Besar Hati! Bu Atun Pilih Memaafkan seusai Dihina 9 Siswa di SMA Purwakarta Saya Doakan
Lulu Adzizah F April 20, 2026 03:42 PM

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Deanza Falevi

- Guru PKN SMAN 1 Purwakarta, Syamsiah, menunjukkan sikap penuh keteladanan usai diduga menjadi korban pelecehan oleh sembilan siswanya. Alih-alih melapor, ia memilih memaafkan dan mendoakan para siswa agar menjadi generasi yang lebih baik.

Peristiwa dugaan pelecehan terhadap seorang guru di SMAN 1 Purwakarta menyita perhatian publik. Namun di balik kejadian tersebut, sikap bijak justru ditunjukkan oleh Syamsiah, guru PKN yang menjadi korban dalam peristiwa itu.

Syamsiah mengaku telah memaafkan para siswa yang terlibat. Bahkan, ia juga mendoakan agar mereka dapat menyadari kesalahan dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik.

"Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya. Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak," ujar Syamsiah atau dikenal dengan nama bu Atun kepada Tribunjabar.id, Senin (20/4/2026).

Ia menegaskan tidak memiliki niat sedikit pun untuk melaporkan para siswa tersebut. Baginya, tujuan utama sebagai pendidik adalah membimbing dan memperbaiki perilaku anak didik, bukan menghukum.

"Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat," katanya.

Menurut Syamsiah, kenakalan siswa tidak bersifat permanen. Ia meyakini setiap anak memiliki peluang untuk berubah menjadi lebih baik, selama diberikan bimbingan dan kesempatan.

"Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses," ujarnya.

Terkait peristiwa di kelas, Syamsiah menjelaskan bahwa dirinya hanya berupaya menegakkan aturan dan menjaga kenyamanan siswa lain saat proses pembelajaran berlangsung. Ia juga berusaha tetap adil dengan menghargai hak seluruh siswa.

Dalam momen tersebut, ia mengaku tidak mengetahui bahwa aksinya direkam oleh siswa hingga akhirnya video itu viral di media sosial.

"Saya tidak tahu kalau direkam. Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama. Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain," ujarnya.

Meski sempat merasa sedih, Syamsiah berusaha menguatkan diri melalui nilai-nilai keimanan yang diyakininya.

"Sedih itu manusiawi, tapi keimanan saya jadikan obat untuk menyembuhkan luka hati, agar anak-anak saya selamat dunia akhirat," ucapnya.

Sebagai guru yang telah mengabdi sejak 2003, ia mengaku baru pertama kali mengalami kejadian seperti ini. Namun hal tersebut tidak mengubah komitmennya dalam mendidik dengan pendekatan karakter.

Ia juga menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu, yang menurutnya harus menjadi dasar utama bagi setiap siswa.

"Adab itu hal utama. Saya selalu tanamkan pendidikan karakter, tapi mungkin belum sepenuhnya sampai. Tugas guru adalah terus sabar dan membimbing," katanya.

Syamsiah berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, sekaligus momentum untuk memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah.

"Saya sayang kepada siswa. Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak," ujarnya.(*)

 



#nasib9siswa #penghina #guru #smapurwakarta #viraldimediasosial

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.