Sosok Sampurno, Kepala Desa di Lumajang yang Disebut Sakti Usai Dikeroyok dan Dibacok Belasan Orang
Indry Panigoro April 20, 2026 05:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut ini adalah sosok Sampurno.

Nama Sampurno saat ini tengah jadi sorotan publik.

Itu setelah dirinya mengalami serangan brutal oleh sekelompok orang.

Sampurno merupakan Kepala Desa Pakel, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Ia menjadi korban pengeroyokan dan pembacokan oleh belasan pelaku. Namun beruntung ia tetap selamat.

Alih-alih membalas, Sampurno memilih menyelesaikan persoalan tersebut melalui pendekatan kekeluargaan dan jalur restorative justice.

Profil Singkat Sampurno

Nama: Sampurno

Jabatan: Kepala Desa Pakel, Gucialit, Lumajang

Usia: Sekitar 45 tahun

Karakter: Religius, dekat dengan warga, mengedepankan musyawarah dan nilai keagamaan dalam menyelesaikan konflik

Kronologi Kejadian

Peristiwa bermula saat Sampurno bersama istri dan cucunya mendatangi seorang bernama Dani untuk meminjam uang, karena sebelumnya Dani disebut memiliki dana yang bisa dipinjamkan.

Namun, setibanya di lokasi, mereka tidak mendapat respons yang jelas hingga merasa dipermalukan.

Beberapa waktu kemudian, keduanya bertemu di sebuah pengajian di Kecamatan Ranuyoso pada 14 April 2026. Saat itu, Sampurno mengaku menegur Dani karena dinilai kerap merendahkan orang kecil.

Tak terima ditegur, Dani diduga memicu penyerangan dengan melibatkan sekitar 15 orang untuk menghabisi Sampurno.

Serangan terjadi di kediaman Sampurno. Para pelaku datang menggunakan dua mobil dan membawa senjata tajam. Ia mengaku diserang dari berbagai arah depan, samping, hingga belakang dengan sasaran kepala dan tubuh.

Aksi selamatnya dari serangan tersebut membuat banyak warganet menyebutnya “sakti”. Namun, Sampurno menolak anggapan itu.

Ia menegaskan dirinya hanya manusia biasa dan meyakini keselamatannya merupakan pertolongan Tuhan.

Ia juga menegaskan tidak menggunakan benda-benda tertentu seperti cincin atau sabuk sebagai pelindung.

Pilih Memaafkan, Utamakan Jalan Damai

Meski menjadi korban kekerasan, Sampurno mengaku tidak menyimpan dendam. Ia justru ingin menyelesaikan persoalan ini secara damai dan memberi contoh nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, ajaran agama harus diwujudkan dalam sikap memaafkan dan menjaga persaudaraan, bukan sekadar identitas.

Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran agar konflik tidak diselesaikan dengan kekerasan, melainkan melalui klarifikasi dan dialog yang baik.

Sampurno juga menyatakan siap mengikuti proses hukum yang berjalan, namun tetap menginginkan penyelesaian damai, serta mendoakan para pelaku mendapat hidayah dan menyadari kesalahan mereka.

Sosoknya Makin Dikenal

Sosoknya pun kian terkenal, karena petinggi desa ini masih tegap berdiri usai diserang gerombolan warga. Bahkan, netizen menyebutnya sebagai orang sakti.

Sampurno mengungkapan hal itu bermula ketika mengajak istri dan cucu mendatangi kediaman Dani untuk meminjam uang. Sebab yang bersangkutan sempat bilang punya duit yang bisa di utang.

"Saya bawa sertifikat lima, bawa duren. Sampai disana bilang sakit, wes balik. Malu kami, kalau bilang tidak ada tidak akan kesana ya. Ditelpon tidak di angkat di WA tidak dibales, kurang ajar," ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Secara tidak sengaja ketemu mereka bertemu di lokasi pengajian di Kecamatan Ranuyoso Lumajang pada 14 April 2026. Sampurno mengaku langsung memarahi Dani. "Tak marahi dia agar tidak selalu menghina orang kecil. Sering itu menyepelekan orang kecil," katanya.

Setelah itu, Sampurno mengungkapkan pengusaha tebu tersebut menyuruh 15 orang untuk membunuhnya, karena tidak terima saat diomeli di lokasi pengajian. "Tidak terima akhirnya menyuruh 15 orang untuk bunuh saya," kata dia.

Sampurno ingat betul ketika gerombolan orang datang menggunakan dua mobil di rumahnya.

Kata dia, mereka tiba sambil membawa senjata tajam. "Sadis, saya diam dibacoki. Saya sendiri dua orang di rumah takut. Semua bawa Sajam, kepruk endas (kepala), dari samping depan dan belakang," ungkapnya.

Sampurno membantah disebut sakti, dia menilai dirinya hanya manusia biasa.

Kata dia, kebal saat dikeroyok dan dibacok gerombolan orang kemarin atas pertolongan tuhan.

"Saya tidak Pakai cincin dan tidak pakai sabuk. Seandainya pakai ini insyallah tambah tidak karu-karuan. Saya yakin Allah menolong orang jujur dan tidak munafik," paparnya.
 
Meski demikian, Sampurno mengaku tidak dendam terhadap para pelaku, bahkan berencana menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan.

"Betul sekali. Saya akan mencontohi bahwa orang muslim harus menunjukan agama itu bukan cuma KTP. Alquran ditaruh di hati sampai mati, isi salawat dan memaafkan saudara saudara yang telah khilaf," bebernya.

Atas peristiwa ini, Sampurno berharap bisa menjadi pelajaran hidup bagi semua orang agar menyelesaikan salah faham dengan tabayun baik-baik. "Tidak usah sampai membunuh, kasihan keluarga kita. Saya mohon maaf memang saya yang salah kepada Mas Dani," ucapnya.

Sampurno berharap para pelaku penganiaya dan pembacokan tersebut segera diberi hidayah olah tuhan, serta menerima segala konsekuensinya. "Nerimo hukum berjalan, tapi tetap saya minta damai di Padepokan Arya Wiraraja Pendapa," tuturnya.

Peristiwa Pengeroyokan

- Tanggal Kejadian: Rabu, 15 April 2026

- Lokasi: Rumah pribadi Sampurno di Desa Pakel, Lumajang.

- Pelaku: Sekitar 10–15 orang, menggunakan senjata tajam seperti celurit dan keris

- Kondisi: Sampurno tidak mengalami luka serius meski dibacoki belasan orang.

Sikap dan Pernyataan Sampurno

- Tidak ingin pelaku ditahan: Ia meminta agar kasus diselesaikan secara kekeluargaan, tanpa proses hukum yang panjang.

- Bantah isu kesaktian: Meski selamat dari serangan brutal, Sampurno menegaskan bahwa dirinya bukan “kebal” atau sakti, melainkan hanya keberuntungan dan pertolongan medis.

- Pesan moral: Ia menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat dan menganggap insiden ini sebagai pelajaran berharga dalam kepemimpinan desa

Citra Sosial

- Dekat dengan warga: Sampurno dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial, termasuk pengajian serta salawat bersama.

- Pemimpin yang mengedepankan perdamaian: Sikapnya yang memilih restorative justice menunjukkan komitmen pada nilai kekeluargaan dan harmoni sosial.

- Sampurno bukan hanya seorang kepala desa, tetapi juga figur yang mencerminkan kepemimpinan berbasis nilai kekeluargaan, religiusitas, dan perdamaian.

- Meski menghadapi ancaman serius, ia tetap menampilkan sikap bijak dengan mengutamakan penyelesaian damai, sehingga memperkuat citranya sebagai pemimpin desa yang mengayomi masyarakat.

(*/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.