pula tampang kedua pelaku tersebut, salah satunya diduga Hendrikus.
Pria pertama mengenakan kaos hitam dan kalung menjuntai di lehernya.
Baca juga: Sosok Hendrikus Rahayaan Atlet MMA Keponakan John Kei, Punya Hobi Berkelahi Sejak Kecil
Pria kedua mengenakan kaos putih dan berjangut tipis. Masing-masing terpasang kabel ties di tangannya.
Hendrikus Rahayaan diketahui adalah atlet Mixed Martial Arts sekaligus keponakan John Kei, tokoh preman di Jakarta.
Sementara Finis adalah warga biasa.
“Dua terduga pelaku sudah diamankan dan saat ini tengah menjalani pemeriksaan intensif di Satreskrim Polres Maluku Tenggara,” kata Kabid Humas Polda Maluku, Rositah Umasugi, dilansir dari Tribunambon.com.
Menurutnya, pelaku sempat melarikan diri usai melakukan penikaman, namun berhasil ditangkap setelah dilakukan pengejaran yang dipimpin langsung oleh Kapolres.
Saat ini, kedua terduga pelaku telah ditahan dan menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik Satuan Reskrim Polres Maluku Tenggara.
Bersamaan dengan penangkapan tersebut, publik menyoroti jejak digital Hendrikus Rahayaan.
Melalui akun Instagram pribadinya, postingan yang dibagikan Hendrikus pada Senin, (9/3/2026) jadi sorotan karena dianggap sebagai "sinyal" sebelum aksi penyerangan terjadi.
Dalam foto yang memperlihatkan dirinya sedang duduk menghadap sawah, dengan tertulis kalimat yang mengundang kecurigaan besar.
"Dikasih kerjaaan 1 M, Ambil ginjal bintang." tulisnya dalam unggahan video tersebut, dikutip Tribunsumsel.com.
Hendrikus juga mengisyaratkan bahwa dirinya masih mempertimbangkan tawaran tersebut.
"Mikir-mikir dulu," tulisnya pada keterangan postingan.
Warganet ramai-ramai mengaitkan caption tersebut sebagai bukti adanya indikasi pembunuhan berencana atau aksi pesanan kepada Nus Kei.
"Salfok sama tulisan dan caption-nya setelah terduga kasus pembunuhan," tulis akun @aka.bennington.
"Seperti kode dibayar untuk membunuh," timpal akun @amaris.bazoeri.
"Owh 1M gak tuh ?, Berarti ada dong di belakangnya, Kalau pe*MB**Han berencana apa itu hukumannya," kata mshodiqin21.
Ketua DPD II Golkar Kabupaten Maluku Tenggara Agrapinus Rumatora, atau dikenal Nus Kei tewas ditikam di Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur.
Peristiwa nahas itu terjadi ketika Nus Kei tiba di Bandara Karel Sadsuitubun pada Minggu (19/4/2026) siang sekitar pukul 11.10 WIT dari Bandara Internasional Pattimura, Ambon, Maluku.
Kedatangan Nus Kei ke Maluku Tenggara untuk mengikuti musyawarah daerah (Musda) Partai Golkar Maluku Tenggara, Kamis (23/4/2026) mendatang.
Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi, mengungkapkan ketika sampai di depan pintu keluar bandara untuk menemui keluarganya, Nus Kei langsung ditikam oleh orang tidak kenal (OTK).
"Kejadiannya itu terjadi di area pintu keluar Bandara Karel Sadsuitubun,” kata Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi, dikutip dari Kompas.com, Minggu.
OTK tersebut merupakan seorang pria yang memakai jaket merah dan menggunakan masker membawa senjata tajam.
"Korban yang baru saja tiba dari Jakarta dengan pesawat, diserang oleh orang tidak dikenal menggunakan senjata tajam," tambahnya.
Melihat kondisi adiknya, kakak Nus Kei, Antonius Rumatora langsung membanting pelaku.
Setelah itu, Nus Kei sempat lari ke dalam bandara dalam kondisi berlumuran darah, tetapi terjatuh dan sempat memperoleh pertolongan dari petugas di lokasi.
Dengan penuh luka tusukan, Nus Kei langsung dilarikan ke Rumah Sakit Karel Sadsuitubun untuk penanganan medis.
Nahas, korban dinyatakan meninggal dunia setibanya di rumah sakit akibat pendarahan hebat serta luka pada organ vital.
Akibat dari penikaman itu, Nus Kei mengalami empat luka tusuk di bagian dada kanan dan kiri, leher bagian kiri, serta tulang belakang.
Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi mengatakan, pelaku berjumlah dua orang, yakni HR (28) dan FU (36).
Polda Maluku menyatakan kasus ini akan ditangani secara profesional dan meminta masyarakat tetap tenang.
“Untuk motif, sementara masih dilakukan pendalaman oleh penyidik,” tuturnya.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya keluarga besar korban dan simpatisan, untuk menahan diri dan mempercayakan penanganan kasus ini kepada Polri. Jangan ada aksi balasan yang dapat memperkeruh situasi. Saat ini situasi di Maluku Tenggara aman dan kondusif,” ucapnya.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com