Tampang Hendrikus Rahayaan Terduga Pelaku Penikaman Nus Kei di Bandara, Atlet Berprestasi
Fadri Kidjab April 20, 2026 03:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Sosok Hendrikus Rahayaan kini menjadi pusat perhatian publik setelah terlibat dalam insiden yang menewaskan tokoh politik Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei.

Hendra, sapaan akrabnya, yang seharusnya dikenal karena medali dan prestasinya di atas ring, kini justru harus berhadapan dengan hukum sebagai terduga pelaku utama penikaman.

Potret tampang Hendrikus saat diamankan menunjukkan raut wajah yang dingin, kontras dengan citranya sebagai seorang petarung profesional yang kerap mengharumkan nama daerah.

Pria kelahiran Watran, Kota Tual, 6 Desember 1997 ini, terlihat mengenakan pakaian sederhana saat digelandang petugas, tak lama setelah aksi nekatnya di pintu keluar Bandara Karel Sadsuitubun. Keberanian yang biasanya ia tunjukkan dalam arena resmi MMA dan Muaythai, kali ini berujung pada tindakan fatal yang merenggut nyawa orang lain.

Karier olahraga Hendrikus sebenarnya berada di puncak yang menjanjikan sebelum tragedi ini terjadi pada Minggu (19/4/2026).

Ia tercatat sebagai alumni Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang yang aktif dalam berbagai kejuaraan bela diri jarak dekat. 

Banyak pihak menyayangkan bagaimana seorang atlet berprestasi seperti Hendra bisa terjerumus dalam pusaran dendam lama. Sebagai pemuda yang dibesarkan di Desa Hollat, Kei Besar, ia sempat menjadi inspirasi bagi banyak atlet muda di wilayahnya. 

Hendrikus Diringkus Polisi

Hendrikus Rahayaan (28), atlet MMA
PEMBUNUHAN NUS KEI - Hendrikus Rahayaan (28), atlet MMA yang menusuk Agrapinus Rumatora alias Nus Kei hingga tewas pernah membuat postingan soal rencana pembunuhan. (Kolase Instagram)

Polisi berhasil mengidentifikasi Hendrikus bersama rekannya, Finansius Ulukyanan (36), hanya dalam waktu singkat setelah peristiwa terjadi.

Saat ini, Hendrikus masih menjalani pemeriksaan intensif untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara tersebut.

Ketegangan sempat mewarnai area bandara saat Hendrikus melancarkan aksinya di tengah kerumunan keluarga korban yang sedang menjemput. Dengan menggunakan masker dan jaket, ia mencoba menyamarkan identitasnya. 

Upaya kepolisian dalam mengamankan Hendrikus dilakukan secara terukur guna menghindari konflik susulan antarkelompok.

Rekam Jejak Prestasi Hendrikus

Hendrikus Rahayaan bukanlah nama baru dalam kancah bela diri Maluku dan nasional. Berdasarkan catatan prestasinya, ia merupakan peraih medali emas cabang olahraga Wushu pada Pekan Olahraga Provinsi (Poprov) Maluku.

Tak berhenti di situ, dominasinya berlanjut ke kancah nasional dengan menyabet dua medali emas di ajang bergengsi One Pride MMA, yang merupakan barometer tertinggi olahraga MMA di Indonesia.

Selain sukses di ring profesional, Hendra juga menunjukkan taji di kompetisi amatir tingkat tinggi.

Ia tercatat pernah meraih medali emas pada Pra-PON dan menyumbangkan medali perunggu untuk Maluku pada ajang PON. Namun sayangnya kini dari semua prestasi di bidang olahraga bela diri jarak dekat itu, Hendrikus justru menjadi pelaku penusukan Nus Kei menggunakan senjata tajam.

Keahliannya dalam Muaythai dan teknik striking yang mumpuni membuatnya menjadi lawan yang disegani di atas ring.

Motif Dendam dan Unggahan Kontroversial

Foto Nus Kei. Agrapiun Rumatora
NUS KEI DITIKAM -- Foto Nus Kei. Agrapiun Rumatora, tewas ditikam di Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur, Minggu (19/4/2026). (Istimewa/KompasTV

Dibalik sosoknya sebagai atlet, Hendrikus ternyata menyimpan bara dendam yang mendalam. Kapolres Maluku Tenggara, AKBP Rian Suhendi, mengungkapkan bahwa motif utama dari aksi nekat ini adalah dendam terkait peristiwa masa lalu. '

"Motifnya adalah dendam. Kedua pelaku meyakini bahwa korban merupakan otak di balik pembunuhan saudara mereka, Fenansius Wadanubun alias Dani Hollat, yang tewas di dekat Apartemen Metro Galaxy Kalimalang, Bekasi, beberapa tahun lalu," kata AKBP Rian Suhendi seperti dikutip dari TribunnewsBogor.com, Senin.

Dendam ini diduga merupakan buntut dari konflik lahan dan bentrokan kelompok yang terjadi pada Oktober 2023 silam di Bekasi.

Hendrikus dan keluarganya meyakini adanya keterlibatan Nus Kei dalam insiden yang menewaskan kerabat mereka. Hal inilah yang diduga memicu Hendrikus untuk merencanakan aksi balas dendam yang berujung pada peristiwa berdarah di bandara.

Pada postingannya di Juni 2025, ia memposting video dirinya sedang tanding di atas ring. Namun pada unggahannya itu, Hendrikus menyinggung soal pembunuh. Ia menuliskan narasi yang cukup provokatif di dalam video tersebut.

"Kalau teknik kurang, brutal itu harus. Sang pembantai tidak pernah menunggu," tulisnya di video.

Tidak hanya itu, ia juga menuliskan caption yang secara eksplisit menyebutkan perihal pembunuh.

"Jangan ngaku pembunuh, kalau ujung-ujungnya bunuh diri sendiri," tulisnya.

Unggahan-unggahan ini kini menjadi bukti digital yang didalami polisi untuk melihat sejauh mana perencanaan pembunuhan tersebut telah dilakukan oleh sang atlet.

Hendrikus Rahayaan bersama dengan Finansius Ulukyanan (36) ditangkap setelah melakukan penusukan terhadap Nus Kei di pintu keluar Bandara Karel Sadsitubun, Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, Minggu (19/4/2026) sekitar pukul 11.25 WIT.

Padahal Nus Kei yang merupakan Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara itu baru tiba dari Jakarta dan hendak menuju area terminal bandara.

Nus Kei diketahui datang ke Maluku Tenggara dalam rangka menghadiri kegiatan internal partai. Nus Kei akan menghadiri musda Golkar. Namun, langkahnya terhenti tepat saat ia hendak menemui keluarganya yang sudah menunggu di area penjemputan.

Ketika sampai di depan pintu keluar bandara, Nus Kei langsung ditikam oleh orang tidak kenal (OTK). OTK tersebut merupakan pria berjaket merah dan menggunakan masker, yang kemudian teridentifikasi sebagai Hendrikus. Serangan mendadak itu membuat situasi bandara yang semula tenang berubah menjadi mencekam.

Pada momen tersebut, kakak Nus Kei, Antonius Rumatora langsung membanting pelaku. Antonius berusaha melindungi adiknya dan melumpuhkan penyerang. Namun, pelaku melawan dan melarikan diri dari dekapan Antonius di tengah kepanikan massa.

Setelah itu, Nus Kei sempat lari ke dalam bandara, tetapi terjatuh dan sempat memperoleh pertolongan dari petugas di lokasi. Luka yang dideritanya ternyata sangat parah. Nus Kei lantas dilarikan ke Rumah Sakit Karel Sadsuitubun untuk penanganan medis secepat mungkin.

Nahas, korban dinyatakan meninggal dunia setibanya di rumah sakit akibat pendarahan hebat serta luka pada organ vital. Kepergian tokoh politik ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan simpatisannya. Sementara itu, pengejaran terhadap pelaku langsung dilakukan oleh tim gabungan.

Kedua pelaku penikaman berinisial Hendrikus Rahayaan (28) alias Hendra dan Finansius Ulukyanan (36) alias Finis ditangkap kurang dari dua jam setelah insiden.

Polisi masih mendalami peran masing-masing pelaku dan motif di balik penikaman yang menewaskan Nus Kei. Meski motif dendam sudah mencuat, penyidik ingin memastikan apakah ada pihak lain yang menginstruksikan aksi tersebut. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.